Emas Menguat, tapi Masih Jauh dari Posisi Puncak US$ 3.500
NEW YORK, investortrust.id – Harga emas menguat pada Jumat (2/5), memulihkan sebagian beban yang menekan logam mulia tersebut ke level terendah dua pekan pada hari sebelumnya. Meski demikian, kombinasi meredanya tensi perdagangan global dan laporan ketenagakerjaan yang di atas ekspektasi menempatkan harga emas pada jalur penurunan mingguan kedua secara berturut-turut.
Baca Juga
Harga emas spot naik 0,5% ke level US$ 3.255,01 per ons, setelah menyentuh titik terendah sejak 14 April di sesi sebelumnya. Sepekan ini, harga emas tercatat turun 2,1%, menjauh dari rekor tertinggi US$ 3.500,05 yang tercapai pada 22 April. Sementara itu, kontrak berjangka emas di bursa AS ditutup naik 1,3% ke US$ 3.262,10 per ons.
Kementerian Perdagangan China mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah beberapa kali menyampaikan niat untuk kembali membuka pembicaraan terkait tarif, dan menegaskan bahwa Beijing masih membuka pintu untuk negosiasi.
Baca Juga
China Buka Peluang Dialog Dagang dengan AS, Pasar Asia Menguat
“Level US$ 3.500 tampaknya menjadi batas atas emas untuk sementara waktu,” ujar Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di RJO Futures, seperti dikutip CNBC. Jika kesepakatan dagang mulai terlihat dan selera risiko investor mulai membaik, maka tren turun bisa terus berlanjut.
Dari sisi data, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan nonfarm payrolls bertambah 177.000 pada April, di atas konsensus pasar yang memperkirakan hanya 130.000 pekerjaan. Meski demikian, data Maret direvisi turun menjadi 185.000 dari sebelumnya.
Baca Juga
Lapangan Kerja AS April Tumbuh Kuat, Trump Kembali ‘Senggol’ The Fed
Analis melihat laporan ini belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari kebijakan tarif AS yang fluktuatif, dan bersifat retrospektif. Namun, hasil tersebut cukup untuk membuat pasar kembali meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut menguat sebagai reaksi atas data tenaga kerja yang solid. Lonjakan imbal hasil ini ikut menekan minat terhadap emas, yang tidak memberikan imbal hasil, dalam konteks lingkungan suku bunga yang tetap tinggi.

