Ketika DeepSeek Mengguncang Silicon Valley dan Gedung Putih
CALIFORNIA, investortrust.id – Perusahaan rintisan asal China, DeepSeek secara mengejutkan berhasil mengungguli aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) besutan perusahaan-perusahaan teknologi papan atas Amerika Serikat (AS). DeepSeek menantang pendahulunya, aplikasi AI Chat-GBT milik OpenAI, Llama bikinan Meta, atau Gemini andalan Google.
Lewat model aplikasi AI teranyarnya seri V3 dan R1, DeepSeek mendapatkan banyak pujian karena kemampuannya yang dianggap setanding dengan aplikasi serupa. DeepSeek bikin geger gegara aplikasinya laris diunduh di dua toko aplikasi App Store (Apple) dan Playstore (Google). Pada pekan ketiga Januari 2025, DeepSeek sudah diunduh sekitar 170 juta pengguna di AS.
Dirilis pada 10 Januari 2025, DeepSeek-V3 menarik perhatian karena disebut "memimpin peringkat atas, di antara model open-source" dan mampu menyaingi model closed-source terbaik dunia. Berdasarkan data dari Sensor Tower, aplikasi ini telah melonjak popularitasnya di AS hanya dalam waktu dua pekan saja.
Dilansir dari Bloomberg, Senin (27/1/2025), keberhasilan DeepSeek menjadi perbincangan di Silicon Valley, markas perusahaan teknologi canggih AS. DeepSeek menjadi bukti meski China menghadapi pembatasan ekspor chip oleh AS, inovasi mereka tak terbendung dan tetap bisa berkembang pesat, bahkan merobek jantung pasar AI negara maju.
DeepSeek-V3 diklaim menggunakan chip Nvidia H800, yang dianggap kurang canggih dibandingkan chip terbaru yang dibatasi oleh AS. Bahkan biaya pengembangan model ini hanya menghabiskan kurang dari US$ 6 juta atau jauh lebih murah ketimbang biaya pengembangan model serupa milik OpenAI atau Meta. Bandingkan dengan OpenAIyang harus menyedot dana US$ 5,4 miliar setahun. Atau Google yang membelanjakan modal sebesar US$ 51 miliar pada 2024.
Sementara itu DeepSeek-R1 menawarkan kinerja yang sebanding dengan ChatGPT besutan OpenAI dengan biaya lebih rendah. DeepSeek mengeklaim model R1 sebagai langkah besar dalam mendorong batasan teknologi AI berbasis open-source, yang menunjukkan kemampuan penalaran luar biasa.
Menariknya, model ini mempertahankan hasil berkualitas tinggi lewat efisiensi dan pendekatan inovatif. Model ini sekaligus menjadi bukti komitmen perusahaan terhadap inovasi dan kinerja dalam skala besar. Biaya model ini diklaim 20 hingga 50 kali lebih hemat dibandingkan model o1 milik OpenAI. Informasi ini disampaikan melalui akun resmi WeChat DeepSeek.
DeepSeek kini dianggap sebagai pesaing utama OpenAI, terutama karena efisiensi biaya dan aksesibilitas teknologi yang lebih mudah. Di sisi lain, OpenAI justru mengandalkan infrastruktur mahal dan chip canggih untuk melatih modelnya. TechCrunch melaporkan bahwa DeepSeek menunjukkan pendekatan yang lebih hemat, tapi tetap menghasilkan performa tinggi.
DeepSeek memang dikenal menggunakan strategi pengembangan AI berbasis efisiensi. Dengan memanfaatkan cip yang tersedia luas, seperti Nvidia H800, mereka mampu menciptakan model dengan performa tinggi tanpa biaya besar.
Menurut Venture Beat, jika OpenAI o1 berharga $15 per juta token input dan $60 per juta token output. Sementara itu, DeepSeek yang didasarkan pada model R1, berharga $0,55 per juta token input dan $2,19 per juta token output.
Dari kinerjanya, DeepSeek yang baru saja merilis model AI R1, hampir menyamai kualitas model AI yang dimiliki o1 milik OpenAI. R1 milik DeepSeek memperoleh skor 79,8% pada tes matematika AIME 2024 dan 97,3% pada MATH-500. Ia juga memperoleh peringkat 2.029 pada Codeforces — lebih baik daripada 96,3% programmer manusia. Sementara itu, o1 memperoleh skor 79,2%, 96,4%, dan 96,6% masing-masing pada tolok ukur ini.
DeepSeek-R1 juga memanfaatkan teknik test-time scaling, model yang sudah dilatih menggunakan daya komputasi tambahan saat membuat prediksi untuk menghasilkan jawaban lebih baik. Teknik ini sebelumnya juga digunakan pada beberapa model OpenAI.
Keunggulan DeepSeek juga terdapat pada pengalaman pengguna. Aplikasi ini mendapatkan ulasan positif karena memberikan transparansi dalam menjelaskan cara kerjanya saat menjawab pertanyaan pengguna. Lebih dari itu, DeepSeek lebih menonjol dalam efisiensi dan keterjangkauan.
Bicara peluang popularitas, DeepSeek jelas memiliknya karena sudah berbasis teknologi open-source. Kendati demikian penetrasi pasar global untuk aplikasi AI membutuhkan waktu dan strategi pemasaran yang matang.
Sementara itu, keberhasilan DeepSeek memberikan sinyal bahwa dominasi AI negeri Paman Sam mulai goyang. Dengan model berbasis open-source, China menunjukkan kemampuannya untuk bersaing secara global, walau terkendala atas pembatasan ekspor AS.
Belum begitu banyak informasi yang bisa digali siapa arsitek di balik DeepSeek. Menurut CNBC, pendiri laboratorium AI ini yaitu Liang Wen Feng pada 2023. Pendanaan perusahaan tersebut berasal dari hedge fund pemerintah China bernama High Flyer Quant. DeepSeek versi awal dikembangkan pada November 2023.
Efek ke Pasar Teknologi Global
Kehadiran DeepSeek juga mengubah dinamika pasar teknologi global. Saham perusahaan seperti Nvidia turun lebih dari 6% di Jerman dalam sehari, sementara indeks Nasdaq 100 dilaporkan merosot hingga 3,2%. Di sisi lain, saham teknologi China seperti Merit Interactive melonjak karena hubungan langsungnya dengan DeepSeek.
Menurut Managing Director Union Bancaire Privee, Vey-Sern Ling, keberhasilan DeepSeek membuktikan bahwa AI tidak selalu memerlukan biaya besar untuk menjadi efektif. Hal ini bertentangan dengan asumsi bahwa hanya perusahaan besar seperti OpenAI, Google, atau Meta yang dapat memimpin inovasi AI.
Di AS, perdebatan terkait investasi besar dalam teknologi AI juga semakin intensif. Model bisnis berbasis pengeluaran tinggi yang dilakukan perusahaan Silicon Valley kini dipertanyakan. Menurut Kepala Konsumen dan Internet di Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, DeepSeek menunjukkan bahwa sumber daya besar tidak selalu menjadi solusi terbaik untuk tren AI.
Menurut laporan South China Morning Post, DeepSeek adalah salah satu dari sedikit perusahaan rintisan China yang berhasil mengembangkan model AI canggih di tengah kontrol ekspor AS soal cip berperforma tinggi.
Strategi biaya rendah DeepSeek turut memaksa perusahaan global untuk menilai kembali efisiensi investasi mereka. Contohnya Microsoft yang telah mengumumkan rencana belanja US$ 80 miliar pada 2025 untuk infrastruktur AI, sementara Meta mengalokasikan investasi US$ 65 miliar untuk belanja modal pada tahun yang sama.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa efisiensi biaya bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan AI. Analis BofA Securities Justin Post mengatakan bahwa perusahaan berbasis cloud akan mendapatkan keuntungan jangka pendek, tetapi pendapatan jangka panjang dari layanan AI bisa terpengaruh pendekatan hemat biaya seperti yang dilakukan DeepSeek.
Dengan lebih dari 170 juta pengguna di AS dan fitur inovatifnya, DeepSeek disebut memiliki potensi untuk berkembang. Sementara itu, AS justru harus menghadapi kenyataan bahwa pembatasan teknologi tidak cukup untuk mempertahankan keunggulan dalam AI. Kompetisi teknologi AI akan semakin ketat, dan DeepSeek mungkin hanya permulaan dari gelombang inovasi baru yang akan datang.
Reaksi Silicon Valley
Geger performa Deep Seek membuat para petinggi di Silicon Valley berkomentar. Chief AI Scientist Meta, Yann LeCun berkeyakinan China tidak akan menggeser dominasi AS di pasar AI. Menurut dia, keberhasilan DeepSeek bukan tentang dominasi AI China, melainkan lebih pada keunggulan model terbuka (open-source) dibandingkan model tertutup (closed-source).
"Bukan berarti AI China mengungguli AS, tetapi model open-source mengungguli model tertutup," kata LeCun, seperti dikutip dari Business Insider, Selasa (28/1/2025).
DeepSeek-R1 adalah model open-source, seperti halnya Llama dari Meta. LeCun menegaskan, keberhasilan DeepSeek sebagian besar didukung akses mereka terhadap riset terbuka dan model open-source lainnya.
"Mereka membangun ide baru berdasarkan karya orang lain yang sudah tersedia secara terbuka. Model ini dipublikasikan secara open-source, sehingga semua orang bisa mendapatkan manfaatnya," tutur LeCun.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang telah lama menjadi pendukung kuat model open-source, menyatakan, platform terbuka dapat mendorong inovasi industri teknologi yang lebih hidup. Meta akan mengalokasikan hingga US$ 65 miliar pada 2025 untuk memperkuat teknologi AI.
"Saya percaya generasi platform berikutnya harus dibangun di atas dasar terbuka agar lebih inklusif dan berkembang lebih cepat," tegas dia.
Adapun CEO OpenAI, Sam Altman, memuji model artificial intelligence (AI) asal China DeepSeek-R1 sebagai sesuatu yang mengagumkan. "Model R1 dari DeepSeek adalah pencapaian mengesankan, terutama karena harganya kompetitif," ujar Altman dikutip dari Reuters, Selasa (28/1/2025).
Meski begitu, Altman menegaskan, kekuatan komputasi yang lebih besar tetap menjadi kunci keberhasilan OpenAI. Karena itu, OpenAI tetap fokus pada roadmap riset. Altman juga memiliki pandangan berbeda bahwa model tertutup memberikan keamanan lebih karena kerahasiaan kode tetap terjaga.
Dalam sebuah sesi tanya jawab di Reddit, Altman mengatakan, "Pendekatan tertutup membantu kami lebih mudah mencapai ambang keamanan. Namun, saya berharap kami bisa membuka lebih banyak hal di masa depan."
CEO Microsoft Satya Nadella pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada model baru DeepSeek. Dia menilai model R1 memiliki efisiensi komputasi dan pendekatan open-source yang efektif.
Kegusaran Trump dan Senator AS
Tak pelak lagi, viral perbincangan DeepSeek mengusik Gedung Putih. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kemunculan aplikasi AI asal China tersebut secara tiba-tiba “harus menjadi peringatan” bagi perusahaan teknologi Amerika.
Popularitas aplikasi China kembali memunculkan pertanyaan baru bagi pemerintahannya dan para pemimpin Kongres. Karena itulah senator dan anggota kongres AS meminta Trump untuk melakukan sesuatu guna mengantisipasi ancaman itu, yang dinilai 'cukup serius'.
Trump mengatakan bahwa ia masih berharap perusahaan teknologi AS akan mendominasi bidang kecerdasan buatan, tetapi ia mengakui tantangan yang ditimbulkan oleh DeepSeek, asisten AI berbiaya rendah yang menduduki peringkat pertama di toko aplikasi Apple selama akhir pekan.
“Rilis DeepSeek AI dari perusahaan China harus menjadi peringatan bagi industri kita bahwa kita perlu fokus secara tajam untuk bersaing,” katanya saat berada di Florida, Senin (27/01/2025), seperti dikutip CNBC.
Trump menyebut model berbiaya rendah tersebut sebagai “perkembangan yang sangat positif” bagi AI secara keseluruhan karena “alih-alih menghabiskan miliaran, Anda akan menghabiskan lebih sedikit, dan mudah-mudahan Anda dapat menghasilkan solusi yang sama.”
Trump beralasan kalau gusar dengan sodokan DeepSeek. Sebab, warga AS sebelumnya mulai menggunakan sejumlah aplikasi populer China seperti RedNote dan Lemon8 sebagai alternatif TikTok, saat TikTok hampir dilarang sementara di Negeri Paman Sam itu.
TikTok hanya offline selama kurang dari sehari dan kembali tersedia untuk pengguna yang ada setelah Trump menunda penerapan undang-undang bipartisan yang mewajibkan kepemilikan non-China atau pelarangan. Namun, TikTok masih tidak tersedia untuk unduhan baru di toko aplikasi Apple dan Google.
Para ahli keamanan telah menyuarakan kekhawatiran tentang TikTok dan aplikasi lain yang memiliki hubungan dengan China, termasuk dari sudut pandang privasi.
Minggu lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang membatalkan beberapa aturan administrasi Biden terkait pengembangan AI, yang menurut Trump telah menghambat industri tersebut.
Namun, belum jelas kebijakan AI baru apa, jika ada, yang akan diambil pemerintahan Trump atau Kongres sebagai tanggapan atas kebangkitan DeepSeek.
David Sacks, kepala AI dan cryptocurrency Gedung Putih di bawah Trump, mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa kesuksesan DeepSeek “menunjukkan bahwa perlombaan AI akan sangat kompetitif.” Ia juga mengatakan bahwa mantan Presiden Joe Biden telah “membatasi” perusahaan AI Amerika dengan perintah eksekutif sebelumnya. “Saya yakin dengan kemampuan AS, tetapi kita tidak boleh berpuas diri,” tulisnya.
John Moolenaar, R-Mich., ketua Komite Khusus DPR tentang China, mengatakan bahwa ia ingin melihat AS bertindak untuk memperlambat laju DeepSeek, melebihi apa yang disampaikan Trump dalam pernyataannya.
“DeepSeek, model AI baru yang dikendalikan oleh Partai Komunis China, secara terang-terangan menghapus sejarah kekejaman dan penindasan PKC,” katanya, mengacu pada laporan bahwa DeepSeek menyensor topik seperti Tiananmen Square.
“AS tidak boleh membiarkan model PKC seperti DeepSeek membahayakan keamanan nasional kita dan memanfaatkan teknologi kita untuk memajukan ambisi AI mereka. Kita harus segera memperketat kontrol ekspor pada teknologi yang penting bagi infrastruktur AI DeepSeek,” tegasnya.
Senator Mark Warner, D-Va, membela kontrol ekspor yang ada terkait teknologi chip canggih dan mengatakan bahwa regulasi tambahan mungkin diperlukan.
“Meski saya pikir masih banyak yang perlu dipelajari tentang aktivitas pengembangan DeepSeek, apa yang ada dalam catatan publik menunjukkan bahwa RRC terus memprioritaskan kemajuan dalam AI, dan kontrol ekspor saja tidak akan menghentikan upaya mereka,” katanya.
“Namun, klaim bahwa kontrol ekspor tidak efektif salah tempat. Upaya DeepSeek tetap bergantung pada chip canggih, dan upaya perusahaan hyperscaler RRC untuk membangun infrastruktur cloud global guna penerapan model ini masih sangat dipengaruhi oleh kontrol AS,” tambahnya.
Ketua DPR Mike Johnson, R-La., tak kalah pedas saat meluapkan reaksi. Dia menyebut DeepSeek sebagai “ancaman serius” dan mengatakan China adalah “mitra dagang yang buruk.”
“Mereka menyalahgunakan sistem. Mereka mencuri kekayaan intelektual kita. Sekarang mereka mencoba mengambil langkah lebih maju dari kita dalam AI, seperti yang Anda lihat dalam sehari terakhir ini,” katanya. “Ini adalah ancaman serius bagi kita, ekonomi kita, dan keamanan kita dalam segala hal. Jadi presiden menganggap ini serius, dan saya pikir dia akan menangani ini dengan cara yang tepat.”
Jelas bahwa kehadiran DeepSeek akan kian memanaskan perang terbuka AS-China di semua lini. Lagi-lagi, efisiensi masif dan inovasi cerdas China secara sistematis bisa menggerogoti hegemoni teknologi Amerika Serikat. (C-13) ***

