Diwarnai Drama Politik, RUU Pemotongan Pajak dan Belanja Trump Lolos Rintangan Pertama di Senat AS
WASHINGTON, investortrust.id – Senat Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik meloloskan tahap awal RUU besar besutan Presiden Donald Trump yang mencakup pemotongan pajak dan belanja, dalam sebuah sesi akhir pekan maraton. Sidang diwarnai drama politik, perpecahan, dan penundaan panjang saat Partai Demokrat yang berupaya memperlambat jalannya legislasi tersebut.
Baca Juga
Kecam Kebijakan The Fed, Trump Sebut Powell ‘Merusak’ Ekonomi AS
Para anggota parlemen memberikan suara 51-49 untuk membuka debat atas RUU setebal 940 halaman tersebut, dengan dua senator dari Partai Republik bergabung bersama Partai Demokrat untuk menentang legislasi yang akan mendanai prioritas utama Trump dalam bidang imigrasi, perbatasan, pemotongan pajak, dan militer.
Trump memuji “kemenangan besar” bagi “RUU besar nan indah”-nya di media sosial.
Setelah berjam-jam penundaan—di mana para pemimpin Republik dan Wakil Presiden JD Vance bekerja di balik pintu tertutup untuk meyakinkan pihak-pihak yang masih ragu—Partai Demokrat menuntut agar RUU tersebut dibacakan secara penuh di ruang sidang, sebuah proses yang bisa menunda dimulainya debat hingga Minggu sore.
Partai Demokrat mengatakan bahwa pemotongan pajak dalam RUU tersebut akan secara tidak proporsional menguntungkan kalangan kaya dengan mengorbankan program sosial bagi warga Amerika berpenghasilan rendah.
“Senator Partai Republik panik untuk meloloskan sebuah RUU radikal yang dirilis ke publik di tengah malam, berharap rakyat Amerika tidak menyadari apa isinya. Demokrat memaksa untuk membacanya di ruang ini dari awal hingga akhir,” kata Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, di ruang sidang Senat, dikutip dari Reuters, Minggu (29/6/2025).
Setelah pembacaan selesai, para anggota parlemen akan memulai hingga 20 jam debat atas legislasi ini. Itu akan diikuti oleh sesi amandemen maraton yang dikenal sebagai “vote-a-rama”, sebelum Senat melakukan pemungutan suara akhir. Para anggota parlemen mengatakan mereka berharap penyelesaian pembahasan RUU ini pada hari Senin.
Senator Republik Thom Tillis dan Rand Paul memberikan suara menolak pembukaan debat, sebuah langkah yang sempat membuat RUU ini terancam gagal.
Trump menyerang Tillis, yang menentang pemangkasan program kesehatan Medicaid untuk warga Amerika berpenghasilan rendah karena dinilai akan menghancurkan layanan kesehatan di negara bagian asalnya, North Carolina. Tillis akan mencalonkan diri kembali tahun depan.
“Banyak orang yang sudah menyatakan ingin maju di pemilihan pendahuluan melawan ‘Senator Thom’ Tillis. Saya akan bertemu dengan mereka dalam beberapa minggu ke depan,” tulis presiden.
Paul menentang legislasi ini karena akan menaikkan batas pinjaman federal atas utang AS sebesar US$36,2 triliun sebanyak US$5 triliun lagi.
“Apakah Rand Paul memilih ‘TIDAK’ lagi malam ini? Ada apa dengan orang ini???” kata Trump di media sosial.
Dalam Ketidakpastian
Pemungutan suara pada hari Sabtu (28/6/2025) waktu AS, sempat berada dalam ketidakpastian selama berjam-jam saat Vance, Pemimpin Mayoritas Senat John Thune, dan para tokoh Republik lainnya berusaha meyakinkan senator yang masih ragu untuk mendukung RUU tersebut. Tidak jelas kesepakatan apa yang dicapai untuk mengamankan dukungan mereka.
Senator Republik garis keras Rick Scott, Mike Lee, dan Cynthia Lummis—yang menginginkan pemotongan belanja federal yang lebih dalam—akhirnya memilih mendukung RUU tersebut. Senator garis keras lainnya, Ron Johnson, awalnya memilih tidak, tetapi kemudian membalikkan suara dan mendukung legislasi.
Trump memantau jalannya pemungutan suara dari Oval Office hingga larut malam, kata seorang pejabat senior Gedung Putih.
RUU besar ini akan memperpanjang pemotongan pajak tahun 2017 yang merupakan pencapaian legislatif utama Trump selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden, memangkas pajak lainnya, serta meningkatkan belanja untuk militer dan keamanan perbatasan.
Komite Pajak Gabungan non-partisan merilis analisis yang memperkirakan ketentuan pajak dalam RUU Senat akan mengurangi pendapatan pemerintah sebesar US$4,5 triliun dalam satu dekade ke depan, meningkatkan utang pemerintah AS yang saat ini mencapai US$36,2 triliun.
Gedung Putih mengatakan bulan ini bahwa legislasi tersebut akan mengurangi defisit tahunan sebesar US$1,4 triliun.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dibayangi Kekhawatiran Defisit AS, Dow Nyungsep 800 Poin
Orang terkaya di dunia, Elon Musk, juga mengkritik RUU ini, yang akan mengakhiri insentif pajak untuk kendaraan listrik yang diproduksi oleh perusahaannya, Tesla.
Menyebut RUU tersebut sebagai “gila total dan merusak”, Musk mempertaruhkan munculnya kembali perseteruan dengan Trump yang sempat memanas awal bulan ini, sebelum Musk mundur dari retorikanya.
“Draf RUU terbaru Senat ini akan menghancurkan jutaan pekerjaan di Amerika dan menyebabkan kerugian strategis besar bagi negara kita!” tulis Musk di media sosial X.
Baca Juga
Trump dan Elon Musk Pecah Kongsi, Saling Serang di Media Sosial
Perubahan Medicaid
Senator dari Partai Republik yang berasal dari negara bagian dengan populasi pedesaan besar menentang pengurangan pendapatan pajak negara bagian untuk penyedia Medicaid, termasuk rumah sakit pedesaan. Versi legislasi yang baru dirilis akan menunda pengurangan tersebut dan menyertakan US$25 miliar untuk mendukung penyedia Medicaid pedesaan dari 2028 hingga 2032.
Legislasi ini juga akan menaikkan batas pengurangan pajak federal untuk pajak negara bagian dan lokal menjadi US$40.000 dengan penyesuaian inflasi tahunan sebesar 1% hingga 2029, setelah itu akan kembali ke batas saat ini sebesar US$10.000. RUU ini juga akan secara bertahap menurunkan batas tersebut bagi mereka yang berpenghasilan lebih dari US$500.000 per tahun.
Hal ini menjadi perhatian utama bagi anggota DPR dari Partai Republik yang berasal dari negara bagian pesisir seperti New York, New Jersey, dan California, yang memainkan peran penting dalam mempertahankan mayoritas tipis partai di DPR.
Partai Republik menggunakan manuver legislatif untuk melewati ambang 60 suara yang biasanya diperlukan di Senat dengan 100 anggota untuk meloloskan sebagian besar legislasi.
Demokrat akan memfokuskan upaya mereka pada amandemen yang bertujuan membatalkan pemotongan belanja Republik untuk program yang menyediakan layanan kesehatan yang didukung pemerintah bagi lansia, masyarakat miskin, dan penyandang disabilitas, serta bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
RUU ini juga akan menaikkan plafon utang Departemen Keuangan sebesar triliunan dolar untuk menghindari gagal bayar utang nasional yang berpotensi bencana dalam beberapa bulan mendatang.
Jika Senat meloloskan RUU ini, maka RUU tersebut akan dikembalikan ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk pengesahan akhir sebelum Trump dapat menandatanganinya menjadi undang-undang. DPR telah meloloskan versinya bulan lalu.

