Upaya Trump Kuasai Greenland Didukung Rusia? Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Upaya Presiden AS terpilih Donald Trump untuk mengambil alih Greenland mungkin memicu kemarahan Denmark, yang memegang kedaulatan atas pulau Arktik tersebut, tetapi ambisi teritorialnya tampaknya mendapatkan dukungan dari pihak yang tak terduga, yaitu Rusia.
Baca Juga
Trump Serukan Pembelian Greenland Setelah Membidik Kanada dan Terusan Panama
Pengamat politik yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyatakan dukungan atas ambisi Trump untuk menguasai Greenland dan memperluas wilayah AS ke pulau kaya sumber daya itu. Alasannya, langkah tersebut dapat membenarkan ambisi ekspansionis negara lain, terutama Rusia.
Trump menyatakan di platform media sosialnya, Truth Social, pada Desember bahwa "kepemilikan" Greenland penting bagi keamanan ekonomi dan nasional AS, mengulangi niatnya untuk membeli pulau tersebut yang pertama kali diusulkan pada masa jabatan presiden pertamanya.
Pada Selasa, Trump kembali menegaskan pernyataannya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk merebut Greenland serta Terusan Panama. Ia juga mengusulkan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS dan mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika.
Pernyataan Trump dikutuk di Eropa, dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan pada Rabu bahwa Uni Eropa tidak akan menoleransi serangan terhadap perbatasan kedaulatannya.
Baca Juga
Prancis Ikut Emosi, Peringatkan Trump Soal Rencana Akuisisi Greenland
‘Kekuatan jadi Kebenaran’
Namun, posisi Trump ini mendapatkan sambutan di Moskow, dengan liputan positif di media negara Rusia dan dari tokoh politik.
Presenter TV Rusia dan sekutu Kremlin Vladimir Solovyov, dalam acara debatnya, mengatakan bahwa posisi Trump pada dasarnya memberi Moskow hak untuk menuntut pemulihan bekas kekaisaran Soviet, termasuk negara-negara Baltik seperti Estonia, Lituania, dan Latvia.
Panelis pro-Kremlin lainnya mengatakan ambisi Trump membenarkan keputusan Rusia untuk meluncurkan "operasi militer khusus" di Ukraina. Solovyov, pendukung invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, menyebut bahwa "apa yang dilakukan Trump sangat menguntungkan kami" dan menambahkan bahwa presiden terpilih tersebut "sepenuhnya menghancurkan ilusi tentang supremasi demokrasi atau penghormatan terhadap sekutu NATO."
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden AS Donald J. Trump (kanan) berjabat tangan selama pertemuan di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Jerman. Foto: Kremlin Pool/EPA/Michael Klimentyev
‘Buat Greenland Hebat Lagi’
Kremlin belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan Trump tentang Greenland, tetapi kemungkinan besar mengamati perkembangan ini dengan seksama, mengingat minat Rusia di kawasan Arktik, wilayah di mana Rusia telah memperluas pengaruh politik, ekonomi, dan militernya dalam beberapa dekade terakhir.
Greenland adalah wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark tetapi memiliki hubungan dengan AS, dengan instalasi militer Amerika dibangun di pulau itu setelah Perang Dunia II. Denmark, yang diduduki oleh Nazi Jerman saat itu, menandatangani perjanjian pada 1941 yang memberikan AS kendali atas pertahanan Greenland.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyebut ide Trump sebagai "absurd" ketika pertama kali diusulkan pada 2019, sementara Perdana Menteri Greenland Mute Egede mengatakan, "Kami tidak untuk dijual dan tidak akan dijual."
Namun, pernyataan Trump tampaknya mengguncang Denmark. Kopenhagen mengumumkan peningkatan pengeluaran pertahanan untuk Greenland dan memberi simbol Greenland dan Kepulauan Faroe lebih banyak perhatian di lambang kerajaan.
Tanpa terpengaruh penolakan Denmark, Trump mengumumkan bahwa putranya, Donald Trump Jr., akan mengunjungi Greenland. Dalam unggahannya, Trump menyebut kunjungan itu sebagai langkah untuk "melindungi dan menghargai Greenland dari dunia luar yang sangat kejam."
Kunjungan ini dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Denmark, tetapi karena bukan kunjungan resmi, kementerian menyatakan tidak memiliki komentar lebih lanjut.

