Pejabat Fed Mulai Condong ‘Dovish’ di Tengah Pelemahan Pasar Tenaga Kerja AS
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Nada kebijakan di Federal Reserve mulai bergeser setelah data terbaru menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS. Sejumlah pejabat bank sentral memberi sinyal terbuka terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September, meski belum ada konsensus.
Baca Juga
Trump Pilih Penasihat Ekonomi Stephen Miran sebagai Pengganti Kugler di The Fed
Sejak keputusan Federal Reserve bulan lalu untuk mempertahankan suku bunga, mulai terlihat adanya pergeseran di bank sentral AS, dengan beberapa pejabat Fed terdengar makin gelisah mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan memberi sinyal keterbukaan, bahkan ketidaksabaran, untuk memangkas suku bunga secepatnya.
Perubahan sikap ini mungkin akan menyenangkan Presiden Donald Trump, yang sepanjang tahun gencar mendorong suku bunga lebih rendah. Namun alasan di baliknya, termasuk data baru yang menunjukkan melemahnya pasar tenaga kerja—yang oleh Trump disebut “direkayasa”—mungkin tidak.
Kekhawatiran soal pasar tenaga kerja menjadi inti argumen Gubernur Fed Christopher Waller dan Wakil Ketua Michelle Bowman ketika mereka menolak keputusan Fed pada 30 Juli untuk mempertahankan biaya pinjaman jangka pendek di kisaran 4,25%-4,50%, di mana level tersebut bertahan sejak Desember. Mayoritas 9-2 menyetujui pernyataan yang menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja sebagai solid.
Beberapa hari kemudian, kondisi itu terlihat jauh dari solid. “Memprihatinkan” adalah kata yang digunakan Gubernur Fed Lisa Cook awal pekan ini untuk menggambarkan revisi estimasi pemerintah yang memangkas pertumbuhan lapangan kerja pada Mei dan Juni ke level yang oleh ekonom dianggap sebagai level resesi. Laporan yang sama juga menunjukkan jumlah pekerjaan baru pada Juli jauh di bawah perkiraan, serta kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,2%.
“Angka ketenagakerjaan menunjukkan bahwa risiko di sisi lapangan kerja jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya… Saya pasti akan mencermatinya secara seksama,” kata Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic.
Bostic mengatakan ia tetap percaya hanya satu kali pemangkasan suku bunga yang sesuai untuk 2025, dan setidaknya satu pembuat kebijakan Fed yang lebih hawkish merasa data baru itu tidak banyak mengubah gambaran keseluruhan.
Namun meskipun bank sentral tampaknya belum mencapai konsensus untuk melonggarkan kebijakan, pergeseran halus menunjukkan para pembuat kebijakan mulai condong lebih dovish dibanding sebelumnya.
“Ada risiko di kedua sisi mandat kami, dan ketika itu terjadi, saat ada risiko di kedua sisi, Anda harus mengambil pendekatan yang seimbang,” ujar Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem pada Jumat (8/8/2025), dikutip dari Reuters. Itu merupakan pergeseran dari pernyataan sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada kekhawatiran tidak tercapainya mandat inflasi Fed dibanding risiko terhadap tujuan lapangan kerja penuh.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
“Saya nyaman dengan keputusan yang kami buat pada Juli, tetapi saya semakin tidak nyaman jika harus membuat keputusan yang sama berulang-ulang,” kata Presiden Fed San Francisco Mary Daly awal pekan ini.
Masih banyak data yang harus dianalisis sebelum pertemuan kebijakan Fed pada 16-17 September, termasuk data harga konsumen pekan depan yang akan membantu pembuat kebijakan menilai apakah tarif baru yang lebih tinggi dari pemerintahan Trump akan menyebabkan inflasi tetap tinggi secara persisten, seperti dikhawatirkan pihak hawkish, atau hanya lonjakan sementara, seperti yang diyakini pihak dovish.
Pasar keuangan saat ini mencerminkan taruhan besar bahwa suku bunga acuan akan setidaknya setengah poin persentase lebih rendah pada akhir tahun.

