CPI AS Juli Naik 2,7% YoY, Lebih Rendah dari Perkiraan
Poin Penting
• CPI naik 0,2% secara musiman untuk bulan Juli dan 2,7% secara tahunan.
• CPI inti, tidak termasuk pangan dan energi, naik 0,3% per bulan dan 3,1% dari tahun sebelumnya.
• Setelah laporan ini, pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September.
• Tarif impor terlihat memengaruhi beberapa kategori harga, namun kategori lain yang biasanya terimbas bea impor tidak menunjukkan reaksi signifikan.
WASHINGTON, investortrust.id – Kenaikan CPI AS secara tahunan (yoy) pada Juli sedikit lebih rendah dari perkiraan, dengan dampak tarif Presiden Donald Trump yang terlihat relatif moderat.
Baca Juga
CPI naik 0,2% secara musiman pada Juli dan 2,7% secara tahunan, sesuai laporan BLS pada Selasa. Angka ini dibandingkan dengan perkiraan Dow Jones masing-masing 0,2% dan 2,8%. CPI inti naik 0,3% per bulan dan 3,1% per tahun, dibandingkan perkiraan 0,3% dan 3%. The Fed biasanya memandang CPI inti sebagai indikator tren jangka panjang yang lebih baik. Secara bulanan, ini merupakan kenaikan inti terbesar sejak Januari, dan secara tahunan tertinggi sejak Februari.
Kenaikan biaya hunian sebesar 0,2% menjadi pendorong utama CPI, sementara harga pangan stagnan dan energi turun 1,1%. Harga kendaraan baru yang sensitif terhadap tarif tetap tidak berubah, tetapi mobil dan truk bekas naik 0,5%. Layanan transportasi dan perawatan medis masing-masing naik 0,8%.
Pasar berjangka saham menguat pasca laporan, imbal hasil obligasi AS cenderung turun, dan taruhan pemangkasan suku bunga The Fed pada September meningkat.
Pengaruh tarif terlihat pada beberapa kategori. Perabot rumah tangga dan perlengkapan naik 0,7% setelah naik 1% pada Juni. Namun, harga pakaian hanya naik 0,1% dan harga komoditas inti naik 0,2%. Buah dan sayuran kaleng, yang umumnya diimpor dan sensitif terhadap tarif, tercatat stagnan.
“Tarifnya ada di data, tapi belum ada tanda-tanda lonjakan ekstrem,” ujar Jared Bernstein, mantan ekonom Gedung Putih yang pernah menjabat di bawah Presiden Joe Biden, kepada CNBC.
Laporan ini dirilis di saat krusial bagi ekonomi AS dan BLS, yang tengah menjadi sorotan Trump karena dianggap memiliki bias politik terhadapnya. Trump memecat kepala BLS sebelumnya usai laporan payroll non-pertanian Juli yang lemah awal bulan ini, dan pada Senin menyatakan akan menominasikan E.J. Antoni—pengkritik lembaga itu—sebagai kepala baru.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Trump Pecat Pejabat Biro Statistik
BLS sendiri terhambat pemangkasan anggaran dan staf, serta menghentikan pengumpulan data di sejumlah kota. Akibatnya, sebagian data harus diestimasi, memunculkan pertanyaan soal akurasi dan kredibilitas.
Di tengah dinamika politik ini, The Fed memantau ketat data inflasi untuk mempertimbangkan langkah suku bunga pada September.
“Inflasi memang naik, tapi tidak setinggi yang dikhawatirkan,” kata Ellen Zentner, Chief Economic Strategist di Morgan Stanley Wealth Management, seperti dikutip CNBC. Dalam jangka pendek, menurut dia, pasar akan menyambut data ini karena memberi ruang bagi The Fed untuk fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja dan tetap membuka opsi pemangkasan suku bunga September. Dalam jangka panjang, kemungkinan kenaikan harga belum selesai karena tarif masih merambat di perekonomian.
Baca Juga
Pejabat The Fed Michelle Bowman Dorong Tiga Kali Pemangkasan Suku Bunga 2025
Isu utamanya adalah apakah tarif hanya memicu kenaikan harga satu kali atau memunculkan tren inflasi berkepanjangan. Sebagian besar ekonom menilai dampaknya bersifat sementara, namun cakupan tarif Trump yang luas memicu kekhawatiran efeknya bisa bertahan lebih lama.

