‘Bubble’ SPV Hantui Silicon Valley
NEW YORK, investortrust.id – Salah satu akronim paling populer di Silicon Valley saat ini adalah SPV atau special purpose vehicle. Dalam dunia startup teknologi, ini adalah jenis dana investasi yang biasanya mengonsentrasikan seluruh asetnya pada satu perusahaan. SPV telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir karena investor berlomba ingin mendapat bagian dari startup sukses yang sering kali memiliki valuasi puluhan miliar dolar.
Baca Juga
Namun, pembeli harus berhati-hati. Investor memperingatkan adanya biaya tersembunyi, aturan kepemilikan yang tidak jelas, dan pemasaran yang didorong oleh FOMO (fear of missing out), atau ketakutan akan ketinggalan peluang.
Modal ventura tradisional menyebarkan risiko di berbagai startup, dengan pemahaman bahwa sebagian besar investasi akan gagal, dan satu atau dua kesuksesan akan mengembalikan dana tersebut berkali-kali lipat. Dalam SPV, seorang fund manager biasanya mengumpulkan modal untuk satu kesepakatan dan merekrut sekelompok investor kecil untuk bergabung dengan biaya tambahan yang mencakup manajemen dan biaya lainnya.
Beberapa perusahaan modal ventura ternama menggunakan SPV untuk menawarkan mitra terbatas mereka, seperti dana abadi, dana pensiun, atau investor kaya, porsi lebih besar dalam satu startup tertentu. Ini memungkinkan perusahaan menulis cek lebih besar dan memperoleh kepemilikan lebih banyak daripada yang mungkin dilakukan menggunakan dana mereka yang sudah ada.
“Dalam modal ventura, hanya segelintir pemenang yang menghasilkan semua keuntungan. SPV adalah taruhan satu kali. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, tidak ada kesempatan kedua,” tutur Sandeep Dahiya, profesor keuangan di McDonough School of Business, Georgetown, dikutip dari CNBC, Jumat (28/03/2025).
Enam tahun lalu, SPV hanya menyumbang 7% dari saham privat yang diperdagangkan di Forge Global, sebuah pasar untuk saham perusahaan swasta. Angka itu kini melonjak menjadi 64%.
SPV telah menjadi pilar utama dalam kesepakatan kecerdasan buatan (AI) besar sepanjang tahun lalu, termasuk OpenAI, Anthropic, dan CoreWeave, yang dijadwalkan go public minggu ini. Magnetar, investor institusional terbesar di CoreWeave, menggunakan SPV untuk membangun kepemilikannya di perusahaan infrastruktur AI tersebut.
Baca Juga
Kehadiran DeepSeek Tak Berpengaruh, OpenAI Klaim Punya 400 Juta Pengguna Aktif!
“Kami melihat banyak penggalangan dana melalui SPV di perusahaan AI. Ini adalah cara untuk mengumpulkan dana dalam jumlah besar, dalam waktu singkat,” kata Howe Ng, kepala data dan solusi investasi di Forge Global, kepada CNBC. Semakin ngetop namanya, semakin tinggi biayanya.
AngelList, yang juga menyediakan akses ke SPV dan saham sekunder, mencatat lonjakan serupa. CEO Avlok Kohli mengatakan bahwa platformnya mengalami peningkatan arus SPV sebesar 65% dalam setahun terakhir, sebagian karena pasar modal ventura mulai pulih setelah beberapa tahun suram yang didominasi oleh inflasi dan suku bunga tinggi.
Kohli melihat beberapa praktik mencurigakan dalam pasar SPV. Ketika ia secara pribadi berinvestasi dalam sebuah startup melalui sindikat enam tahun lalu, ia menemukan ada banyak lapisan biaya dan kurangnya transparansi.
“Ada banyak hal yang tidak diungkapkan kepada saya. Jelas orang yang saya ikuti dalam investasi itu tidak tahu apa yang sedang terjadi di perusahaan tersebut, dan pengalaman saya sebagai [mitra terbatas] itu membekas di benak saya. Saya lebih memilih tidak ada orang lain yang mengalami hal serupa,” paparnya.
Kohli mengatakan AngelList sering kali menolak SPV yang tidak dapat diverifikasi. Dalam kasus ekstrem, ia menjelaskan, dana akan mengumpulkan uang untuk berinvestasi di startup tanpa jaminan bahwa mereka benar-benar akan memiliki sahamnya. Ia menyebut praktik semacam itu sebagai penipuan dan mengatakan bahwa ini terjadi “di setiap siklus pasar bullish.”
Pertanda Buruk
Namun, ada beberapa perbedaan kali ini. Selain adanya antrean panjang perusahaan bernilai tinggi yang tertahan akibat pasar IPO yang lesu dan banyaknya modal swasta yang tersedia, karyawan di perusahaan tahap akhir mulai mencairkan kepemilikan mereka dengan menjual saham dalam putaran sekunder. Ini menciptakan lebih banyak peluang untuk transaksi SPV.
Keuntungan di pasar swasta belakangan ini melampaui pasar saham, menarik lebih banyak minat dari investor dengan kekayaan tinggi. Indeks pasar swasta Forge naik 32% dalam tiga bulan terakhir, melampaui kenaikan S&P 500 dan Nasdaq-100, yang justru melemah pada kuartal pertama.
Baca Juga
Wall Street Rontok Terseret Saham Teknologi, Nasdaq Merosot Lebih dari 1%
Untuk berinvestasi dalam SPV, individu harus memenuhi kualifikasi sebagai investor “terakreditasi” dan memenuhi ambang batas tertentu yang ditetapkan oleh SEC. Kualifikasi ini mencakup memiliki kekayaan bersih setidaknya $1 juta dan penghasilan tahunan setidaknya $200.000 selama dua tahun terakhir. Pada tingkat ini, SEC menganggap investor cukup berpengalaman untuk melindungi kepentingan keuangan mereka sendiri meskipun ada risiko berinvestasi dalam sekuritas yang tidak terdaftar.
“Karena ini adalah perusahaan swasta, diharapkan Anda tahu apa yang Anda lakukan,” kata Dahiya dari Georgetown.
Hans Swildens, CEO dan pendiri Industry Ventures, yang berfokus pada investasi di pasar sekunder, mengatakan bahwa akses terhadap informasi merupakan tantangan besar dan data transaksi masih terbatas. Ia memperkirakan hanya 10% dari kesepakatan sekunder yang dipublikasikan.
“Sepanjang waktu, pihak yang bertransaksi tidak ingin mengungkapkan apa yang mereka beli atau jual. Mereka tidak mengeluarkan siaran pers,” katanya.
Hukum mengharuskan SPV untuk mengungkapkan biaya mereka. Namun, jumlah akhir yang dibayarkan investor SPV dapat bervariasi tergantung pada periode kepemilikan aset. Semakin lama masa tunggu hingga akuisisi atau IPO, semakin besar keuntungan yang diperlukan untuk mengimbangi biaya tersebut.
Swildens mengatakan ledakan SPV ini memiliki kemiripan dengan puncak gelembung dot-com, ketika investor ritel menggelontorkan uang ke perusahaan internet yang sedang naik daun.
“Ini biasanya pertanda buruk di pasar kami ketika investor ritel mulai masuk. Jika ritel terus masuk dalam satu atau dua tahun ke depan dan menjadi bagian yang lebih besar dari pasar ini, saya akan mengatakan itu mungkin sinyal bagus bagi investor institusional untuk mengurangi risiko dan menjual,” bebernya.

