Wall Street ‘Mixed’ setelah Pernyataan Powell, Dow Melonjak di Atas 250 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ditutup beragam pada Rabu waktu AS atau Kamis (18/9/2025) WIB. Indeks Dow Jones sempat menyentuh rekor tertinggi intraday. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite melemah, seiring investor mencerna keputusan Federal Reserve.
Baca Juga
Wall Street Melemah Dipicu ‘Profit Taking’, Investor Tunggu Keputusan The Fed
Perdagangan bergejolak menyusul keputusan Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps), sesuai perkiraan. Ketua Fed Jerome Powell sedikit meredam antusiasme dengan menyatakan langkah ini bukan awal dari siklus panjang pemangkasan suku bunga.
Indeks S&P 500 turun 0,1% menjadi 6.600,35, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,3% ke 22.261,33. Dow berakhir naik 260,42 poin atau 0,6% di 46.018,32, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.
Saham teknologi berkapitalisasi besar memimpin pelemahan setelah keputusan Fed, karena investor mengambil untung dari saham unggulan reli sebelumnya. Nvidia, Oracle, Palantir, dan Broadcom semuanya ditutup lebih rendah. Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan dari suku bunga rendah menguat, mendorong Dow dan pasar lebih luas. Saham Walmart, JPMorgan, dan American Express naik sepanjang sesi.
Salah satu pemenang terbesar hari itu adalah Russell 2000 yang berfokus pada saham berkapitalisasi kecil, naik 0,18%. Perusahaan kecil yang lebih bergantung pada pembiayaan variabel cenderung lebih diuntungkan dari penurunan suku bunga.
Komite Pasar Terbuka Federal menurunkan suku bunga pinjaman antarbank overnight sebesar seperempat poin dalam pemungutan suara 11 banding 1, menempatkan tingkat dana overnight di kisaran 4%-4,25%. Bank sentral juga memberi sinyal akan ada dua kali lagi pemangkasan sepanjang sisa tahun ini.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Indikasikan Pemotongan Lanjutan
Fed mencatat perlambatan pasar tenaga kerja dalam pernyataannya. “Pertumbuhan lapangan kerja melambat, tingkat pengangguran meningkat tipis namun tetap rendah,” demikian pernyataan pasca-pertemuan. Pernyataan itu juga menyebutkan aktivitas ekonomi telah “melambat” dan inflasi “meningkat dan tetap agak tinggi.”
Yang mungkin mengecewakan pedagang adalah komentar Powell dalam konferensi pers setelah keputusan, di mana ia menyebut langkah ini sebagai “pemangkasan manajemen risiko.” Komentar Powell menyiratkan bahwa langkah ini lebih sebagai pemotongan 'perlindungan' bila ekonomi melambat tajam.
“Tidak ada jalur bebas risiko saat ini. Tidak jelas sekali apa yang harus dilakukan,” kata Powell.
Selain itu, bank sentral memberikan pandangan yang lebih hawkish untuk 2026, di mana pejabat memproyeksikan hanya satu pemangkasan lagi tahun depan, lebih lambat dibanding harga pasar saat ini yang memperkirakan dua hingga tiga kali pemangkasan. Dot plot Fed menunjukkan perbedaan pandangan yang besar untuk tahun depan.
“Secara keseluruhan, pejabat Fed tidak menekan tombol panik ketika mereka memilih pemangkasan paling kecil pada pertemuan September. Laju pemangkasan satu kali per pertemuan menunjukkan mereka tidak lagi menganggap inflasi akibat tarif sebagai ancaman serius, dan bahwa perlambatan pertumbuhan dengan perekrutan yang semakin minim kini menjadi risiko utama. Stagflasi terpinggirkan dan kekhawatiran pasar tenaga kerja naik ke depan,” urai Christopher S. Rupkey, kepala ekonom FWDBONDS, seperti dikutip CNBC.
Indeks utama AS sempat reli sebelum keputusan Rabu. S&P 500 naik 2,2% sepanjang bulan berjalan, Nasdaq melonjak 3,8% berkat saham terkait kecerdasan buatan, sementara Dow naik 1% bulan ini.

