Wall Street Terjun Makin Dalam Dipicu Kekhawatiran Inflasi, Dow Anjlok Lebih dari 700 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham anjlok pada Jumat waktu AS atau Sabtu (29/03/2025) WIB, tertekan oleh ketidakpastian yang meningkat terkait kebijakan perdagangan AS serta prospek inflasi yang semakin suram.
Baca Juga
Wall Street Tergilas Tarif Otomotif Trump, Dow Jatuh Hampir 200 Poin
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 715,80 poin, atau 1,69%, di 41.583,90. S&P 500 merosot 1,97% menjadi 5.580,94, mengakhiri minggu ini dengan penurunan untuk kelima kalinya dalam enam minggu terakhir. Nasdaq Composite jatuh 2,7% dan menetap di 17.322,99.
Saham beberapa raksasa teknologi mengalami penurunan, memberikan tekanan pada pasar yang lebih luas. Induk perusahaan Google, Alphabet, kehilangan 4,9%, sementara Meta dan Amazon masing-masing turun 4,3%.
Pekan ini, S&P 500 turun 1,53%, sementara Dow yang terdiri dari 30 saham kehilangan 0,96%. Nasdaq merosot 2,59%.
Saham semakin melemah pada hari Jumat setelah University of Michigan merilis sentimen konsumen untuk bulan Maret mencerminkan ekspektasi inflasi jangka panjang tertinggi sejak 1993.
Baca Juga
Terus Menurun, Kepercayaan Konsumen AS Capai Titik Terendah dalam 12 Tahun
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE) yang dirilis pada hari Jumat juga lebih tinggi dari perkiraan, naik 2,8% pada bulan Februari dan mencatat kenaikan 0,4% dalam sebulan, memicu kekhawatiran tentang inflasi yang terus berlanjut. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones sebelumnya memperkirakan angka masing-masing sebesar 2,7% dan 0,3%. Pengeluaran konsumen meningkat 0,4% dalam sebulan, di bawah perkiraan 0,5%, menurut data terbaru dari Biro Analisis Ekonomi AS.
“Pasar sedang terjepit dari kedua sisi. Ada ketidakpastian tentang tarif timbal balik minggu depan yang akan berdampak pada sektor ekspor utama seperti teknologi, bersamaan dengan kekhawatiran tentang konsumen yang melemah akibat harga yang lebih tinggi yang mempengaruhi sektor barang diskresi,” urai Scott Helfstein, kepala strategi investasi di Global X, seperti dilansir CNBC.
Baca Juga
Inflasi Inti PCE AS Februari Capai 2,8% YoY, Lebih Tinggi dari Perkiraan
Namun, Helfstein menambahkan bahwa berita tentang inflasi dan pengeluaran konsumen “tidak terlalu buruk” dan mungkin hanya mewakili gangguan sementara dalam sentimen jangka pendek, sementara investor berusaha memahami kebijakan baru pemerintahan Trump.
“Terlepas dari aksi jual hari ini dan volatilitas pasar yang lebih luas dalam beberapa minggu terakhir, belum ada arus masuk besar ke pasar uang. Tampaknya banyak investor mencoba bertahan melewati ini,” bebernya.
Laporan inflasi terbaru ini muncul di tengah gelombang pengumuman tarif dari Gedung Putih, yang telah mengguncang pasar dalam beberapa minggu terakhir. Investor kini menantikan tanggal 2 April, ketika Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengumumkan rencana tarif lebih lanjut untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut.
Pada hari Jumat, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan kepada Trump bahwa pemerintah Kanada akan menerapkan tarif balasan setelah pengumuman tarif pada hari Rabu. Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Uni Eropa sedang mengidentifikasi konsesi yang dapat mereka tawarkan kepada pemerintahan Trump untuk mengurangi tarif timbal balik dari AS.
Awal minggu ini, Trump mengumumkan tarif 25% untuk “semua mobil yang tidak dibuat di Amerika Serikat,” sebuah keputusan yang merugikan saham otomotif dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi.

