Gegara DeepSeek, China Hampir Samai AS dalam Pengembangan AI
BEIJING, investortrust.id - China disebut semakin mengecilkan jarak pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan Amerika Serikat, dengan selisih hanya sekitar tiga bulan di beberapa bidang.
Menurut CEO 01.AI, Lee Kai-fu, hal ini terjadi berkat perusahaan seperti DeepSeek yang mampu menggunakan chip secara efisien dan menerapkan algoritma dengan lebih optimal. Pria yang pernah menjadi mantan kepala Google China itu menyebutkan bahwa DeepSeek telah membantu China melampaui AS dalam bidang rekayasa perangkat lunak infrastruktur.
DeepSeek mengejutkan industri AI dunia pada Januari lalu ketika meluncurkan model AI yang diklaim dilatih dengan chip yang kurang canggih namun lebih murah dibandingkan pesaingnya. Pengumuman ini sekaligus membantah anggapan bahwa sanksi AS dapat menahan kemajuan sektor AI di China.
“Sebelumnya, saya pikir China tertinggal enam hingga sembilan bulan dalam segala aspek. Namun sekarang, kesenjangan tersebut hanya sekitar tiga bulan dalam beberapa teknologi inti, bahkan sudah unggul di beberapa bidang spesifik,” ujar Lee dikutip dari Reuters, Selasa (25/3/2025).
Sanksi AS terhadap industri semikonduktor China disebutnya sebagai 'pedang bermata dua' yang memang menimbulkan tantangan jangka pendek. Namun, Lee menilai sanksi tersebut juga memaksa perusahaan Negeri Tirai Bambu untuk berinovasi dan mencari solusi alternatif di bawah tekanan.
Sekadar informasi, kehadiran ChatGPT oleh OpenAI pada akhir 2022, membuat sektor teknologi China mulai berlomba mengembangkan AI generatif. Namun, sebelum DeepSeek hadir, banyak pemimpin industri China yang mengakui bahwa mereka masih jauh tertinggal dari pesaing Barat.
Namun di tengah dominasi perusahaan teknologi besar dan berkembangnya alternatif open-source, Lee menyebut investasi dalam model AI eksklusif kini menjadi keputusan yang berani. Oleh karena itu, 01.AI lebih memilih berfokus pada aplikasi AI yang lebih praktis demi membantu perusahaan dalam mengimplementasikan model AI dasar mereka.
Perusahaan AI asal China itu juga baru meluncurkan Wanzhi, sebuah platform perangkat lunak yang membantu perusahaan dalam menerapkan teknologi AI. Lee menyebut, perusahaannya menargetkan pertumbuhan signifikan pada 2025, yakni melewati angka US$ 15 juta yang diraih tahun lalu. (C-13)

