Wall Street Terpukul Retorika Tarif Trump, Dow Anjlok Lebih dari 250 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) dilanda tekanan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 35 persen terhadap Kanada dan mengancam peningkatan tarif terhadap sejumlah negara lainnya. Ketegangan dagang yang memuncak memaksa investor mengambil posisi defensif, mendorong koreksi luas di pasar modal pada akhir pekan.
Baca Juga
‘Deadline’ Makin Dekat, AS Akan Kirim Surat Pemberitahuan Tarif ke Mitra Dagang Global
Pada Jumat waktu AS atau Sabtu (12/7/2025), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 279 poin ke posisi 44.371, mencatat penurunan harian sebesar 0,63 persen. Sedangkan, S&P 500 merosot 0,33 persen ke level 6.259, dan Nasdaq Composite melemah 0,22 persen menjadi 20.585. Penurunan ini menandai perubahan cepat dari reli sebelumnya, di mana S&P sempat mencetak rekor tertinggi baru pada sesi Kamis.
Sentimen negatif dipicu oleh pengumuman Trump yang menyebut bahwa tarif terhadap Kanada akan naik lebih tinggi jika negara tersebut melakukan pembalasan. Dalam pernyataan yang dipublikasikan di Truth Social, Trump juga menautkan kebijakan tarif ini dengan isu fentanyl, menyebut bahwa kerja sama Kanada dalam memerangi peredaran narkotika akan menentukan arah penyesuaian tarif.
Dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Trump menyatakan niatnya untuk memberlakukan tarif menyeluruh antara 15 hingga 20 persen terhadap negara-negara lain, lebih tinggi dari standar tarif 10 persen yang sebelumnya dianggap dapat diterima pasar. “Tarif ini sangat disambut baik. Pasar saham mencetak rekor baru,” ujarnya.
Baca Juga
Wall Street Melonjak di Tengah Badai Tarif Trump, S&P 500 dan Nasdaq Tembus Rekor
Namun, optimisme tersebut cepat memudar. Meskipun pasar mencatat penguatan pada hari Kamis setelah pengumuman tarif terhadap impor tembaga dan Brasil, pelaku pasar mulai berhitung ulang risiko jika eskalasi menyebar ke Eropa. Jumat sore, para investor menanti pernyataan Trump terkait Uni Eropa, namun tidak ada pembaruan yang disampaikan selama jam perdagangan.
Menurut Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth Management, pasar mulai menyadari dampak struktural dari lonjakan retorika dagang yang melibatkan mitra utama AS. “Ini bukan lagi sekadar ancaman. Ketika tarif dijatuhkan terhadap salah satu mitra dagang utama kita dalam semalam, dampaknya terasa sangat nyata,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Secara mingguan, ketiga indeks utama berakhir di zona merah. Dow mencatat penurunan sebesar 1 persen, S&P turun 0,3 persen, dan Nasdaq melemah tipis 0,1 persen. Sentimen investor juga mulai terpecah karena akan segera dimulainya musim laporan keuangan kuartal kedua, disertai rilis data inflasi yang dapat memengaruhi arah suku bunga dan ekspektasi pertumbuhan.
Pasar kini menghadapi kombinasi tekanan dari sisi kebijakan dagang, ketidakpastian makroekonomi, dan dinamika geopolitik yang tak menentu. Keseimbangan antara retorika dan realisasi akan menjadi kunci dalam beberapa pekan ke depan.

