‘Deadline’ Makin Dekat, AS Akan Kirim Surat Pemberitahuan Tarif ke Mitra Dagang Global
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Presiden Donald Trump menyatakan, Pemerintah AS akan mengirimkan surat kepada sejumlah negara berisi rincian tarif impor baru yang lebih tinggi dan akan berlaku mulai 1 Agustus.
“Antara 10 hingga 12 surat dikirim pada hari Jumat, dengan lebih banyak surat menyusul dalam beberapa hari mendatang,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip BBC.
Tarif impor tersebut akan berkisar antara “60% atau 70% hingga 10% atau 20%,” ujarnya.
Trump telah menetapkan batas waktu 9 Juli bagi negara-negara mitra dagang untuk menyelesaikan negosiasi tarif, yang memicu aksi cepat dari banyak negara untuk mencapai kesepakatan.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Sebelumnya Trump menyatakan bahwa akan ada tarif dasar 10% yang bisa naik hingga maksimal 50% terhadap banyak negara. Namun kali ini, ia tidak menyebutkan negara mana yang akan terdampak, atau apakah tarif hanya berlaku untuk barang tertentu.
“Niat saya adalah mengirim surat dan menyatakan tarif apa yang akan mereka bayarkan. Itu jauh lebih sederhana,” kata Trump.
Tarif adalah pajak atas barang yang masuk ke suatu negara, yang dibayarkan oleh importir. Perusahaan biasanya akan menanggung biaya tersebut atau membebankannya kepada konsumen, yang pada akhirnya menaikkan harga barang.
Tujuan dari kebijakan ini adalah meningkatkan penerimaan pemerintah AS dan membuat barang impor menjadi lebih mahal, sehingga mendorong permintaan terhadap produk buatan AS.
Pernyataan Trump ini muncul menjelang tenggat waktu minggu depan yang bisa membuka jalan bagi pemberlakuan tarif lebih tinggi terhadap barang dari sejumlah negara.
Negara-negara tersebut termasuk Uni Eropa, yang sebelumnya diancam tarif 20% dan kemudian dinaikkan menjadi 50%, serta Jepang yang bisa menghadapi tarif 35% untuk barang-barangnya.
Baca Juga
Negosiasi Alot, Trump Ancam Kenakan Tarif 50% untuk Uni Eropa
Sementara itu, Inggris dan AS telah mencapai kesepakatan sebagian dalam perdagangan — mencakup mobil Inggris, serta daging sapi dan bioetanol AS — tetapi belum menyentuh sektor baja.
Dua ekonomi terbesar dunia, Tiongkok dan AS, sebelumnya terlibat dalam perang dagang saling balas yang dimulai April lalu. AS sempat mengenakan tarif 145% terhadap impor dari Tiongkok, sementara Tiongkok membalas dengan tarif 125% untuk sejumlah produk AS.
Baca Juga
AS-China Sepakati Kerangka Dagang Baru, Fokus pada ‘Rare Earth’ dan Teknologi
Namun setelah negosiasi, kedua negara sepakat menurunkan tarif masing-masing menjadi 30% dan 10%. Pada bulan lalu, mereka menyepakati sejumlah hal termasuk ekspor mineral tanah jarang dan pelonggaran pembatasan teknologi.

