AS-China Sepakati Kerangka Dagang Baru, Fokus pada ‘Rare Earth’ dan Teknologi
BEIJING, investortrust.id – Pemerintah Tiongkok secara resmi mengonfirmasi rincian kesepakatan perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat yang mencakup pengaturan ekspor rare earth dan pelonggaran sejumlah pembatasan teknologi.
Baca Juga
Terobosan Perang Dagang: AS-China Sepakat Pangkas Tarif Selama 90 Hari
Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan hal itu pada Jumat (27/6/2025) sore, dikutip dari CNBC. Ini menandai langkah konkret menuju stabilisasi hubungan ekonomi dua ekonomi terbesar dunia yang sempat memburuk selama beberapa bulan terakhir.
Dalam pernyataan tersebut, juru bicara Kementerian menyebutkan bahwa Tiongkok akan meninjau dan menyetujui aplikasi ekspor untuk barang-barang yang masuk dalam daftar pengendalian ekspor sesuai hukum domestik. Sebagai imbalannya, AS akan membatalkan sejumlah pembatasan yang sebelumnya diberlakukan terhadap Beijing. Namun, tidak ada rincian tambahan soal jenis barang yang dimaksud.
Pernyataan resmi ini muncul sehari setelah Presiden Donald Trump menyebut bahwa “kami baru saja menandatangani kesepakatan dengan Tiongkok kemarin,” dalam sebuah acara di Gedung Putih. Seorang pejabat Gedung Putih kemudian meluruskan bahwa yang dimaksud adalah “pemahaman tambahan atas kerangka implementasi dari kesepakatan Jenewa.”
Dari Jenewa ke London
Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari proses negosiasi bilateral yang intensif sejak pertemuan awal di Jenewa pada pertengahan Mei lalu. Delegasi tinggi dari kedua negara, dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng, bertemu kembali awal bulan ini di London dan menyepakati langkah implementasi konsensus Jenewa.
Baca Juga
Trump Pastikan Perundingan Lanjutan AS-China Digelar di London
Kesepakatan London dinilai berhasil menstabilkan hubungan dagang yang sempat memburuk, terutama setelah kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan awal di Jenewa.
Namun, pengamat memperingatkan agar pasar tidak terlalu cepat bersikap optimis. Alfredo Montufar-Helu, penasihat senior di China Center dari lembaga think tank The Conference Board, menyebut bahwa meski perkembangan ini positif, “ekspektasi perlu dikendalikan.”
Ia menambahkan, hingga kini belum ada kejelasan soal jenis pembatasan ekspor rare earth mana yang akan dilonggarkan, selain magnet. Montufar-Helu menilai bahwa komoditas tersebut sangat strategis bagi keamanan nasional di kedua negara, sehingga “Tiongkok kemungkinan besar tetap akan menahan ekspor barang-barang tersebut secara selektif.”
Dalam kesepakatan awal di Jenewa, kedua negara sepakat untuk menangguhkan sebagian besar tarif selama 90 hari dan mencabut sejumlah hambatan dagang lainnya. Namun implementasi kesepakatan tersebut tersendat akibat lambatnya pelonggaran pembatasan ekspor rare earth dari pihak Tiongkok dan keputusan AS untuk memperketat kontrol atas teknologi serta visa pelajar Tiongkok.
Langkah terbaru ini menunjukkan bahwa kedua pihak bersedia untuk bergerak maju, meski tantangan struktural dan ketegangan geopolitik masih membayangi hubungan bilateral.

