Tingkat Pengangguran 4,3%, Ekonomi AS Berada di Ambang Resesi
Tingkat Pengangguran 4,3%, Ekonomi AS Berada di Ambang Resesi
Poin Penting
- Tingkat pengangguran AS naik ke 4,3%, tertinggi sejak 2021.
- Payrolls hanya bertambah 22.000 pekerjaan pada Agustus, jauh di bawah ekspektasi 75.000.
- Revisi data menunjukkan ekonomi kehilangan pekerjaan di Juni untuk pertama kalinya sejak Desember 2020.
- Ekonom menilai kebijakan tarif dan pemangkasan anggaran Trump sebagai faktor utama pelemahan pasar tenaga kerja.
WASHINGTON, investortrust.id – Pasar tenaga kerja Amerika Serikat kehilangan momentum tajam pada Agustus. Tingkat pengangguran naik ke 4,3%, level tertinggi dalam hampir empat tahun, sementara penciptaan lapangan kerja jauh di bawah ekspektasi. Data ini memperkuat sinyal Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan 16–17 September mendatang.
Baca Juga
Klaim Pengangguran Meningkat, Pasar Tenaga Kerja AS Kian Rapuh
Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), Jumat (5/9/2025), melaporkan, payrolls nonpertanian hanya bertambah 22.000 pekerjaan pada Agustus, anjlok dari revisi naik 79.000 di Juli. Revisi data juga menunjukkan penurunan 13.000 pekerjaan pada Juni, bukan kenaikan 14.000 seperti dilaporkan sebelumnya. “Ekonomi berjalan sedekat mungkin dengan jurang resesi,” ujar Christopher Rupkey, kepala ekonom FWDBONDS, seperti dikutip Reuters
Revisi ini mengonfirmasi tren melemah yang ditandai dengan pemangkasan besar pada data Mei dan Juni dalam laporan Juli, yang mendorong Trump memecat komisioner BLS, Erika McEntarfer. Trump menuduhnya, tanpa bukti, memanipulasi data ketenagakerjaan.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Trump Pecat Pejabat Biro Statistik
Para ekonom mengaitkan revisi tersebut dengan model “birth-and-death” yang digunakan BLS untuk memperkirakan jumlah pekerjaan yang hilang atau tercipta akibat perusahaan tutup atau buka pada bulan tertentu.
Trump pada Jumat tidak berkomentar langsung soal laporan ketenagakerjaan, namun kembali menegaskan keluhannya terhadap Ketua The Fed Jerome Powell terkait tingginya biaya pinjaman.
“Jerome ‘Too Late’ Powell seharusnya menurunkan suku bunga sejak lama. Seperti biasa, dia ‘terlalu terlambat!’” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
E.J. Antoni, pilihan Trump untuk memimpin BLS, pernah menulis opini yang mengkritik lembaga tersebut bahkan menyarankan agar laporan ketenagakerjaan bulanan ditangguhkan. Antoni dipandang tidak memenuhi kualifikasi oleh ekonom lintas spektrum politik.
Tarif impor Trump telah mendorong tarif rata-rata nasional ke level tertinggi sejak 1934 dan memicu kekhawatiran inflasi, membuat bank sentral AS menahan pemangkasan suku bunga. Namun, ketidakpastian dagang kembali meningkat setelah pengadilan banding AS pekan lalu memutuskan banyak tarif tersebut ilegal.
Kelemahan
Payrolls Agustus berpotensi direvisi lebih tinggi karena hitungan awal cenderung bias lemah akibat faktor musiman. Namun, pertumbuhan lapangan kerja tetap melemah signifikan, rata-rata hanya 29.000 per bulan dalam tiga bulan terakhir, dibanding 82.000 pada periode sama tahun 2024.
Pertumbuhan lambat ini kemungkinan diperkuat ketika BLS pada Selasa merilis perkiraan revisi awal tingkat pekerjaan untuk 12 bulan hingga Maret. Berdasarkan data Quarterly Census of Employment and Wages (QCEW), ekonom memperkirakan tingkat pekerjaan bisa direvisi turun hingga 800.000.
Sebagian besar pekerjaan baru pada Agustus berasal dari sektor kesehatan yang menambah 31.000 payrolls, namun masih di bawah rata-rata bulanan 42.000 selama setahun terakhir. Industri bantuan sosial menambah 16.000 posisi. Namun data pemerintah pekan ini menunjukkan lowongan pekerjaan di kedua sektor itu turun tajam pada Juli.
Payrolls pemerintah federal turun 15.000 dan sejak Januari sudah berkurang 97.000 akibat pemangkasan anggaran besar. Penurunan lebih tajam diperkirakan terjadi Oktober setelah pekerja yang menerima pesangon keluar dari daftar gaji September.
Sektor manufaktur kehilangan pekerjaan untuk bulan keempat berturut-turut, menyoroti dampak tarif. Kerugian pekerjaan juga terjadi di perdagangan grosir, informasi, jasa keuangan, konstruksi, serta jasa profesional dan bisnis.
Namun, upah masih menjadi titik terang pasar tenaga kerja. Rata-rata pendapatan per jam naik 0,3% pada Agustus, sama dengan Juli. Dalam 12 bulan terakhir hingga Agustus, upah naik 3,7% setelah 3,9% pada Juli. Tetapi penurunan jam kerja memicu kekhawatiran prospek pertumbuhan.
“Berita ini kemungkinan lebih banyak menimbulkan pertanyaan tentang prospek pertumbuhan daripada kebijakan Fed. Dengan data Agustus ini, jam kerja sektor swasta tampak menyusut sekitar 0,5% secara tahunan kuartal ini. Untuk saat ini, kami cenderung lebih berhati-hati soal prospek pertumbuhan kuartal berikutnya,” tutur Michael Feroli, kepala ekonom J.P. Morgan.
Pasar keuangan memperkirakan Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16-17 September, dengan dua kali lagi penurunan serupa pada sisa pertemuan 2025. Fed sejak Desember mempertahankan suku bunga acuan overnight pada kisaran 4,25%-4,50%.
Baca Juga
Powell Indikasikan Kemungkinan Pemangkasan Suku Bunga, tapi Tetap ‘Hati-hati’
Saham Wall Street diperdagangkan lebih rendah. Dolar melemah terhadap sekeranjang mata uang. Imbal hasil obligasi AS turun.
Tingkat pengangguran naik dari 4,2% pada Juli. Survei rumah tangga menunjukkan 436.000 orang masuk angkatan kerja, namun hanya 288.000 yang mendapat pekerjaan.
Ekonom skeptis terhadap lonjakan angkatan kerja, mengingat pemerintahan Trump telah mengakhiri status hukum sementara bagi ratusan ribu imigran. Lebih banyak orang mengalami pengangguran jangka panjang pada Agustus.
Rata-rata durasi pengangguran melonjak ke 24,5 minggu, terpanjang sejak April 2022, dari 24,1 minggu pada Juli. Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan permanen juga meningkat.
“Pasar tenaga kerja sudah mencapai titik stagnan,” ujar Nicole Cervi, ekonom di Wells Fargo.

