Jepang Catat Rekor Surplus Transaksi Berjalan pada 2024, Ini Penopangnya
TOKYO, investortrust.id – Surplus transaksi berjalan Jepang melonjak ke rekor tertinggi tahun 2024, menurut data dari kementerian keuangan yang dirilis pada Senin (10/02/2025). Pelemahan yen meningkatkan hasil investasi luar negeri, yang mengimbangi defisit perdagangan.
Surplus dalam transaksi berjalan mencapai 29,3 triliun yen ($192,67 miliar) pada 2024, yang merupakan angka tertinggi sejak data sebanding tersedia pada 1985. Jumlah ini meningkat 29,5% dari tahun sebelumnya.
Baca Juga
Rachmat Gobel Sebut Indonesia Perlu Pererat Kerja sama Investasi dengan Jepang
Pendapatan primer dari sekuritas dan investasi langsung di luar negeri tetap menjadi pendorong utama, dengan rekor surplus sebesar 40,2 triliun yen, seiring dengan upaya perusahaan Jepang untuk berkembang di luar negeri, termasuk melalui akuisisi perusahaan asing.
Defisit perdagangan menyempit 40% menjadi 3,9 triliun yen berkat lonjakan ekspor mobil dan peralatan pembuat chip, serta turunnya biaya impor energi.
Surplus dari sektor pariwisata meningkat menjadi 5,9 triliun yen, mencerminkan berkembangnya pariwisata masuk.
Pada bulan Desember, surplus transaksi berjalan Jepang tercatat sebesar 1,08 triliun yen, turun dari 3,35 triliun yen pada bulan sebelumnya.
Surplus transaksi berjalan negara ini dulunya dianggap sebagai tanda kekuatan ekspor dan sumber kepercayaan terhadap yen sebagai mata uang safe-haven.
Namun, komposisinya telah berubah selama dekade terakhir, dengan perdagangan tidak lagi menghasilkan surplus akibat melonjaknya biaya impor energi dan meningkatnya manufaktur di luar negeri oleh perusahaan Jepang.
Baca Juga
Cermati Data Pengeluaran Jepang, Pasar Asia-Pasifik Dibuka Melemah
Saat ini, Jepang menutup defisit perdagangan dengan surplus pendapatan primer yang kuat, mencakup pembayaran bunga dan dividen dari investasi luar negeri sebelumnya.
Namun, sebagian besar pendapatan tersebut kembali diinvestasikan di luar negeri alih-alih dikonversi ke yen dan dikirim pulang, yang menurut analis dapat membuat mata uang Jepang tetap lemah.
“Tidak ada alasan untuk merepatriasi (dana), karena investasi luar negeri memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri,” kata Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami, seperti dikutip Reuters.
Jepang kini menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, tujuan ekspor terbesarnya, untuk menutup surplus perdagangan tahunan sebesar $68,5 miliar. Presiden Donald Trump menyampaikan tuntutan tersebut dalam kunjungan pertama Perdana Menteri Shigeru Ishiba ke Gedung Putih pada Jumat lalu.

