Tekanan Harga Beras Mereda, Inflasi Inti Jepang Juni Turun Jadi 3,3%
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Inflasi inti Jepang mengalami pelonggaran pada Juni, turun menjadi 3,3% dari level tertingginya selama 29 bulan, yakni 3,7%. Meredanya tekanan harga beras, yang sempat melonjak akibat panen buruk tahun sebelumnya, menjadi faktor utama yang menenangkan laju inflasi utama Negeri Sakura.
Baca Juga
Inflasi Inti Jepang Sentuh Level Tertinggi Sejak Januari 2023
Namun, tidak semua indikator bergerak ke arah yang sama. Data inflasi "core-core", yang mengecualikan harga makanan segar dan energi dan merupakan indikator kunci bagi Bank of Japan (BOJ), justru naik ke 3,4% dari 3,3%. Hal ini menandakan bahwa tekanan harga dalam negeri masih persisten, dan memperkuat perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga.
Meski inflasi inti melandai sesuai perkiraan pasar, Jepang masih mencatatkan 39 bulan berturut-turut inflasi di atas target 2% BOJ. Situasi ini secara teori mendukung kenaikan suku bunga, namun konsensus analis tetap melihat bank sentral akan menahan langkah hingga paling cepat Januari 2026.
"Inflasi yang lebih rendah tidak serta-merta mengubah strategi BOJ jika ekspektasi inflasi belum bergerak," tulis Bank of America dalam catatan risetnya, seperti dikutip CNBC. Ini merujuk pada pandangan Gubernur Kazuo Ueda yang menjadikan ekspektasi inflasi sebagai cermin inflasi jangka panjang.
Baca Juga
Surat Tarif Trump Picu Ketegangan Baru, PM Jepang: Sangat Disesalkan
Kondisi ini terjadi di tengah tekanan eksternal dari kebijakan perdagangan AS. Presiden Donald Trump menyatakan tidak berharap tercapai kesepakatan dagang dengan Jepang, sekaligus mengonfirmasi tarif 25% atas mobil akan berlaku mulai 1 Agustus — pukulan telak bagi sektor ekspor terbesar Jepang.
Sementara itu, beban biaya hidup diprediksi akan menjadi isu utama dalam pemilu majelis tinggi Jepang mendatang, yang bisa menggeser orientasi kebijakan fiskal maupun moneter pemerintah.

