Tarif AS Jadi Sorotan, tapi Diam-Diam Hubungan Dagang Uni Eropa-China juga Memanas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kisah tarif Amerika Serikat terus mencuri perhatian global. Setelah memperpanjang jeda dari 9 Juli ke 1 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengubah strateginya, dengan mengirim surat tarif langsung ke negara mitra, tanpa menunggu proses negosiasi.
Pada Sabtu (12/7/2025), Trump mengirim surat pemberitahuan tarif sebesar 30% untuk Uni Eropa (UE) dan Meksiko. Surat ini menuai penolakan, meski UE dan Meksiko tetap siap untuk negosiasi lanjutan.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Patok Tarif 30% Ke Uni Eropa dan Meksiko Mulai 1 Agustus 2025
Trump juga mengirim surat serupa kepada 23 mitra dagang lainnya minggu ini, termasuk Kanada, Jepang, dan Brasil, dengan menetapkan tarif menyeluruh antara 20% hingga 50%, juga tarif 50% untuk tembaga.
Presiden AS itu menyatakan tarif 30% “terpisah dari semua tarif sektoral,” yang berarti tarif 50% atas impor baja dan aluminium serta tarif 25% untuk impor mobil akan tetap berlaku.
Baca Juga
Rentetan surat tersebut menunjukkan bahwa Trump kembali ke sikap dagang agresif seperti yang dia lakukan pada April lalu, ketika ia mengumumkan berbagai tarif resiprokal terhadap mitra dagang yang sempat membuat pasar terguncang sebelum Gedung Putih menunda penerapannya.
Uni Eropa-China
Selain menghadapi masalah dagang dengan AS, diam-diam Uni Eropa juga memiliki hubungan dagang yang buruk dengan China. Tuduhan dan investigasi atas praktik dagang masing-masing telah lama menjadi bagian dari hubungan dagang UE-China, dengan kekhawatiran mengenai bagaimana perekonomian domestik masing-masing akan terdampak oleh impor yang saling bersaing.
Dalam beberapa pekan terakhir, pembatasan UE terhadap perusahaan China dalam tender publik untuk perangkat medis segera dibalas oleh China dengan pembatasan impor atas produk tersebut. Secara terpisah, tarif China terhadap produk brandy dari UE yang telah lama diancam mulai diberlakukan awal bulan ini, dan baik Beijing maupun Brussel kini saling meningkatkan kritik satu sama lain.
Secara keseluruhan, hubungan dagang UE-China kini dinilai "sangat buruk", menurut Marc Julienne, direktur Pusat Studi Asia di Institut Hubungan Internasional Prancis (Ifri).
"Apa yang dulunya merupakan ranah peluang besar dan antusiasme dalam hubungan bilateral, kini lebih banyak diwarnai risiko daripada peluang," ujarnya kepada CNBC awal pekan ini.
Hubungan yang Memburuk
Hubungan antara Uni Eropa dan China dibebani oleh berbagai tantangan dan risiko yang kerap dikaitkan dengan perbedaan posisi ekonomi yang saling bertabrakan, ujar Grzegorz Stec, analis senior di Mercator Institute for China Studies.
"UE dan China secara umum berada pada lintasan yang bertabrakan dalam hal kebijakan perdagangan dan industri mereka," ujarnya kepada CNBC. Perselisihan utama mencakup isu kelebihan kapasitas produksi di China dan pengalihan perdagangan ke Eropa, jelas Stec yang juga mengepalai kantor Mercator Institute di Brussel.
"Kebutuhan mendesak Beijing untuk mengekspor bertentangan dengan kebutuhan UE untuk melindungi basis industrinya sendiri," tambahnya.
Ekonomi China menghadapi kesenjangan antara kapasitas produksi dan permintaan. Negara itu juga tengah bergulat dengan pertumbuhan yang lambat, sementara ekspor yang selama ini menjadi pendorong utama ekonomi mengalami tekanan akibat ketegangan dagang global dan lemahnya permintaan.
Julienne dari Ifri juga menyoroti sejumlah kekhawatiran yang membuat hubungan UE-China semakin rumit, termasuk lingkungan yang semakin sulit bagi perusahaan asing yang beroperasi di China, serta defisit perdagangan UE yang semakin besar. Ia juga menyebut bahwa Beijing tengah "memperalat" perdagangan untuk menekan Eropa — seperti yang mereka lakukan dengan tarif brandy.
China pertama kali mulai menyelidiki impor brandy dari Eropa setelah UE mulai menerapkan bea masuk atas kendaraan listrik buatan China tahun lalu, yang dianggap sebagai pesaing berat bagi produk-produk Eropa.
Dampak Tarif AS
Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump sebenarnya bisa menjadi peluang bagi China dan Uni Eropa untuk memperbaiki hubungan mereka, menurut Julienne dari Ifri.
"Seharusnya ini berdampak positif bagi hubungan bilateral, dalam arti bahwa — saat menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika Serikat — [UE dan China] diharapkan bisa bernegosiasi dan berkompromi untuk memaksimalkan hubungan dagang mereka di tengah perang tarif AS," katanya. Namun hal itu belum terwujud.
Baca Juga
Tegas! Ini Tanggapan Uni Eropa dan Meksiko atas Tarif 30% AS
Jean-Marc Fenet, peneliti senior di ESSEC Institute for Geopolitics & Business, menyarankan bahwa salah satu alasan kegagalan ini bisa jadi karena Beijing merasa telah keluar sebagai pemenang dalam dramanya sendiri melawan Washington.
"Kebutuhan akan front bersama dengan UE jadi terasa kurang mendesak," kata Fenet. "Faktanya, kekhawatiran di Beijing saat ini justru bahwa UE akan menerima tekanan untuk sejajar dengan sikap anti-China yang akan diterapkan pemerintah AS di sela-sela negosiasi dagang."
Setelah eskalasi awal yang tajam dan negosiasi yang tegang, China dan AS mengonfirmasi kesepakatan kerangka perdagangan pada bulan Juni, termasuk ketentuan seputar unsur tanah jarang dan regulasi teknologi yang selama ini jadi perdebatan. Awal tahun ini, Beijing memberlakukan pembatasan ekspor atas beberapa elemen tanah jarang dan magnet, yang biasa digunakan di sektor otomotif, pertahanan, dan energi, sebagai bagian dari respons atas tarif awal AS.
Stec dari Mercator Institute berpendapat bahwa "kemungkinan kecil akan ditemukan solusi" atas berbagai poin sengketa dagang yang masih berlangsung antara Beijing dan Brussel, dan justru memperkirakan munculnya persoalan baru.
"Isu kelebihan kapasitas dan pengalihan perdagangan, ditambah dengan kesediaan Beijing menggunakan kontrol ekspor tanah jarang sebagai alat tawar dalam negosiasi tarif EV, menandakan lebih banyak turbulensi ke depan," katanya.
Stec juga memperkirakan akan muncul ketegangan seputar langkah-langkah UE untuk meningkatkan otonomi industrinya dan upaya China untuk menggagalkan langkah-langkah tersebut.
Fenet menyampaikan nada skeptis yang serupa. "Pendekatan Komisi Eropa yang semakin keras dan peningkatan kekuatan instrumen proteksi yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir membuat friksi yang semakin besar. Tercermin dalam tindakan baru-baru ini terhadap peralatan medis China dan seperti yang kemungkinan besar akan terlihat dalam KTT UE-China pada 24 Juli di Beijing," urainya.
Ia pun pesimistis terhadap KTT tersebut, yang menurut sumber CNBC akan mencakup pertemuan antara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden China Xi Jinping. "Kedua pihak tampaknya sudah mengantisipasi pertemuan yang sulit dan kemungkinan besar tidak akan menghasilkan kesepakatan," ujar Fenet.

