Surat Tarif Trump Picu Ketegangan Baru, PM Jepang: Sangat Disesalkan
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan mitra-mitranya kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menerbitkan surat tarif resmi yang mengenakan bea masuk tinggi kepada lebih dari selusin negara. Reaksi cepat datang dari Jepang, Korea Selatan, hingga Thailand, di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan ini dapat memicu ketidakpastian perdagangan global menjelang tenggat baru 1 Agustus.
Baca Juga
Trump Umumkan Tarif Baru hingga 40% ke 14 Negara, Indonesia Termasuk
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengatakan pengumuman tarif terbaru “sungguh disesalkan,” sambil menekankan bahwa ia akan melanjutkan negosiasi dengan pemerintah AS, menurut laporan media lokal.
Jepang merupakan salah satu dari dua negara yang akan mengalami kenaikan tarif “resiprokal” yang diumumkan Trump pada April. Impor Jepang ke AS akan dikenai bea masuk 25% mulai 1 Agustus, menurut Gedung Putih, lebih tinggi dari tarif 24% yang diumumkan sebelumnya.
Dalam pertemuan dengan para menteri kabinet mengenai strategi Jepang menghadapi tarif, Ishiba mencatat bahwa pemerintahan Trump telah mengusulkan rencana untuk melanjutkan pembicaraan hingga batas waktu bulan Agustus.
“Tergantung pada respons Jepang, isi surat tersebut bisa direvisi,” kata Ishiba dalam pertemuan Selasa (8/7/2025), beberapa jam setelah Trump memposting salinan surat tarifnya di platform media sosial Truth Social.
Sementara itu, para pemimpin Korea Selatan berjanji untuk mempercepat negosiasi tarif dengan pemerintahan Trump guna “segera menyelesaikan ketidakpastian perdagangan,” menurut laporan Yonhap News, mengutip pernyataan dari Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi.
Trump mengumumkan tarif menyeluruh sebesar 20% atas impor dari Korea Selatan, tidak berubah dari tingkat tarif “resiprokal” yang diumumkan pada April.
Yeo Han-Koo, Menteri Perdagangan Korea Selatan, juga dilaporkan meminta AS menurunkan tarif atas mobil, baja, dan barang-barang lainnya bagi perusahaan Korea dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick di Washington.
Baca Juga
‘Deadline’ Makin Dekat, AS Akan Kirim Surat Pemberitahuan Tarif ke Mitra Dagang Global
Menteri Keuangan Thailand, Pichai Chunhavajira, pada hari Selasa mengatakan bahwa ia “sedikit terkejut” dengan tarif terbaru, tetapi tetap “yakin” bahwa tarif tersebut akan turun ke tingkat yang setara dengan negara-negara lain, menurut Reuters.
Thailand menghadapi tarif sebesar 36% atas ekspornya ke AS—salah satu tarif tertinggi di antara 14 negara yang disebutkan Trump pada hari Senin—tidak berubah dari tingkat pada bulan April.
Malaysia, yang tarifnya naik menjadi 25% dari 24% yang diancam sebelumnya, mengatakan akan terus menjalin komunikasi dengan AS untuk menyelesaikan isu-isu yang masih tertunda.
“Malaysia berkomitmen untuk terus berinteraksi dengan AS menuju kesepakatan dagang yang seimbang, saling menguntungkan, dan menyeluruh,” demikian pernyataan Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri pada hari Selasa (8/7/2025), seperti dikutip CNBC.
Di luar Asia, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa tidak sepakat dengan tarif 30% dalam pernyataan yang diposting di X. Bea tersebut “bukan representasi akurat dari data perdagangan yang tersedia,” ujar Ramaphosa, seraya menambahkan bahwa 77% barang AS masuk ke negaranya tanpa dikenai tarif.
Afrika Selatan akan melanjutkan upaya diplomatik menuju “hubungan perdagangan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan dengan Amerika Serikat,” tambahnya.
Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di lembaga think tank Hinrich Foundation, mengatakan bahwa upaya negosiasi negara-negara dengan Trump tampaknya memiliki sedikit pengaruh terhadap hasil akhir.
“Anggota ASEAN yang bekerja keras menyusun proposal hampir menerima perlakuan yang sama dengan negara-negara yang tidak terbang ke DC atau bahkan tidak diundang untuk bertemu,” kata Elms, seraya menambahkan bahwa Trump mungkin masih menargetkan negara-negara Asia karena “kekhawatiran atas rantai pasok regional yang melibatkan konten dari China.”
Trump membagikan tangkapan layar surat yang merinci tarif baru untuk lebih dari selusin negara dalam serangkaian unggahan media sosial pada hari Senin, memberikan ruang untuk negosiasi lebih lanjut sebelum tenggat waktu baru pada 1 Agustus. Surat-surat itu menunjukkan bahwa AS mungkin mempertimbangkan untuk menyesuaikan tingkat tarif yang baru.

