Curigai ‘Tipu daya’ Israel, Hamas Tolak Rencana Relokasi Gaza
Poin Penting
- Hamas tolak rencana relokasi oleh Israel, sebut genosida baru.
- Israel siapkan tenda di Gaza selatan, klaim demi keamanan warga.
- Rencana ofensif ke Gaza utara picu keprihatinan global.
- Lebih 61 ribu warga Palestina tewas sejak perang pecah 2023.
KAIRO, investortrust.id – Hamas mengecam rencana Israel untuk merelokasi ratusan ribu warga Gaza dari Kota Gaza ke bagian selatan wilayah itu.
Dalam pernyataannya, Minggu (17/8/2025), seperti dilansir Reuters, Hamas menyebut langkah tersebut bukan evakuasi kemanusiaan, melainkan “gelombang baru genosida dan pengusiran” yang menyasar warga sipil di tengah perang yang belum menunjukkan tanda berakhir.
Baca Juga
PBB: Israel Harus Hentikan Rencana Pengambilalihan Penuh Gaza
Militer Israel mengumumkan telah menyiapkan tenda dan perlengkapan darurat di Gaza selatan mulai pekan ini. Menurut Israel, langkah itu dimaksudkan untuk memindahkan warga dari zona tempur agar terhindar dari serangan.
Namun Hamas menolak klaim tersebut dan menuding upaya ini hanyalah “tipu daya terang-terangan untuk menutupi kejahatan brutal” yang tengah dipersiapkan.
Rencana Israel untuk melancarkan ofensif baru di Gaza utara — kawasan perkotaan terbesar di Jalur Gaza — memicu kekhawatiran internasional.
Gaza, rumah bagi 2,2 juta orang, kini menjadi simbol kehancuran. Lebih dari 61.000 warga Palestina tewas akibat operasi militer Israel, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sementara hampir seluruh penduduknya terpaksa mengungsi di dalam wilayah yang sama.
Perang ini bermula pada 7 Oktober 2023 ketika Hamas melancarkan serangan mendadak ke Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Baca Juga
Menyedihkan, Ribuan Anak di Gaza Tewas Akibat Konflik Bersenjata Israel-Hamas
Otoritas Israel memperkirakan 20 dari 50 sandera yang masih berada di Gaza diyakini masih hidup. Sejak itu, serangan balasan Israel tak hanya menargetkan milisi Hamas, tetapi juga meluluhlantakkan infrastruktur sipil, memicu krisis pangan, dan meninggalkan reruntuhan di hampir setiap sudut Jalur Gaza.

