PBB: AS 'Cabut' dari Paris Agreement, Negara Lain Bisa Isi Posisi AS
JAKARTA, Investortrust.id - Janji Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari perjanjian Paris Agreement untuk kedua kalinya menciptakan kekosongan kepemimpinan yang dapat dimanfaatkan oleh negara-negara lain dan justru AS yang akan kehilangan peluang. demikian Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell.
“Siapa pun yang mundur dari momentum maju yang signifikan ini akan menciptakan kekosongan yang akan diisi dan dimanfaatkan oleh orang lain. Jadi, menurut saya konteks framing seperti ini yang kita temukan 14 jam setelah pernyataan itu,” kata Simon Stiell seperti dikutip CNBC.com, Selasa (21/1/2025).
Menurut Stiell, siapa pun yang mundur atau tidak ikut serta dalam momentum perubahan yang signifikan ini akan menciptakan kekosongan yang akan diisi oleh pihak lain yang justru akan mendapatkan keuntungan. Dengan kata lain, ini adalah peringatan bahwa siapa saja yang tidak ikut beradaptasi dengan perubahan ini akan tertinggal dan kehilangan peluang.
“Dunia sedang mengalami transisi energi yang tidak dapat dihentikan. Tahun lalu saja, lebih dari US$ 2 triliun diinvestasikan dalam transisi ini dan itu sebanding dengan US$ 1 triliun pada bahan bakar fosil, jadi sinyalnya sangat jelas,” kata Stiell.
Para ilmuwan pemerhati perubahan iklim mengecam pernyataan Trump yang akan mengeluarkan AS dari Paris Agreement. Pernyataan Trump untuk ‘cabut’ dari Paris Agreement muncul hanya beberapa pekan setelah AS dan lembaga-lembaga ilmiah global mengonfirmasi bahwa bumi mengalami rekor tahun terpanas pada tahun 2024.
Suasana Talkshow dalam sesi Road to COP30 pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2025 di Davos-Klosters, Swiss, Selasa, (21/1/2025). Foto: World Economic Forum/Mattias Nutt
Baca Juga
Perintah untuk menarik diri dari perjanjian iklim Paris, yang sudah diperkirakan secara luas, merupakan tindak lanjut dari langkah serupa yang dilakukan pemerintahan Trump pertama pada tahun 2017 dan memberikan pukulan besar terhadap upaya global untuk melindungi lingkungan.
“Kami sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya,” kata Simon.
Sebagamana diberitakan, Trump pada hari Senin (20/1/2025) menandatangani perintah eksekutif untuk menarik AS keluar dari upaya terkoordinasi terbesar di dunia untuk mengatasi kenaikan suhu. Dia juga mengumumkan “darurat energi nasional” untuk mengurangi banyak peraturan lingkungan era Biden dan berjanji untuk meningkatkan produksi bahan bakar fosil.
Trump, yang menyebut krisis iklim sebagai “salah satu penipuan besar,” mengatakan pada hari Senin bahwa ia bermaksud untuk meningkatkan produksi minyak dan gas selama masa jabatan empat tahun keduanya.
“Kami akan melakukan pengeboran, sayang, melakukan pengeboran,” kata Trump dalam pidato pengukuhannya. Ia juga berjanji AS akan memulai era baru eksplorasi minyak dan gas
Perjanjian Paris tahun 2015 merupakan kerangka kerja yang dirancang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi pemanasan global “jauh di bawah 2 derajat celcius, atau maksimal sampai 1,5 derajat Celcius, dibandingkan dengan tingkat pra-industri” dalam jangka panjang.
Stiell sendiri menganggap keputusan Trump untuk menarik diri dari Perjanjian Paris pada tahun 2017 serta perintah eksekutif yang dikeluarkan pada hari Senin pekan ini justru menjadi “momentum signifikan” untuk memerangi pemanasan global dalam delapan tahun ke depan.

