Yield USTreasury Turun, Pasar Khawatir Perlambatan Ekonomi AS
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menurun signifikan pada Selasa (17/6/2025), setelah data penjualan ritel menunjukkan pelemahan konsumsi dan kondisi geopolitik kembali membara. Kombinasi tekanan domestik dan global mendorong investor kembali memburu aset aman, memperkuat reli di pasar surat utang.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 6 bps ke level 4,387%, sementara yield tenor 2 tahun terkoreksi 2 bps ke 3,946%, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa ekonomi AS mulai kehilangan daya dorong.
Penjualan ritel turun 0,9% pada Mei, jauh di bawah ekspektasi konsensus yang memproyeksikan kontraksi 0,6%. Sektor-sektor sensitif seperti SPBU mencatat penurunan hingga 2%, memunculkan sinyal awal perlambatan ekonomi yang bisa berujung pada risiko resesi.
Baca Juga
Di luar faktor domestik, meningkatnya tensi antara Israel dan Iran menjadi pemicu tambahan pergerakan pasar. Presiden Donald Trump memutuskan hengkang lebih awal dari KTT G7 di Kanada dan mendesak evakuasi warga dari Teheran, menyusul potensi serangan besar Israel ke ibu kota Iran.
“Konflik terus memburuk tanpa tanda-tanda de-eskalasi, dan pasar mulai menilai ulang risiko global,” tulis Deutsche Bank dalam catatannya. Konflik udara antara kedua negara telah memasuki hari kelima dan memperbesar kemungkinan gangguan stabilitas kawasan.
Pertemuan G7 pun berakhir tanpa komunike bersama, mencerminkan fragmentasi posisi di antara negara-negara besar dunia dalam menghadapi krisis geopolitik dan ekonomi global yang kompleks.
Investor kini menantikan sinyal kebijakan dari The Fed, yang dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan dalam minggu ini. Tekanan data ekonomi terbaru bisa memperkuat peluang perubahan sikap menjadi lebih dovish, meski ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga baru akan terealisasi mulai September.

