Pasar Asia ‘Waspada’, Putusan Tarif Trump dan Hubungan India–China Jadi Sorotan
Poin Penting
- Pengadilan banding AS putuskan sebagian besar tarif “resiprokal” Trump ilegal, memicu ketidakpastian perdagangan global.
- Nikkei 225 Jepang dan S&P/ASX 200 Australia diperkirakan dibuka melemah, sementara Hang Seng Hong Kong berpotensi menguat.
- Investor mencermati perkembangan hubungan India–China yang sepakat menjadi mitra pembangunan serta menunggu rilis data manufaktur Agustus.
- Wall Street ditutup melemah akibat data inflasi terbaru, meski S&P 500 mencatatkan reli empat bulan berturut-turut.
TOKYO, investortrust.id - Pasar Asia-Pasifik mengawali perdagangan Senin (1/9/2025) dengan sentimen hati-hati. Investor tengah menilai implikasi putusan penting dari pengadilan banding federal Amerika Serikat yang menyatakan sebagian besar tarif “resiprokal” Presiden Donald Trump ilegal.
Baca Juga
Pengadilan Banding Putuskan Sebagian Besar Tarif Trump Tidak Sah
Putusan ini menyebut Trump telah melampaui kewenangannya dengan memberlakukan tarif terhadap hampir seluruh negara pada pengumuman “hari pembebasan” 2 April lalu. Meski bisa menjadi kabar positif bagi arus perdagangan global, pelaku pasar menilai ketidakpastian arah kebijakan tarif AS justru menambah risiko baru.
Selain isu tarif, perkembangan geopolitik India–China ikut mewarnai sentimen. Dalam pertemuan Shanghai Cooperation Organisation (SCO), Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping sepakat melihat satu sama lain sebagai mitra pembangunan, bukan rival. Xi dijadwalkan menyampaikan pidato di forum tersebut, yang berpotensi menjadi katalis regional.
Proyeksi Pasar Asia
Indeks Nikkei 225 Jepang diperkirakan dibuka melemah, dengan kontrak berjangka di Chicago berada di 42.215 dan di Osaka di 42.100, lebih rendah dari penutupan Jumat di 42.718,47.
Indeks S&P/ASX 200 Australia juga bersiap melemah, dengan kontrak berjangka di 8.912 dibandingkan penutupan terakhir di 8.973,10. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong berpotensi menguat setelah kontrak berjangka berada di 25.319, lebih tinggi dari penutupan terakhir di 25.077,62.
Investor juga menunggu rilis data survei manufaktur swasta Agustus, yang akan menjadi tolok ukur penting kesehatan ekonomi kawasan.
Tekanan dari Wall Street
Wall Street menutup perdagangan pekan lalu di zona merah setelah data inflasi terbaru menunjukkan harga masih bergerak naik. Indeks S&P 500 turun 0,64% ke 6.460,26, meski tetap membukukan reli empat bulan berturut-turut. Nasdaq Composite anjlok 1,15% ke 21.455,55, sedangkan Dow Jones melemah tipis 0,20% ke 45.544,88.
Baca Juga
Wall Street Melemah, tapi S&P 500 Catat Rekor Positif 4 Bulan Beruntun
Koreksi ini menambah beban sentimen di Asia pada awal pekan, di tengah pasar global yang masih berusaha menyeimbangkan prospek pertumbuhan, inflasi, dan dinamika geopolitik.

