Ancam Industri Masa Depan, Ini Kritik Tajam Elon Musk pada ‘Megabill’ Trump
WASHINGTON, investortrust.id — Di hari ulang tahunnya yang ke-54, Elon Musk tidak sedang berpesta. Justru pada momen itulah ia melempar kritik paling keras terhadap rancangan undang-undang kebijakan domestik terbesar era Trump yang baru saja diloloskan Senat AS Sabtu (28/6/2025) malam waktu setempat: One Big Beautiful Bill. RUU ini dianggap menjadi penanda pergeseran prioritas ekonomi Amerika ke arah masa lalu, dan pukulan telak bagi masa depan industri energi bersih.
Baca Juga
Diwarnai Drama Politik, RUU Pemotongan Pajak dan Belanja Trump Lolos Rintangan Pertama di Senat AS
“Gila total dan merusak,” tulis Musk di platform X, media sosial miliknya. “RUU ini menghancurkan jutaan lapangan kerja dan menimbulkan bahaya strategis besar bagi Amerika.”
Seperti dilansir Reuters, Musk memang menentang RUU besutan Pemerintahan Trump itu. Ia menuding RUU tersebut menyuburkan kembali industri batu bara, sambil memperberat beban fiskal dan membunuh insentif bagi sektor-sektor masa depan seperti energi surya, angin, nuklir, dan penyimpanan energi.
RUU Besar
Lolos dengan selisih suara tipis di Senat (51-49), One Big Beautiful Bill akan menaikkan plafon utang pemerintah AS hingga US$5 triliun—kenaikan terbesar dalam sejarah negeri itu—dan memotong pajak secara besar-besaran bagi sektor manufaktur konvensional, termasuk batu bara dan baja.
Namun, menurut Kantor Anggaran Kongres, pemangkasan pajak tersebut justru memperlebar defisit fiskal. Proyeksi defisit melonjak hingga US$2,5 triliun pada 2026, sementara beban bunga utang federal membengkak. Analis memperingatkan bahwa tanpa konsensus fiskal bipartisan, Amerika bisa menghadapi risiko gagal bayar paling cepat Agustus tahun ini.
Musk menyebut langkah ini sebagai “jalan pintas menuju perbudakan utang” dan memperingatkan bahwa generasi muda akan menanggung beban fiskal yang mustahil dilunasi.
Dari Donatur ke Pembangkang
Hubungan Musk dan Trump kini memburuk dengan cepat—padahal sang CEO Tesla dan SpaceX sebelumnya menyumbang lebih dari US$250 juta untuk kampanye pemilihan ulang Trump, dan bahkan memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) pada masa awal pemerintahan Trump.
Namun segalanya berubah setelah RUU ini diumumkan. Musk menyebutnya “kejahatan menjijikkan” dan menyerukan kepada para legislator untuk “BUNUH RUU INI.” Tak pelak, retorika tajam ini langsung memicu respons Gedung Putih.
Baca Juga
Trump dan Elon Musk Pecah Kongsi, Saling Serang di Media Sosial
Trump, dalam konferensi pers di Mar-a-Lago setelah RUU disahkan, menyindir Musk sebagai “orang pintar yang lupa siapa yang membantunya jadi besar.” Ia menambahkan, “RUU ini akan menjadikan Amerika kembali kuat, bukan tergantung pada energi mainan dan utopia Silicon Valley.”
Tak lama setelah kritik Musk viral, saham Tesla anjlok 14% dalam satu hari perdagangan. Pemerintah federal bahkan mengisyaratkan peninjauan ulang terhadap sejumlah kontrak publik yang dimiliki perusahaan Musk.
Serangan Balik dan Protes Jalanan
Di luar ruang politik dan pasar modal, gerakan sipil juga menguat. Kelompok aktivis Tesla Takedown menggelar unjuk rasa “anti-perayaan ulang tahun” di depan kantor pusat Tesla dan di beberapa kota besar AS, mengecam hubungan Musk dengan Trump serta dukungannya terhadap partai sayap kanan AfD di Jerman.
Meski demikian, suara publik terhadap Musk tetap terbelah. Di sisi lain, sebagian besar komunitas energi bersih, startup teknologi, dan investor ESG (Environmental, Social, and Governance) justru mengapresiasi sikap terbuka Musk terhadap ancaman fiskal dan lingkungan dari RUU ini.
“Ini bukan hanya tentang pajak atau batu bara. Ini soal arah masa depan Amerika,” ujar Miriam Goldstein, analis energi di CleanTech Strategies. “Ketika tokoh seperti Musk bersuara keras, itu pertanda bahwa kekhawatiran itu nyata.”
Saat ini, investor tengah menunggu dua hal: keputusan akhir mengenai judicial review terhadap RUU ini yang diajukan ke Mahkamah Agung oleh sejumlah senator Demokrat, dan tindak lanjut dari perusahaan-perusahaan energi bersih yang merasa dirugikan oleh perubahan insentif fiskal.
Di sisi lain, Trump tampaknya tak bergeming. Dalam unggahan X terbarunya, ia menyatakan: “Mereka bisa mengeluh, tapi Amerika sedang kembali dibangun—besar, indah, dan berani!”

