Upaya Perdamaian Rusia-Ukraina Makin Terbuka, Putin Ingin Pembicaraan Langsung dengan Trump
MOSKOW, investortrust.id - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia secara prinsip menyetujui rencana gencatan senjata yang dipimpin AS dan didukung oleh Ukraina awal pekan ini. Namun, ia tidak langsung menyetujui kesepakatan tersebut, dengan alasan bahwa diperlukan negosiasi lebih lanjut dan gencatan senjata harus mengarah pada “perdamaian yang langgeng.”
Baca Juga
Bahas Perang Ukraina dan Energi, Putin Sebut Dirinya dan Trump Perlu Bertemu
“Ide [gencatan senjata] itu sendiri benar dan kami tentu mendukungnya, tetapi ada hal-hal yang perlu didiskusikan. Saya pikir kita perlu berbicara dengan rekan-rekan dan mitra Amerika kita. Mungkin menelepon Presiden Trump dan mendiskusikannya bersama. Tetapi kami mendukung gagasan untuk mengakhiri konflik ini melalui cara damai,” katanya, menurut terjemahan NBC.
Putin juga mengatakan bahwa kesepakatan harus “berangkat dari fakta bahwa penghentian ini harus sedemikian rupa sehingga mengarah pada perdamaian jangka panjang dan menghilangkan akar penyebab krisis ini.”
“Kami mendukungnya, tetapi ada nuansa tertentu,” katanya ketika ditanya tentang kesepakatan gencatan senjata 30 hari yang ditengahi oleh Gedung Putih. Kyiv mendukung rencana tersebut pada Selasa, dengan syarat Moskow setuju. Putin berbicara dalam konferensi pers di Moskow setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Belarus Alexander Lukashenko.
Putin juga mempertanyakan apakah 30 hari tersebut akan digunakan untuk “menyuplai senjata” atau “melatih unit-unit yang baru dimobilisasi,” serta bagaimana potensi pelanggaran gencatan senjata akan dipantau.
Baca Juga
Rencana Gencatan Senjata di Ukraina, Rusia Tunggu Rincian dari AS
Dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis, “Kami mendapat kabar bahwa semuanya berjalan cukup baik di Rusia, tetapi itu tidak berarti apa-apa sampai kita mendengar hasil akhirnya.”
“Semoga mereka semua ingin mengakhiri mimpi buruk ini,” tambahnya.
Delegasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, tiba di Moskow pada Kamis untuk pembicaraan gencatan senjata.
Baca Juga
Indikasi awal dari pejabat Rusia menunjukkan bahwa negara itu tidak akan segera menyetujui kesepakatan yang dipimpin AS. Yuri Ushakov, penasihat kepresidenan Rusia, tidak mengonfirmasi maupun menyangkal, tetapi mencatat bahwa gencatan senjata akan memberi Ukraina kesempatan untuk memperkuat pasukannya, menyebut rencana itu sebagai “hanya jeda sementara bagi militer Ukraina, tidak lebih.”
Draf kesepakatan tersebut mencakup penghentian semua aktivitas militer Rusia dan Ukraina, yang berpotensi diperpanjang di luar 30 hari berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini juga mengharuskan “pertukaran tawanan perang, pembebasan tahanan sipil, dan pemulangan anak-anak Ukraina yang dipindahkan secara paksa ke Rusia.”
Rusia Berhati-hati
Rusia berhati-hati menanggapi kesepakatan senjata, sebelum ada keyakinan dan kepastian terkait sikap AS dan sekutunya. Apalagi, mengingat langkah Trump yang kerap sulit diprediksi.
Baca Juga
Ukraina Terima Proposal Gencatan Senjata, AS Lanjutkan Dukungan Keamanan
AS segera mencabut penghentian sementara dalam berbagi intelijen dan bantuan militer dengan Ukraina setelah negara itu menyetujui kesepakatan tersebut.
Para analis mengatakan bahwa meskipun Rusia telah mengalami kerugian besar di medan perang, saat ini mereka terus maju secara perlahan tetapi stabil di Ukraina, yang juga berada dalam situasi genting akibat hubungannya yang memburuk dengan AS.
Putin juga mengatakan pada Kamis bahwa jika AS dan Rusia mencapai kesepakatan kerja sama di sektor energi, maka Rusia dapat menyediakan jalur pipa gas untuk Eropa, yang akan menguntungkan benua tersebut dengan harga energi yang lebih murah, menurut laporan Reuters.
Futures gas alam Eropa untuk April turun 3,5% setelah pernyataan Putin.

