Diam-Diam, Perang Siber Iran-Israel Kian Memanas: Bank Iran Jadi Korban
WASHINGTON, investortrust.id - Ketegangan militer antara Iran dan Israel kini merambah dunia digital. Di tengah serangan rudal yang saling dilancarkan, gelombang serangan siber dari kedua negara meningkat tajam, menyasar infrastruktur penting, lembaga keuangan, bahkan perangkat pribadi warga sipil.
Menurut pakar keamanan siber yang dua dekade bekerja di Microsoft dan kini bermitra di firma hukum Advance Cyber Law, Cristin Flynn Goodwin, perang siber antara Iran dan Israel bukanlah hal baru. Namun intensitasnya meningkat drastis setelah serangan rudal Israel ke Teheran pekan lalu.
Menurut pakar keamanan siber yang dua dekade bekerja di Microsoft dan kini bermitra di firma hukum Advance Cyber Law, Cristin Flynn Goodwin, perang siber antara Iran dan Israel bukanlah hal baru. Namun intensitasnya meningkat drastis setelah serangan rudal Israel ke Teheran pekan lalu.
“Unit 8200 milik Israel sudah lama dikenal sebagai salah satu kekuatan siber terbaik di dunia. Sementara Iran punya IRGC dan Mabna Institute yang juga agresif dan sangat terorganisir,” kata Goodwin kepada KIRO Newsradio, dikutip dari MyNorthWest, Senin (23/6/2025).
Data dari Ragnar Cybersecurity menunjukkan bahwa serangan siber dari Iran ke target-target Israel melonjak hingga 700% dalam beberapa hari terakhir. Selain peretasan sistem, sejumlah serangan juga dilakukan secara psikologis, termasuk melalui pesan teks ancaman.
Salah satu serangan yang menimbulkan keresahan adalah SMS teror yang dikirimkan oleh peretas Iran ke ribuan warga Israel. Pesan itu berisi ancaman serangan teroris, diduga untuk menciptakan kepanikan di tengah masyarakat sipil.
Israel pun tak tinggal diam. Kelompok peretas asal Israel bernama Predatory Sparrow mengklaim telah meretas dan menghapus seluruh data Bank Sepah, lembaga keuangan yang disebut-sebut digunakan pemerintah Iran untuk menghindari sanksi, mendanai program rudal balistik, serta kelompok militan proksi.
Serangan ini dianggap sebagai salah satu yang paling merusak terhadap sektor keuangan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Bank Sepah memainkan peran sentral dalam arsitektur keuangan Iran yang terhubung dengan program militer dan nuklir.
Sebelumnya, pada 2023, FBI dan NSA mengungkap peretasan terhadap sistem kontrol air di fasilitas publik Amerika Serikat. Sistem tersebut dikembangkan oleh perusahaan Israel, dan diyakini disusupi oleh kelompok peretas yang memiliki afiliasi militer Iran. Kasus itu memicu kekhawatiran akan kemungkinan sabotase layanan publik esensial.
Sementara pada September 2024, Israel dituding berada di balik meledaknya perangkat komunikasi milik kelompok Hizbullah di Lebanon, termasuk pager dan ponsel. Meski belum dikonfirmasi secara resmi, banyak analis menilai insiden itu sebagai bagian dari operasi siber ofensif.
Goodwin menjelaskan bahwa selain untuk menyerang, kedua negara juga menggunakan peretasan untuk memantau dampak serangan rudal secara real-time. Tujuannya, untuk mengevaluasi kerusakan dan merancang langkah lanjutan secara strategis.
Meski belum terlihat ada indikasi serangan besar terhadap infrastruktur vital seperti jaringan listrik atau transportasi massal, Goodwin mengingatkan bahwa risikonya nyata. “Kalau sistem kelistrikan atau pasokan air sampai diserang, bisa menimbulkan krisis kemanusiaan dalam hitungan jam,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik ini tidak hanya berdampak pada Israel dan Iran. Perusahaan dan warga di negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, berpotensi ikut terdampak. Iran memiliki rekam jejak panjang melancarkan serangan siber lintas negara saat tensi geopolitik meningkat.
“Kalau perangkat Anda belum di-update ke sistem keamanan terbaru, sekarang saatnya. Gejolak geopolitik seperti ini adalah alarm paling keras untuk mengamankan semua pintu dan jendela digital Anda,” tutup Goodwin.

