Inflasi Inti PCE AS Februari Capai 2,8% YoY, Lebih Tinggi dari Perkiraan
NEW YORK, investortrust.id - Ukuran inflasi utama Federal Reserve naik lebih dari yang diperkirakan pada bulan Februari. Sedangkan, pengeluaran konsumen mencatat kenaikan yang lebih kecil dari perkiraan, menurut laporan Departemen Perdagangan AS pada Jumat (28/03/2025).
Baca Juga
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti menunjukkan kenaikan 0,4% dalam sebulan, kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2024, sehingga tingkat inflasi tahunan mencapai 2,8%. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones sebelumnya memperkirakan angka masing-masing sebesar 0,3% dan 2,7%.
Inflasi inti tidak mencakup harga makanan dan energi yang bergejolak dan umumnya dianggap sebagai indikator yang lebih baik untuk tren inflasi jangka panjang.
Dalam ukuran semua produk, indeks harga naik 0,3% dalam sebulan dan 2,5% dari tahun sebelumnya, keduanya sesuai dengan perkiraan.
Sementara itu, laporan dari Biro Analisis Ekonomi AS menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen meningkat 0,4% dalam sebulan, di bawah perkiraan 0,5%. Hal ini terjadi seiring dengan kenaikan pendapatan pribadi sebesar 0,8%, melampaui estimasi sebesar 0,4%.
Futures saham sempat turun setelah laporan ini dirilis, begitu pula imbal hasil USTreasury.
Pejabat Federal Reserve berfokus pada pembacaan inflasi PCE karena dianggap sebagai ukuran yang lebih luas yang juga menyesuaikan dengan perubahan perilaku konsumen serta memberi bobot lebih kecil pada perumahan dibandingkan dengan Indeks Harga Konsumen (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja. Biaya tempat tinggal tetap menjadi salah satu elemen inflasi yang paling sulit ditekan dan naik 0,3% dalam ukuran PCE.
"Tampaknya The Fed yang masih dalam posisi ‘wait and see’ perlu menunggu lebih lama lagi," kata Ellen Zentner, kepala ahli strategi ekonomi di Morgan Stanley Wealth Management, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, bacaan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini memang tidak terlalu ‘panas’, tetapi juga tidak akan mempercepat jadwal The Fed untuk memangkas suku bunga, terutama mengingat ketidakpastian terkait tarif.
Harga barang naik 0,2%, dipimpin oleh barang rekreasi dan kendaraan yang meningkat 0,5%. Harga bensin mengimbangi beberapa kenaikan ini, dengan kategori tersebut turun 0,8%. Harga jasa naik 0,4%.
Rumah tangga juga semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka, karena tingkat tabungan pribadi meningkat menjadi 4,6%, tertinggi sejak Juni 2024.
Laporan ini dirilis di tengah kekhawatiran pasar bahwa rencana tarif Presiden Donald Trump dapat memperburuk inflasi. Padahal, data inflasi secara perlahan telah bergerak menuju target 2% The Fed.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Masih Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
Setelah memangkas suku bunga sebesar satu poin persentase penuh pada 2024, bank sentral telah menahan kebijakan suku bunga tahun ini. Para pejabat baru-baru ini mengungkapkan kekhawatiran mengenai dampak tarif impor terhadap harga. Para ekonom umumnya menganggap tarif sebagai peristiwa satu kali yang tidak berdampak pada tekanan inflasi jangka panjang, tetapi cakupan luas dari tarif Trump serta potensi perang dagang global yang agresif mengubah dinamika tersebut.

