Sindir Negara Penggagas Paris Agreement, Bahlil Tegaskan RI Konsisten Turunkan Emisi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia konsisten menjalankan Paris Agreement demi mewujudkan net zero emission (NZE) 2060. Dia justru menyindir negara-negara penggagas Paris Agreement.
“Saya tahu bahwa dunia sekarang sebagian yang mengusulkan mendorong energi baru terbarukan dalam menurunkan CO2 mulai ragu-ragu, mulai agak tidak konsisten,” kata Bahlil dalam acara "Global Hydrogen Ecosystem Summit 2025", di Jakarta, Selasa (15/4/2025).
Baca Juga
Ekonom: Mobil Listrik Sejatinya Masih Mengeluarkan Emisi Karbon
Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu negara penggagas Paris Agreement memutuskan mundur dari perjanjian tersebut. Sementara itu, negara-negara penggagas lain dinilai Bahlil ragu-ragu dalam menurunkan emisi karbon.
Sedangkan Indonesia kaat Bahlil, justru mendorong penurunan emisi karbon. Hal ini tercermin lewat sejumlah kebijakan yang dibuat pemerintah. Bahkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto mengarah kepada penurunan emisi.
“Kita mendorong 2050-2060 bebas emisi, Pak Presiden Prabowo telah mencanangkan Asta Cita yang kedua maupun kelima. Itu berbicara kedaulatan swasembada energi. Di dalamnya adalah energi hijau, energi baru terbarukan (EBT),” ujar mantan Menteri Investasi tersebut.
Asta Cita Presiden Prabowo poin nomor dua adalah memperkuat sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Sedangkan Asta Cita nomor lima melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Menurut Bahlil, hal ini menjadi bukti nyata keseriusan Indonesia dalam menciptakan net zero emission.
Baca Juga
Meski AS Mundur dari Paris Agreement, Menteri Rosan Optimistis Investasi EBT Tetap Jalan
“Indonesia akan selalu berada pada bagian yang akan menjalankan komitmen itu, tetapi dengan penuh hati-hati secara mendalam. Jadi Pak Dubes Prancis tidak perlu meragukan komitmen Indonesia. Justru saran saya, Bapak tolong tanyakan kepada negara-negara yang telah menginisiasi untuk melahirkan Paris Agreement itu sejauh mana komitmen mereka,” ucap Bahlil.
Terkait hilirisasi, Bahlil mengatakan bahwa ini merupakan salah satu instrumen pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai sumber daya alam cukup besar.
“Tidak ada sebuah negara berkembang yang mempunyai sumber daya alam cukup besar yang kemudian berubah menjadi negara maju tanpa hilirisasi dan industrialisasi. Kita tidak ingin menjadi negara kutukan sumber daya alam, karena itu pertumbuhan ekonomi nasional salah satu instrumennya adalah hilirisasi,” tegas dia.

