Prancis Ikut Emosi, Peringatkan Trump Soal Rencana Akuisisi Greenland
JAKARTA, Investortrust.id - Prancis memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengancam kedaulatan Uni Eropa setelah presiden terpilih Donald Trump menolak mengesampingkan tindakan militer untuk mengambil alih Greenland.
Disampaikan Menteri luar negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, Uni Eropa tidak akan mentolerir ancaman terhadap perbatasannya. Ketegangan antara negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat meningkat akibat komentar Trump soal wilayah Arktik, yang merupakan bagian otonom dari Denmark, yang juga anggota Uni Eropa.
“Jelas tidak diragukan lagi bahwa Uni Eropa tak akan membiarkan negara-negara lain menyerang perbatasan kedaulatannya, siapa pun mereka,” kata Jean-Noel Barrot kepada radio France Inter, Rabu (8/1/2025) seperti dikutip rfi.fr. “Kami adalah benua yang kuat,” sambung Barrot.
Trump pertama kali menyatakan minatnya untuk mengakuisisi Greenland pada tahun 2019 ketika ia membatalkan perjalanan ke Kopenhagen, menyusul penolakan Perdana Menteri Denmark terkait ide pembelian Greenland. Denmark menyebut ide tersebut sebagai hal yang “tidak masuk akal”.
Komentar terbaru Trump muncul saat konferensi pers ketika dia ditanya apakah dia akan berkomitmen untuk menghindari tindakan ekonomi atau militer untuk mengakuisisi Greenland dan Terusan Panama.
"Tidak, saya tidak bisa menjamin Anda mengenai salah satu dari kedua hal tersebut. Namun saya dapat mengatakan ini, kita membutuhkannya untuk keamanan ekonomi," kata Trump.
Baca Juga
Trump Serukan Pembelian Greenland Setelah Membidik Kanada dan Terusan Panama
Dia kemudian menggunakan platformnya, Truth Social, untuk menyampaikan pendapatnya.
“Greenland adalah tempat yang luar biasa, dan masyarakatnya akan mendapatkan manfaat yang sangat besar jika Greenland menjadi bagian dari negara kita. Kami akan melindunginya, dan menghargainya, dari dunia luar yang sangat kejam. Bikin Greenland Hebat Kembali,” tulis Trump.
Meskipun menyatakan keprihatinanna atas komentar Trump, Barrot menafikan kemungkinan konflik yang bisa terjadi.
"Jika Anda bertanya kepada saya apakah menurut saya Amerika Serikat akan menginvasi Greenland, jawaban saya adalah tidak. Namun apakah kita sudah memasuki periode di mana yang paling kuat bisa bertahan? Maka jawaban saya adalah ya," katanya.
Denmark sendiri telah menegaskan kembali bahwa Greenland, yang telah menjadi bagian dari kerajaannya selama lebih dari 600 tahun, tidak untuk dijual.
“Saya pikir ini bukan cara yang baik untuk saling berperang dengan cara finansial, ketika kita adalah sekutu dan mitra dekat,” kata Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen.
Meski menyambut baik kepentingan AS di Arktik, Frederiksen menekankan hal itu harus dilakukan "dengan cara yang menghormati rakyat Greenland".
Sementara itu Perdana Menteri Greenland Mute Egede, yang menyerukan kemerdekaan dari Denmark, juga menolak gagasan bergabung dengan AS.

