Tenggat Nego Tarif AS Makin Dekat, Manufaktur Asia Dibayangi Pelemahan Ekspor
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id – Tekanan risiko tarif Presiden Donald Trump masih membayangi pemulihan industri Asia. Data PMI (Purchasing Managers Index) terbaru pada Selasa (1/7/2025) menunjukkan aktivitas manufaktur di sebagian besar negara Asia mengalami kontraksi, dengan pengecualian dari China, Jepang, dan India yang menunjukkan sinyal stabilisasi atau bahkan percepatan.
Baca Juga
Aktivitas manufaktur di sejumlah ekonomi Asia melemah pada Juni di tengah bayang-bayang ketidakpastian tarif AS yang terus menekan permintaan.
Survei-survei swasta yang dirilis menunjukkan tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan Asia dalam menghadapi manuver tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump yang mengacaukan tatanan perdagangan global.
Di Jepang, aktivitas pabrik tumbuh untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun. Di Korea Selatan, laju kontraksi melambat. Di China, survei resmi masih menunjukkan kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut, tapi PMI Caixin naik ke wilayah ekspansi di 50,4 karena pesanan baru meningkat.
Baca Juga
Di Luar Dugaan, PMI Manufaktur Caixin China Ekspansi pada Juni
Namun, prospek permintaan global yang melemah, lambatnya pemulihan China, dan negosiasi dagang yang mandek diperkirakan masih akan menekan sektor manufaktur regional.
“Kita harus akui bahwa lingkungan eksternal masih sangat kompleks, dan permintaan domestik yang efektif belum sepenuhnya pulih,” ujar Wang Zhe dari Caixin Insight Group, seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, Jepang mencatatkan PMI akhir di 50,1 untuk Juni, naik dari 49,4 pada Mei, berkat kenaikan output. Meski begitu, permintaan tetap lemah karena ketidakpastian tarif AS membuat pesanan baru menyusut.
Di Korea Selatan, PMI turun ke 48,7, kontraksi lima bulan beruntun, meski pelaku industri merasa sedikit lega usai berakhirnya krisis politik pasca pemilu cepat 3 Juni.
Dampak Tarif Trump
Menteri Perindustrian Korea Selatan, Ahn Duk-geun, menyatakan bahwa volatilitas kebijakan tarif AS dan ketidakpastian ekonomi global kemungkinan masih akan berlanjut pada semester kedua 2025. Komentarnya muncul di tengah data ekspor Juni yang menunjukkan rebound, namun ekspor ke AS dan China tetap lemah.
Tarif tinggi Trump telah mengacaukan arus perdagangan global, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada ekspor ke pasar AS. Lebih dari selusin mitra dagang utama Washington kini berlomba menutup kesepakatan sebelum tenggat 9 Juli agar tarif impor tidak melonjak lebih tinggi.
Negosiasi China dengan AS masih berlangsung untuk kesepakatan yang lebih luas, sementara Jepang dan Korea belum berhasil mendapatkan pengecualian atas tarif barang andalan seperti mobil.
Baca Juga
AS-China Sepakati Kerangka Dagang Baru, Fokus pada ‘Rare Earth’ dan Teknologi
India menjadi satu-satunya pengecualian mencolok: aktivitas manufaktur melonjak ke level tertinggi dalam 14 bulan, terdorong lonjakan penjualan ekspor dan rekor perekrutan tenaga kerja. PMI India naik ke 58,4 di Juni dari 57,6 di Mei.
Sementara itu, PMI di banyak negara lain di Asia terus melemah: Indonesia turun ke 46,9, Vietnam ke 48,9, Taiwan ke 47,2. Malaysia sedikit membaik ke 49,3.
Shivaan Tandon dari Capital Economics menyebut, mengingat lemahnya aktivitas manufaktur, bank sentral di Asia kemungkinan akan terus melonggarkan kebijakan moneter melebihi ekspektasi pasar.
Namun, sejumlah tanda perbaikan di beberapa negara memberi harapan baru dan meningkatkan urgensi dalam perundingan dagang dengan Washington.

