Meski AS Mundur dari Paris Agreement, Menteri Rosan Optimistis Investasi EBT Tetap Jalan
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani optimistis investasi pada sektor energi baru terbarukan (EBT) tetap menarik bagi investor ke depan. Meskipun Amerika Serikat (AS) memutuskan hengkang dari Paris Agreement.
Dia mengatakan, meski AS menarik diri dari Paris Agreement, Indonesia tetap berkomitmen kuat untuk mencapai target net zero emission (NZE) tahun 2060 atau lebih cepat. Dengan komitmen tersebut diprediksi investasi sektor EBT di Indonesia tetap cerah dan menarik bagi investor.
Baca Juga
Bahil: Keluarnya AS dari Perjanjian Paris buat Indonesia Galau Kembangkan EBT
"Kita sudah berkomitmen untuk net zero emission di NDC (Nationally Determined Contribution) tahun 2060. Jadi menurut saya kita tetap commit di situ, pemerintah sudah punya planning," kata Rosan ditemui usai konferensi pers capaian kinerja realisasi investasi tahun 2024 di kantornya, Jakarta, Jumat (31/1/2025).
Rosan mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan secara bertahap. Ia mengeklaim pemanfaatan energi terbarukan akan meningkat secara gradual.
"Di tahun 2025 ini, target kita bauran mencapai 23%, kemudian tahun 2030 hampir 50%, dan komitmen itu akan terus dilaksanakan, karena memang itu adalah trend dunia juga.," sambungnya.
Baca Juga
Pemerintah Bidik EBT Sumbang 79% Kelistrikan, Ini Energi yang Bakal Digenjot
Guna mendukung rencana tersebut, Rosan mengatakan, pemerintah telah menyiapkan skema pendanaan yang besar. Selain pendanaan tersebut, untuk mendukung transisi energi ini Rosan berujar pemerintah juga menyiapkan skema untuk alokasi investasi asing termasuk dengan menawarkan yield yang menarik.
Apalagi, lanjut dia, tren global saat ini terus berkembang seperti semakin meningkatnya penggunaan kendaraan listrik (EV) dan data center yang membutuhkan energi terbarukan. Hal ini diyakininya akan memberikan dorongan tambahan bagi sektor EBT di Indonesia.
"Jadi menurut saya juga dengan trend bahwa ada EV car, ada data center, yang memang requirement-nya adalah mempergunakan renewable energy, jadi menurut saya kita akan commit terus melakukan itu," tambahnya lagi.

