Picu Kekacauan Global, China Sebut Genderang Perang Tarif yang Ditabuh AS ‘Tidak Beralasan’
BEIJING, investortrust.id - Kementerian Luar Negeri China menyerukan Gedung Putih untuk meredakan perang dagang yang semakin memanas. Genderang perang tarif yang dimulai AS dinilai ‘tidak beralasan’, dan telah memicu kekacauan di pasar global.
Baca Juga
Efek Tarif Impor Trump, Wall Street Terjun ke Jurang 'Merah' hingga Bursa Eropa Hancur Lebur
Pasar saham AS Jumat anjlok tajam, dengan ketiga indeks utama turun lebih dari 5% sebagai bagian dari kejatuhan pasar global. Ini melanjutkan kejatuhan Wall Street selama dua hari berturut-turut. Bursa global bereaksi negatif terhadap kebijakan tarif Trump.
Gejolak pasar semakin diperparah ketika Kementerian Keuangan China mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan tarif sebesar 34% atas semua barang yang diimpor dari AS mulai 10 April.
Baca Juga
Balas Tarif Trump, China Terapkan Tarif 34% atas Barang Impor asal AS
Tanggapan dari Beijing meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi, resesi, dan pertumbuhan ekonomi global.
“Pasar telah berbicara,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam sebuah unggahan di Facebook, dikutip dari CNBC, Minggu (06/04/2025).
Baca Juga
Perang Dagang Hantam Wall Street, Dow Ambles 2.200 Poin, S&P 500 Anjlok Hampir 6%
Membagikan sebuah gambar yang merujuk pada penurunan pasar saham AS pada hari Jumat, Guo menyebutkan bahwa perang dagang dan tarif yang dimulai oleh AS terhadap dunia ‘tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan’.
Ia menyerukan Gedung Putih untuk menyelesaikan perbedaan dengan mitra dagang melalui “konsultasi yang setara.”
Seorang juru bicara Gedung Putih belum tersedia untuk memberikan komentar saat dihubungi oleh CNBC.
Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu mengumumkan tarif baru yang luas sebagai bagian dari kebijakan “tarif timbal balik,” termasuk tarif 10% terhadap hampir semua negara dan tarif yang jauh lebih tinggi terhadap banyak lainnya.
Trump menargetkan China dengan tambahan tarif timbal balik sebesar 34%, sehingga total tarif AS terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia itu menjadi 54%.
Trump tampaknya tidak terganggu oleh reaksi pasar terhadap peluncuran tarifnya, dan menulis di Truth Social bahwa “korporasi besar” tidak khawatir tentang tarif tersebut dan bahwa “kebijakannya tidak akan pernah berubah.”

