Iran Serukan Zona Bebas Nuklir di Timur Tengah, Desak Israel Harus Tunduk Juga
TEHERAN, investortrust.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan pembentukan kawasan Timur Tengah yang bebas dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal, namun menegaskan bahwa langkah itu hanya bermakna jika Israel juga dimasukkan dalam kerangka pembatasan tersebut.
Dalam percakapan diplomatik dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Pezeshkian menyatakan kesiapan Iran untuk bekerja sama meningkatkan stabilitas kawasan. “Kami setuju menciptakan kawasan yang bebas dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal, tentu saja, dengan syarat bahwa kawasan itu juga mencakup Israel,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip Antara.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang baru saja mereda, setelah perang 12 hari antara Iran dan Israel — yang juga menyeret Amerika Serikat — diakhiri melalui gencatan senjata yang dimediasi langsung oleh Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Trump Umumkan Rencana Gencatan Senjata Iran-Israel, Sebut 'Perang 12 Hari' Berakhir
Meja Diplomasi
Ketegangan dua negara memuncak pada 13 Juni ketika Israel meluncurkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas strategis Iran, mengeklaim adanya program nuklir rahasia. Teheran merespons dengan menyerang sasaran militer di Israel, yang kemudian diikuti oleh serangan udara besar dari AS pada 22 Juni terhadap tiga situs nuklir utama Iran: Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
Puncaknya terjadi pada 23 Juni ketika Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar. Namun, hampir seluruh rudal berhasil dicegat. Malam harinya, Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata telah dicapai antara kedua pihak dan berlaku mulai Selasa, 24 Juni.
Pezeshkian, yang baru menjabat tahun lalu dengan mandat reformasi moderat, memanfaatkan momentum gencatan ini untuk menggeser narasi dari konflik menuju denuklirisasi regional. Dalam konteks ini, ia mendapat dukungan dari perwakilan Iran di PBB, Amir Saeid Iravani, yang pada 22 Juni mendesak Dewan Keamanan agar menempatkan fasilitas nuklir Israel di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Isu Lama, Ketegangan Baru
Permintaan Iran agar Israel tunduk pada rezim pengawasan nuklir bukan hal baru, namun dalam konteks pasca-konflik ini, muncul dengan nada lebih tegas.
Para analis menilai langkah ini sebagai upaya Teheran menempatkan dirinya di posisi normatif: bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai penyeimbang yang mengusulkan solusi multilateralisme regional.
Iran sedang mencoba memanfaatkan momentum geopolitik untuk memaksa isu ini masuk ke agenda global. Namun, kecil kemungkinan Israel akan tunduk pada inspeksi IAEA, mengingat doktrin ambigu yang selama ini dijalankan: tidak mengakui, tapi juga tidak membantah memiliki senjata nuklir.

