Merosot 2,6%, Ekspor Jepang Catat Penurunan Terdalam sejak 2021
Poin Penting
- Ekspor Jepang turun 2,6% pada Juli, penurunan terdalam sejak Februari 2021.
- Ekspor ke AS merosot 10,1%, sementara ekspor mobil jatuh 28,4%.
- Nikkei 225 turun 0,9%, yen melemah ke 147,79 per dolar.
- Analis peringatkan tarif 15% dapat mendorong Jepang ke jurang resesi.
TOKYO, investortrust.id - Ekspor Jepang jatuh 2,6% pada Juli secara tahunan, mencatat penurunan terdalam sejak Februari 2021. Pelemahan ini terjadi di tengah merosotnya pengiriman ke Amerika Serikat dan Tiongkok, dua pasar utama Negeri Sakura.
Baca Juga
Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Besar-besaran dengan Jepang, Tarif Timbal Balik 15%
Data Kementerian Keuangan menunjukkan penurunan tersebut lebih dalam dari kontraksi 2,1% yang diperkirakan ekonom Reuters, dan jauh lebih buruk dari penurunan 0,5% pada Juni. Impor Jepang ikut melemah 7,5%, lebih ringan dari perkiraan 10,4%.
Pasar ekspor terbesar Jepang, yakni AS, kembali menunjukkan kontraksi. Ekspor ke AS turun 10,1% pada Juli, sedikit lebih baik dari penurunan 11,4% bulan sebelumnya. Sektor otomotif, tulang punggung ekspor Jepang, menjadi titik terlemah: nilai ekspor mobil, bus, dan truk ke AS anjlok 28,4% dibanding tahun lalu.
Baca Juga
“Pengiriman mobil sempat melonjak pada April–Juni karena ada catch-up shipment pasca gangguan produksi di pabrik komponen pada Maret,” ujar Hirofumi Suzuki, Chief FX Strategist di Sumitomo Mitsui Banking Corporation kepada CNBC. Ia menambahkan, tren ekspor tetap bergejolak dan rawan terguncang kebijakan perdagangan AS.
Sementara itu, ekspor ke Tiongkok daratan melemah 3,5%, namun Hong Kong mencatat lonjakan 17,7%. Pasar keuangan bereaksi negatif: indeks Nikkei 225 terkoreksi 0,9%, sementara yen melemah tipis ke 147,79 per dolar.
Pelemahan ekspor terjadi hanya beberapa minggu setelah Jepang mencapai kesepakatan dagang dengan Washington pada 22 Juli. Kesepakatan itu menurunkan tarif timbal balik mobil dari 25% menjadi 15% setelah ancaman Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Namun, dampaknya baru akan terlihat pada data Agustus.
Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, memperingatkan dalam riset 14 Agustus bahwa Jepang berisiko masuk resesi jika tarif impor AS menekan daya saing industri otomotif lebih dalam. “Skalanya akan bergantung pada seberapa besar efek tarif menyebar ke sektor riil,” ujarnya.

