Berencana Ambil Alih Gaza, Trump Ingin Membangun 'Riviera Timur Tengah'
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Donald Trump menyatakan AS akan mengambil alih Gaza yang dilanda perang dan menciptakan "Riviera Timur Tengah" setelah merelokasi warga Palestina ke tempat lain. Pernyataan ini mengubah kebijakan AS selama puluhan tahun terkait konflik Israel-Palestina dan memicu kecaman dari berbagai pihak di kawasan tersebut.
Baca Juga
OKI Tolak Usulan Trump Pindahkan Warga Palestina dari Jalur Gaza
Langkah mengejutkan ini segera mendapat kecaman dari Arab Saudi, negara berpengaruh di kawasan yang sedang diharapkan Trump untuk menjalin hubungan dengan Israel.
Seorang pejabat dari kelompok militan Palestina Hamas, yang menguasai Jalur Gaza sebelum bertempur melawan Israel dalam perang brutal di sana, menyebut pernyataan Trump tentang pengambilalihan Gaza sebagai "absurd".
"Pernyataan Trump tentang keinginannya untuk menguasai Gaza adalah konyol dan tidak masuk akal, dan gagasan semacam ini dapat memicu ketegangan di kawasan," kata Sami Abu Zuhri kepada Reuters.
Trump mengungkapkan rencananya yang mengejutkan ini tanpa memberikan rincian spesifik dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa.
Baca Juga
Utusan Trump Berencana Relokasi Warga Gaza ke RI, Kemenlu: Tidak Dapat Diterima
"AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami akan melakukan pekerjaan yang luar biasa di sana... Kami akan mengembangkannya, menciptakan ribuan dan ribuan lapangan pekerjaan, dan itu akan menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan oleh seluruh Timur Tengah," kata Trump kepada para wartawan, dikutip dari Reuters, Rabu (05/02/2025). Nadanya digambarkan seperti seorang pengembang properti, profesinya sebelum menjadi presiden.
Pernyataan ini muncul setelah Trump sebelumnya pada Selasa mengusulkan pemukiman permanen bagi lebih dari dua juta warga Palestina dari Gaza ke negara-negara tetangga.
Trump menyebut fase pertama dari kesepakatan gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hamas, Jalur Gaza dgambarkan sebagai "lokasi yang telah hancur".
Keterlibatan langsung AS di Gaza akan bertentangan dengan kebijakan Washington yang telah lama berlaku serta pandangan komunitas internasional, yang menilai bahwa Gaza seharusnya menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan, bersama dengan Tepi Barat yang diduduki.
Trump dapat menghadapi perlawanan keras dari sekutu maupun lawan terkait rencana pengambilalihan Gaza ini, dan usulannya menimbulkan pertanyaan tentang apakah Arab Saudi bersedia ikut serta dalam dorongan baru yang dipimpin AS untuk normalisasi hubungan bersejarah dengan Israel.
Arab Saudi, yang juga merupakan sekutu utama AS, menolak segala upaya untuk memindahkan warga Palestina dari tanah mereka, demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi pada Rabu.
Arab Saudi menegaskan bahwa mereka tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina, yang bertentangan dengan klaim Trump bahwa Riyadh tidak menuntut negara Palestina ketika ia mengumumkan keinginan AS untuk mengambil alih Gaza.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menegaskan posisi kerajaan dalam "cara yang jelas dan eksplisit" yang tidak bisa ditafsirkan berbeda dalam kondisi apa pun, kata pernyataan itu.
Trump mengatakan bahwa ia berencana mengunjungi Gaza, Israel, dan Arab Saudi, tetapi tidak menyebutkan kapan perjalanan tersebut akan dilakukan.
Netanyahu, yang beberapa kali disebut Trump dengan panggilan akrabnya, "Bibi," menolak untuk mengomentari proposal ini secara mendalam, tetapi memuji Trump karena mencoba pendekatan baru.
Pemimpin Israel itu, yang militernya telah bertempur selama lebih dari setahun melawan Hamas di Gaza, mengatakan bahwa Trump memiliki "pemikiran di luar kebiasaan dengan ide-ide segar" dan menunjukkan "keinginan untuk menembus pola pikir konvensional."
Kekhawatiran Palestina
Pengusiran paksa merupakan isu yang sangat sensitif bagi warga Palestina maupun negara-negara Arab.
Seiring berkecamuknya perang di Gaza, warga Palestina khawatir mereka akan mengalami "Nakba" baru—istilah yang digunakan untuk menyebut "bencana" ketika ratusan ribu warga Palestina kehilangan rumah mereka akibat perang yang terjadi saat berdirinya negara Israel.
Dalam kebijakan Saudi di Timur Tengah, ada banyak hal yang dipertaruhkan bagi Trump dan Israel.
AS telah memimpin upaya diplomasi selama berbulan-bulan untuk mendorong Arab Saudi, salah satu negara Arab paling berpengaruh, agar menormalisasi hubungan dengan Israel dan mengakui negara tersebut. Namun, perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 membuat Riyadh menghentikan proses tersebut akibat kemarahan dunia Arab atas serangan Israel di wilayah tersebut.
Trump ingin Arab Saudi mengikuti jejak Uni Emirat Arab, yang merupakan pusat perdagangan dan bisnis di Timur Tengah, serta Bahrain, yang menandatangani Perjanjian Abraham pada 2020 dan menormalisasi hubungan dengan Israel.
Dengan demikian, mereka menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang memutus tabu lama tersebut.
Menjalin hubungan dengan Arab Saudi akan menjadi pencapaian besar bagi Israel, karena kerajaan itu memiliki pengaruh besar di Timur Tengah, dunia Muslim yang lebih luas, dan merupakan eksportir minyak terbesar di dunia.
Pada Selasa, Trump menyerukan kepada Yordania, Mesir, dan negara-negara Arab lainnya untuk menerima pengungsi dari Gaza, dengan mengatakan bahwa warga Palestina di sana tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan wilayah pesisir tersebut, yang harus dibangun kembali setelah hampir 16 bulan perang dahsyat antara Israel dan Hamas.
Sebuah laporan penilaian kerusakan dari PBB yang dirilis pada Januari menunjukkan bahwa membersihkan lebih dari 50 juta ton puing akibat serangan Israel di Gaza bisa memakan waktu hingga 21 tahun dan menelan biaya hingga $1,2 miliar.
Baca Juga
PBB Tegas Dukung Solusi Dua Negara untuk Konflik Israel-Palestina
PBB dan AS, hingga pengumuman Trump, telah lama mendukung visi dua negara, di mana Israel dan Palestina hidup berdampingan dalam perbatasan yang aman dan diakui. Warga Palestina menginginkan sebuah negara yang mencakup Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza, semua wilayah yang direbut Israel dalam perang tahun 1967 melawan negara-negara Arab tetangga.

