Sentimen Tarif Trump Guncang Pasar Obligasi, Yield USTreasury 30Y Tembus 4,97%
Poin Penting
* Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,281%, sementara yield 30 tahun menembus 4,977%, level tertinggi sejak Juli.
* Putusan pengadilan federal membatalkan sebagian besar tarif Trump, membuka potensi pengembalian dana tarif senilai $172,1 miliar.
* Dow Jones anjlok akibat lonjakan yield dan kekhawatiran defisit fiskal.
* Yield Eropa ikut melonjak, yield obligasi 30 tahun Jerman tertinggi sejak 2011.
NEW YORK, investortrust.id - Pasar obligasi Amerika Serikat bergolak, Selasa (2/9/2025). Imbal hasil Treasury melonjak tajam menyusul putusan pengadilan banding federal yang membatalkan sebagian besar tarif global pemerintahan Trump.
Baca Juga
Pengadilan Banding Putuskan Sebagian Besar Tarif Trump Tidak Sah
Yield Treasury 30 tahun menembus 4,977%, tertinggi dalam lebih dari sebulan, sementara tenor 10 tahun naik ke 4,281%.
Kekhawatiran pasar kian dalam karena pemerintah AS berpotensi harus mengembalikan penerimaan tarif yang menurut proyeksi Tax Foundation bisa mencapai $172,1 miliar pada 2025.
Kondisi ini memperburuk defisit anggaran yang sudah membengkak. Dampaknya langsung terasa di bursa saham, dengan Dow Jones anjlok lebih dari 500 poin.
Situasi tidak hanya terbatas di AS. Yield obligasi Eropa juga melonjak, dengan Jerman mencatatkan level tertinggi sejak 2011 dan Prancis sejak 2009. “Gelombang baru risiko kedaulatan tengah menerpa ekonomi Eropa, dengan Inggris dan Prancis paling rapuh menghadapi ketidakpastian fiskal dan politik,” ujar Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Kekhawatiran Fiskal Hantam Pasar Eropa, DAX Jerman Anjlok Lebih dari 2%
Meski tarif Trump sebelumnya sempat dipandang sebagai sumber penerimaan negara, putusan hukum terbaru memunculkan kembali kekhawatiran defisit struktural.
Para analis memperingatkan, jika pengembalian tarif benar-benar terealisasi, pasar akan menghadapi lonjakan penerbitan surat utang baru yang berpotensi mendorong yield lebih tinggi. Investor kini menanti laporan tenaga kerja AS pada Jumat, yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve bulan ini.

