Powell dan Trump Berpotensi Bertabrakan dalam Kebijakan Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Presiden terpilih Donald Trump dan Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mungkin berada di jalur konflik kebijakan pada 2025. Tapi, itu tergantung pada bagaimana perkembangan ekonomi AS.
Jika ekonomi memanas dan inflasi kembali meningkat, Powell dan rekan-rekannya dapat memutuskan untuk memperlambat upaya mereka dalam menurunkan suku bunga. Hal ini bisa membuat Trump marah, mengingat ia pernah mengecam pejabat Fed, termasuk Powell, selama masa jabatannya yang pertama karena dianggap lambat dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Setelah Pernyataan Powell, Dow Anjlok Lebih dari 200 Poin
“Tak diragukan lagi. Ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa, seringkali mereka tidak melakukan apa-apa. Itu mungkin menjadi masalah. Jika presiden merasa bahwa suku bunga harus diturunkan, apakah Fed, demi penampilan publik, tetap berpegang pada keputusannya?” kata Joseph LaVorgna, mantan kepala ekonom di Dewan Ekonomi Nasional selama masa jabatan pertama Trump, saat ditanya tentang potensi konflik tersebut, seperti dilansir CNBC.
Meskipun Powell menjadi Ketua Fed pada 2018 setelah dinominasikan oleh Trump, keduanya sering berselisih tentang arah kebijakan suku bunga. Trump secara terbuka dan agresif mengkritik Powell, yang menegaskan pentingnya Fed tetap independen dari tekanan politik, termasuk dari presiden.
Saat Trump mulai menjabat pada Januari, keduanya akan berperan dalam konteks yang berbeda.
Selama masa jabatan pertama, inflasi rendah. The Fed tetap dapat menjaga tingkat suku bunga acuan jauh di bawah posisi saat ini.
Trump merencanakan kebijakan fiskal ekspansif sekaligus proteksionis, lebih besar daripada sebelumnya, yang mencakup tarif yang lebih keras, pemotongan pajak, dan belanja besar. Jika kebijakan ini mulai terlihat dalam data ekonomi, Fed di bawah Powell mungkin tergoda untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat terhadap inflasi.
LaVorgna, kini kepala ekonom di SMBC Nikko Securities dan dikabarkan masuk dalam pemerintahan baru, menganggap hal itu sebagai kesalahan.
“Mereka akan melihat pendekatan kebijakan Trump yang sangat nontradisional tetapi mengkajinya melalui lensa ekonomi tradisional. Fed akan menghadapi pilihan yang sangat sulit berdasarkan pendekatan tradisional mereka,” bebernya.
Ekspektasi Pasar
Dalam beberapa hari terakhir, trader berjangka ragu-ragu tentang ekspektasi langkah Fed berikutnya. Menurut CME Group’s FedWatch, pasar memperkirakan peluang 50-50 untuk pemotongan suku bunga pada Desember, turun dari kepastian hampir seminggu sebelumnya. Perkiraan ke depan menunjukkan tiga pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25% hingga akhir 2025, yang turun signifikan dari ekspektasi sebelumnya.
Investor juga mulai khawatir dengan niat Fed. Gubernur Fed Michelle Bowman, Rabu lalu, mencatat bahwa kemajuan inflasi “terhenti,” mengindikasikan bahwa ia mungkin terus mendorong laju pemotongan suku bunga yang lebih lambat.
“Semua jalan mengarah pada ketegangan antara Gedung Putih dan Fed,” kata Joseph Brusuelas, kepala ekonom di RSM. “Bukan hanya Gedung Putih, tetapi juga Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, dan Fed yang akan saling bersinggungan.”
Trump sedang membangun tim loyalis untuk menerapkan agenda ekonominya, tetapi banyak keberhasilan akan bergantung pada kebijakan moneter yang mendukung, atau setidaknya, tidak terlalu membatasi pertumbuhan. Bagi Fed, ini berarti mencari “suku bunga netral,” tetapi bagi pemerintahan baru, definisinya mungkin berbeda.
Perselisihan tentang suku bunga akan menciptakan “ketegangan politik dan kebijakan" antara Federal Reserve dan Gedung Putih, yang jelas lebih memilih suku bunga rendah.
“Jika seseorang memberlakukan tarif atau deportasi massal, itu berarti membatasi pasokan agregat sambil secara bersamaan menerapkan pemotongan pajak yang dibiayai defisit, yang mendorong peningkatan permintaan agregat. Ini adalah ketidakkonsistenan mendasar dalam matriks kebijakan. Ada persimpangan tak terelakkan yang mengakibatkan ketegangan antara Trump dan Powell,” urai Brusuelas.
Menghindari Konflik
Namun, ada beberapa faktor yang dapat meredakan ketegangan. Salah satunya adalah masa jabatan Powell sebagai Ketua Fed berakhir pada awal 2026, sehingga Trump mungkin memilih untuk menunggu hingga dapat menunjuk seseorang yang lebih sesuai dengan preferensinya.
Baca Juga
Powell Sebut akan Menolak Jika Trump Memintanya untuk Mengundurkan Diri
Ada juga kemungkinan kecil bahwa Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga, kecuali ada kejadian tak terduga yang sangat mendorong inflasi lebih tinggi. Selain itu, kebijakan Trump memerlukan waktu untuk berdampak pada sistem, sehingga efek pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi makro mungkin belum terlihat jelas dalam data, sehingga tidak membutuhkan respons langsung dari Fed.
Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, memper memperkirakan inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat. Tarif dan deportasi merugikan pertumbuhan dan meningkatkan inflasi. Ia memperkirakan Fed masih akan memangkas suku bunga tahun depan, meskipun mungkin tidak secepat yang seharusnya.
Pertikaian dengan Trump, mungkin menjadi masalah yang lebih besar bagi Ketua Fed berikutnya, dengan asumsi Trump tidak mengangkat kembali Powell.
Menurut Zandi, hal ini belum terjadi pada 2025. Namun, bisa jadi masalah pada 2026, karena pada saat itu pemotongan suku bunga selesai, dan Fed mungkin perlu mulai menaikkan suku bunga. Saat itulah konflik bisa terjadi.

