Wall Street Meroket Setelah Trump Tunda Tarif Baru, Dow Jones Terbang Lebih dari 2.900 Poin
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham AS mencatat lonjakan luar biasa pada Rabu waktu AS atau Kamis (10/4/2025) WIB. Reli terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan jeda atas sejumlah tarif “timbal balik” di seluruh dunia. Pasar yang telah berada di bawah tekanan ekstrem selama seminggu terakhir, langsung ‘meledak’.
Baca Juga
Perang Tarif Picu Aksi Jual di Wall Street, Dow Merosot Lebih dari 300 Poin
S&P 500 meroket, naik 9,52% ditutup pada angka 5.456,90, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2008. Untuk S&P 500, hal ini merupakan kenaikan terbesar ketiga dalam sejarah pasca-Perang Dunia II.
Dow Jones Industrial Average melejit 2.962,86 poin, atau 7,87%, ditutup pada angka 40.608,45, mencatat kenaikan persentase terbesar sejak Maret 2020. Nasdaq Composite melonjak sebesar 12,16% hingga berakhir pada angka 17.124,97, mencatat lonjakan harian terbesar sejak Januari 2001 dan hari terbaik kedua sepanjang masa.
Sekitar 30 miliar saham berpindah tangan, menjadikannya hari dengan volume perdagangan terberat di Wall Street dalam sejarah, berdasarkan catatan yang ada selama 18 tahun terakhir.
“Saya telah mengesahkan ‘pause’ selama 90 hari, dan tarif timbal balik yang secara substansial diturunkan selama periode ini sebesar 10%, yang juga berlaku segera,” tulis Trump di Truth Social. Dalam postingan yang sama, Trump mengatakan bahwa ia menaikkan tarif impor dari China menjadi 125%.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Menteri Keuangan Scott Bessent kemudian menjelaskan bahwa semua negara kecuali China akan kembali ke tarif dasar sebesar 10%, turun dari tarif yang sebelumnya lebih tinggi dan mengejutkan pasar, selama berlangsungnya negosiasi. Tapi, menurut Bessent, jeda itu tidak berlaku untuk tarif sektor.
Saham Teknologi Melejit
Saham-saham yang mengalami tekanan berat akibat ketegangan perang dagang memimpin kebangkitan pada siang hari Rabu. Apple dan Nvidia meroket lebih dari 15% dan hampir 19%, masing-masing. Saham Walmart melonjak 9,6%. Saham Tesla naik lebih dari 22% seiring dengan pengumuman jeda tersebut.
“Mempertimbangkan betapa tertekan harga saham dan sentimen pasar, jeda 90 hari ini memicu reli yang sangat kuat, dan penundaan pelaksanaannya jelas menghilangkan beban raksasa yang selama ini menggantung di pasar,” kata Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, seperti dikutip CNBC. Namun, sentimen tarif tidak akan hilang begitu saja. “Tarif China kini telah mencapai angka tiga digit, dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam 90 hari ketika jeda ini berakhir,” ujarnya.
Sebelum pengumuman jeda 90 hari ini, para investor sudah berada di tepi kegelisahan atas eskalasi timbal balik antara China dan Trump. Uni Eropa juga telah menyetujui paket pertama tarif terhadap AS yang akan mulai berlaku pada 15 April.
Meski demikian, saham-saham terus menunjukkan tren kenaikan hingga siang hari. Para trader merasa didorong setelah Bessent menyatakan bahwa dirinya akan memimpin negosiasi dalam pembicaraan tarif. Presiden Trump juga mendesak para investor bahwa saat ini adalah “waktu yang tepat untuk membeli” tak lama setelah pasar dibuka dalam sebuah posting di Truth Social.
Pengumuman jeda Trump disampaikan pada pukul 1:18 siang ET ketika Dow sudah naik sekitar 350 poin pada hari itu. Beberapa detik kemudian, indeks 30 saham tersebut melesat naik lebih dari 2.000 poin.
Dalam sebuah konferensi pers di sore harinya, Trump mengatakan bahwa kekhawatiran para investor sudah berlebihan.
“Saya pikir orang-orang mulai bereaksi secara berlebihan. Mereka mulai terlalu bersemangat, Anda tahu, mereka mulai agak panik, agak takut,” ujar Trump.
Baca Juga
Perang Dagang Hantam Wall Street, Dow Ambles 2.200 Poin, S&P 500 Anjlok Hampir 6%
Kekhawatiran seputar peluncuran tarif telah memicu penurunan empat hari berturut-turut untuk saham-saham. Selama empat sesi perdagangan sebelumnya, Dow kehilangan lebih dari 4.500 poin, sedangkan S&P 500 turun sebesar 12%. Nasdaq Composite turun lebih dari 13% selama periode tersebut. Penurunan ini belum pernah terlihat sejak pandemi Covid-19.
“Hal ini memungkinkan setidaknya adanya reli jangka pendek, tetapi saya tidak akan berasumsi bahwa dasar pasar sudah terbentuk,” tambah Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi di CFRA Research.

