Pasar Asia Positif, Investor Waspadai Ketidakpastian Politik Jepang
Poin Penting
- Nikkei 225 naik 0,95% setelah PM Jepang Shigeru Ishiba umumkan pengunduran diri.
- Yen melemah ke 148,33 per dolar, mencerminkan ketidakpastian politik.
- Kospi +0,15%, Kosdaq +0,47%, ASX 200 Australia turun 0,38%.
- Investor menunggu data perdagangan Tiongkok Agustus dan rilis inflasi AS.
TOKYO, investortrust.id - Pasar Asia-Pasifik dibuka menguat pada Senin (8/9/2025), dengan Nikkei 225 melonjak 0,95% setelah Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu. Ishiba mundur di bawah tekanan politik usai kekalahan dalam pemilu nasional akhir 2024, memicu fase baru ketidakpastian politik di Jepang.
Baca Juga
Yen Jepang melemah 0,64% ke 148,33 per dolar AS, sebuah sinyal pasar merespons ketidakpastian transisi kepemimpinan. “Jepang kini memasuki periode ketidakpastian berkepanjangan menjelang kuartal IV 2025. Meski LDP biasanya otomatis menunjuk perdana menteri baru, oposisi berpotensi membentuk koalisi kandidat saingan,” tulis analis dari BMI, unit Fitch Solutions, seperti dikutip CNBC.
Di kawasan lain, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,15% sementara Kosdaq melonjak 0,47%. Futures Hang Seng Hong Kong berada di 25.344, sedikit di bawah penutupan terakhir, sedangkan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,38%. Investor juga menanti data perdagangan Tiongkok Agustus, yang akan memberi gambaran arah permintaan global.
Harga minyak dunia yang diperkirakan melemah, naik tipis setelah OPEC+ menyepakati kenaikan produksi 137.000 barel per hari mulai Oktober, jauh lebih kecil dibanding tambahan sebelumnya. Brent bertambah 0,53% ke USD 62,2 per barel, sementara WTI naik 0,6% ke USD 65,89.
Baca Juga
Wall Street Melemah Dibayangi Kekhawatiran Ekonomi AS, Dow Anjlok Lebih dari 200 Poin
Di Wall Street, futures saham relatif stagnan. Investor menunggu rilis inflasi penting pekan ini: indeks harga produsen (PPI) pada Rabu dan indeks harga konsumen (CPI) pada Kamis. Pada Jumat lalu, S&P 500, Nasdaq, dan Dow ditutup melemah setelah laporan ketenagakerjaan yang lemah meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi, meski memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

