Harga Kripto Rungkad Terdalam Sejak FTX 2022, Analis Sarankan Lakukan Hal Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga kripto kian rungkad, bahkan dalam sehari semua koin dan token-token besar anjlok 10% lebih dan dalam sepekan lebih dari 20%. Pasar kripto mencatatkan salah satu penurunan harga paling tajam dalam sejarah modern dan menjadi penurunan harian terdalam sejak runtuhnya bursa FTX pada November 2022.
Dengan pergerakan tersebut, Bitcoin kini telah kehilangan lebih dari 50% nilainya dari rekor tertinggi (ATH) di US$126.000 yang tercapai pada Oktober 2025 lalu. Tekanan jual terjadi di tengah kondisi likuiditas pasar yang sangat tipis, di mana minimnya pesanan beli membuat setiap tekanan jual memicu efek domino likuidasi besar-besaran.
Sejumlah level support kunci seperti US$ 75.000 dan US$ 70.000 ditembus secara beruntun, mempercepat kejatuhan harga. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto. Aset lain juga ikut tertekan, dengan harga perak anjlok 14%, emas turun ke kisaran US$ 4.850, serta saham teknologi AS (Nasdaq) yang terus melemah.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, sentimen negatif saat ini terutama dipicu oleh macro driven sell off, yaitu aksi jual besar-besaran di pasar global yang biasanya terjadi ketika investor menghindari aset berisiko akibat faktor suku bunga, dolar AS yang menguat, atau kekhawatiran ekonomi. Dari data yang ada, Bitcoin sangat mengikuti pergerakan pasar tradisional dengan korelasi tinggi terhadap S&P 500 (92%) dan juga emas (80%), artinya penurunan BTC bukan murni karena masalah internal kripto, tapi lebih karena gelombang risk off secara global.
Selain faktor makro, penurunan makin parah karena terjadi liquidation cascade, yaitu banyak posisi long leverage yang terpaksa ditutup (lebih dari US$ 1 miliar likuidasi, mayoritas long), sehingga tekanan jual jadi semakin besar. Ditambah lagi BTC mengalami breakdown teknikal karena menembus support penting dan moving average, membuat panic selling makin kuat.
Baca Juga
Penurunan Biaya Transaksi Kripto Jadi Langkah Penting untuk Jaga Daya Saing
Dalam kondisi seperti ini, menurut Fyqieh strategi investor sebaiknya lebih fokus pada manajemen risiko daripada mengejar profit cepat. Karena pasar sedang didorong faktor makro dan volatilitas tinggi akibat leverage unwind, keputusan terbaik biasanya adalah menghindari posisi berlebihan (terutama leverage) dan menunggu konfirmasi apakah BTC mampu bertahan di area support penting seperti US$ 69.952 atau minimal tidak breakdown di bawah US$ 62.353.
Jika investor adalah holder jangka panjang, kondisi extreme fear dan RSI sangat oversold (sekitar 15) sering kali menjadi sinyal bahwa pasar sudah mendekati capitulation, sehingga strategi akumulasi bertahap (DCA) bisa lebih aman daripada all in. Selain itu investor perlu memantau ETF flows karena ini menjadi indikator penting apakah institusi mulai masuk lagi atau justru terus keluar.
"Intinya, di fase seperti ini investor sebaiknya disiplin, kurangi risiko, jangan panik jual di bawah, dan kalau ingin masuk, lakukan bertahap sambil tetap siap jika tren bearish berlanjut," katanya kepada Investortrust.id, Jumat (6/2/2026).
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai, pergerakan pasar saat ini telah memasuki fase kapitulasi. “Situasi saat ini sudah bukan lagi sekadar koreksi sehat, melainkan fase kapitulasi total. Turunnya Bitcoin hingga di bawah puncak harga tahun 2021 menunjukkan bahwa seluruh keuntungan dari reli Trump Trade telah terhapus sepenuhnya,” ujar Fahmi.
Fahmi menambahkan, sinyal yang paling mengkhawatirkan adalah ikut dijualnya aset-aset safe haven seperti emas dan perak. “Ketika emas dan perak ikut dilepas secara agresif, ini mengindikasikan investor berada dalam mode panik likuiditas. Level US$ 60.000 menjadi area harga yang sangat krusial saat ini untuk memungkinkan terjadinya fase konsolidasi dan stabilisasi pasar,” tambahnya.
Ke depan, pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan volatilitas global serta manajemen risiko secara ketat, mengingat tekanan likuiditas dan sentimen masih berpotensi mendominasi pergerakan aset berisiko dalam waktu dekat.
Prediksi Harga
Soal prediksi harga, secara jangka pendek, skenario BTC masih cenderung bearish karena struktur tren turun masih dominan. Materi menyebut level kunci yang harus diperhatikan adalah Fibonacci support di sekitar US$ 69.952. Jika BTC mampu bertahan di atas area ini, peluangnya bisa stabil dulu atau terjadi konsolidasi. Namun jika BTC turun menembus swing low penting di US$ 62.353, maka risiko penurunan lanjutan cukup besar menuju area psikologis US$ 60.000.
Bahkan beberapa prediksi analis ekstrem menyebut potensi penurunan lebih jauh, misalnya US$ 54.000 atau bahkan US$ 38.000. "Tapi untuk jangka pendek yang paling realistis dari data ini adalah area US$ 60.000–US$ 62.000 sebagai target apabila support terakhir gagal bertahan," katanya.
Baca Juga
Lebih lanjut, indikasi penurunan kepercayaan memang terlihat cukup jelas, terutama dari sisi institusi. Salah satu sinyal utamanya adalah outflow besar dari ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$ 545 juta, bahkan BlackRock IBIT mengalami penarikan harian besar sekitar US$ 373 juta. Ini menunjukkan institusi yang biasanya menjadi penopang demand sedang mengurangi eksposur atau setidaknya mengambil sikap defensif.
Dari sisi ritel, sentimen pasar juga turun ekstrem, ditunjukkan oleh Crypto Fear & Greed Index di level 5 (extreme fear), yang biasanya mencerminkan kepanikan dan capitulation. Jadi ya, bisa dibilang baik ritel maupun institusi mulai melemah keyakinannya dalam jangka pendek, walaupun data whale menunjukkan sebagian pemain besar justru mulai akumulasi, artinya tidak semua investor besar benar-benar “kabur”, ada juga yang melihat ini sebagai kesempatan beli.
Berdasarkan data CompaniesMarketCap, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di kisaran US$ 1,5–1,7 triliun, sehingga saat ini Bitcoin berada di luar 10 besar aset terbesar dunia. Di atasnya ada beberapa raksasa pasar seperti Meta Platforms, Taiwan Semiconductor (TSMC), dan Tesla, yang nilai pasarnya masih lebih besar dalam perhitungan kapitalisasi.
Artinya, jika dibandingkan dalam konteks aset global, yang mencakup emas, perusahaan teknologi besar, logam mulia, dan berbagai aset utama lain, Bitcoin saat ini berada di sekitar posisi ke-11 hingga ke-12 berdasarkan nilai pasar. Perlu diingat, peringkat ini bisa berubah cepat seiring volatilitas BTC dan pergerakan market cap aset lain.

