Terjun 12% Sepekan, Minyak Global Catat Penurunan Mingguan Terdalam sejak 2022
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak menguat pada hari Jumat (27/6/2025), namun tetap mencatat penurunan mingguan terdalam sepanjang tiga tahun terakhir. Meredanya kekhawatiran pasokan akibat konflik Iran-Israel membuat premi risiko di pasar energi menguap.
Baca Juga
Trump Umumkan Rencana Gencatan Senjata Iran-Israel, Sebut 'Perang 12 Hari' Berakhir
Minyak Brent naik 4 sen menjadi US$67,77 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 28 sen, atau 0,43%, ke US$65,52 per barel.
Selama perang 12 hari yang dimulai setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni, harga Brent sempat menyentuh di atas US$80 per barel sebelum turun ke US$67 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata Iran-Israel.
Brent mengakhiri pekan ini dengan penurunan 12%, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Agustus 2022. Sementara WTI AS turun sekitar 11%, penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2023.
“Pasar hampir sepenuhnya mengabaikan premi risiko geopolitik dari sepekan lalu, dan kini kembali bergantung pada fundamental,” ujar analis Rystad Energy, Janiv Shah, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Terjun 13% dalam 2 Hari, Harga Minyak Kembali ke Level Pra-Konflik Iran-Israel
Pertemuan OPEC+
Pasar kini menantikan pertemuan OPEC+ pada 6 Juli, di mana diperkirakan akan diumumkan kenaikan produksi sebesar 411.000 barel per hari. Indikator permintaan musim panas juga menjadi perhatian.
Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, mengatakan ekspektasi permintaan yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang turut menopang harga minyak pada Jumat.
“Kita mulai melihat premi permintaan terhadap harga minyak,” ujar Flynn.
Ia menambahkan, potensi berakhirnya perang 19 bulan antara Israel dan Hamas di Gaza serta kemungkinan kesepakatan dagang antara AS, Eropa, dan China turut memberikan sinyal positif bagi pasar.
“Jika kita mencapai kesepakatan dagang dengan China, prospeknya akan sangat cerah,” lanjut Flynn.
Dukungan tambahan terhadap harga juga datang dari laporan persediaan minyak yang menunjukkan penurunan signifikan pada produk distilat menengah, kata analis PVM Oil Associates, Tamas Varga.
Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu menunjukkan stok minyak mentah dan bahan bakar turun dalam sepekan sebelumnya, seiring meningkatnya aktivitas penyulingan dan permintaan.
Sementara itu, data Kamis mencatat persediaan gasoil independen di pusat penyimpanan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) jatuh ke level terendah dalam lebih dari setahun, sementara stok distilat menengah di Singapura juga turun akibat lonjakan ekspor mingguan.
Di sisi lain, impor minyak Iran oleh China melonjak pada Juni seiring percepatan pengiriman menjelang konflik Iran-Israel dan membaiknya permintaan dari kilang independen. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, tercatat membeli lebih dari 1,8 juta barel per hari minyak Iran pada 1–20 Juni, rekor tertinggi menurut data pelacakan kapal Vortexa.

