Wall Street Ambruk Dipicu Tarif Trump, Dow Anjlok Lebih dari 300 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS terpuruk pada penutupan Jumat waktu AS atau Sabtu (01/02/2025) WIB. Indeks S&P 500 anjlok setelah ada kabar bahwa tarif agresif Presiden Donald Trump terhadap mitra dagang utama AS akan mulai berlaku pada hari Sabtu, 1 Februari 2025.
Indeks S&P 500 turun 0,50% dan ditutup di 6.040,53, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok 337,47 poin, atau 0,75%, tertekan oleh penurunan saham Chevron. Indeks Dow yang terdiri dari 30 saham berakhir di level 44.544,66. Indeks Nasdaq Composite, yang didominasi saham teknologi, terkoreksi 0,28% menjadi 19.627,44.
Saham-saham rontok setelah sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengumumkan pada Jumat sore bahwa tarif presiden akan tersedia untuk inspeksi publik pada hari Sabtu. Trump akan mengenakan tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko, serta bea masuk 10% terhadap China. Pada titik tertinggi sesi, Dow sempat naik lebih dari 170 poin.
Baca Juga
Gedung Putih Tegaskan Tarif Agresif terhadap Kanada, Meksiko, dan China Mulai Berlaku 1 Februari
Saham perusahaan yang memiliki eksposur ke pasar tersebut bereaksi, seperti produsen bir Corona, Constellation Brands, dan jaringan makanan Meksiko Chipotle, yang masing-masing turun hampir 2% dan 1% setelah berita tersebut.
“Ini sangat mirip dengan apa yang kita lihat pada hari Senin dengan DeepSeek. Ada berita, dan reaksi pertama adalah menjual,” kata Tom Hainlin, ahli strategi investasi senior di U.S. Bank Asset Management Group, seperti dikutip CNBC.
Menurut Hainlin, itu adalah reaksi awal terhadap berita utama tentang tarif. “Kita tidak memiliki detail tentangnya. Kita tidak tahu persentasenya, apakah bersifat sementara atau permanen, atau bagaimana reaksi dari Kanada, Meksiko, atau China. Perspektif kami adalah menunggu dan melihat ketika kebijakan sebenarnya diterapkan,” urainya
Investor juga memusatkan perhatian pada Apple, yang melampaui ekspektasi kuartal fiskal pertama. Meskipun Apple melaporkan penjualan iPhone yang mengecewakan, pendapatan dari layanan tampak menjadi sorotan. Sahamnya ditutup turun 0,7%. Saham Chevron dan Exxon Mobil masing-masing turun 4,6% dan 2,5% akibat hasil kuartal keempat yang mengecewakan.
Aksi pasar hari Jumat mengikuti sesi perdagangan yang menguntungkan tetapi bergejolak bagi tiga indeks utama. Teknologi menjadi perhatian utama investor minggu ini setelah aksi jual besar pada hari Senin yang dipicu oleh perkembangan dari startup kecerdasan buatan China, DeepSeek, serta laporan pendapatan dari sejumlah perusahaan besar dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga
Wall Street Melaju di Tengah Fluktuasi, Dow Melonjak di Atas 150 Poin
“Saya pikir aksi jual besar itu terlalu berlebihan,” ujar Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors.
“Kepanikan DeepSeek mulai mereda. Kami pikir ini akan semakin mereda dengan laporan pendapatan dari Amazon dan Google minggu depan, serta tentu saja Nvidia nanti. Kami tetap optimis,” tambahnya.
Setelah anjlok 3,07% pada hari Senin, Nasdaq Composite mengakhiri minggu ini dengan kerugian 1,6%. S&P 500 dan Dow masing-masing turun 1% dan naik 0,3% dalam seminggu terakhir. Nvidia, yang anjlok hampir 17% pada hari Senin, mencatat penurunan mingguan sekitar 16%.
Hari Jumat juga menandai hari terakhir dari Januari yang bergejolak bagi para pelaku pasar. Namun, ketiga indeks utama tetap mencatat kenaikan bulanan, dengan S&P 500 naik 2,7% dan Nasdaq meningkat 1,6%. Dow mencatat kinerja terbaik dengan lonjakan 4,7%.
“Kita masih memiliki banyak laporan pendapatan. Biasanya, lebih menguntungkan untuk tetap bertahan selama musim laporan pendapatan, jadi kami akan tetap optimis memasuki Februari,” tambah Hatfield.
Baca Juga
Masih di Atas Target Fed, Inflasi Inti PCE AS Desember Naik 2,8% YoY
Rilis data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Desember pada hari Jumat, yang merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve, menunjukkan kenaikan 0,3% dari November dan tingkat tahunan 2,6%. Meskipun kenaikan tahunan ini sesuai dengan ekspektasi ekonom, angka tersebut menandai percepatan dari tingkat bulan sebelumnya sebesar 2,4%, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi masih sulit dikendalikan. Tanpa memasukkan makanan dan energi, inflasi inti PCE juga naik 0,2% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan.

