Inflasi CPI AS Agustus Naik 2,9% YoY, Klaim Pengangguran Sentuh Level Tertinggi 4 Tahun
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Data terbaru ekonomi Amerika Serikat kembali menimbulkan tanda tanya bagi Federal Reserve. Inflasi konsumen bulan Agustus mencatat kenaikan tahunan (yoy/year on year) 2,9%, sementara klaim tunjangan pengangguran melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, memberi sinyal kontras menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan depan.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), Kamis (11/9/2025) melaporkan, Consumer Price Index (CPI) naik 0,4% secara bulanan, kenaikan terbesar sejak Januari, dan mendorong inflasi tahunan ke 2,9%. Angka ini sesuai dengan ekspektasi, namun lebih tinggi dari perkiraan bulanan 0,3%. Core CPI—yang mengecualikan pangan dan energi—naik 0,3% bulan lalu dan 3,1% tahunan, sejalan dengan proyeksi.
Baca Juga
Inflasi PPI AS Melunak, Peluang Pemangkasan Bunga Fed Kian Terbuka
Di sisi lain, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran mingguan naik menjadi 263.000 untuk periode yang berakhir 6 September. Kenaikan 27.000 dari minggu sebelumnya ini jauh di atas perkiraan 235.000, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2021.
Pasar langsung merespons positif dengan reli saham, lantaran data tenaga kerja yang melemah memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Menurut CME FedWatch, peluang cut 0,25% hampir 100%, sementara peluang cut lebih agresif 0,5% juga meningkat tipis.
“Laporan CPI hari ini kalah penting dibanding lonjakan klaim pengangguran,” tulis Seema Shah, Chief Global Strategist di Principal Asset Management, seperti dikutip CNBC. “Jika ada yang berubah, justru klaim pengangguran bisa membuat Powell memberi sinyal bahwa serangkaian pemangkasan suku bunga akan segera dilakukan, ” tambahnya.
Baca Juga
Tingkat Pengangguran 4,3%, Ekonomi AS Berada di Ambang Resesi
Kenaikan CPI terutama dipicu biaya perumahan (+0,4%), harga pangan (+0,5%), serta energi (+0,7%) dengan bensin naik 1,9%. Beberapa ekonom menilai kenaikan ini juga dipengaruhi tarif impor Presiden Donald Trump, meski inflasi keseluruhan tetap relatif terkendali.

