Iran Kecam Aksi Israel di Suriah, Netanyahu Berkilah Lindungi Warga
TEHERAN, investortrust.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keberadaan tentara Israel di Suriah di tengah pengunduran diri Bashar Assad dari jabatan kepala negara Suriah. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkilah, tindakan tentara Isrrael untuk melindungi warga dan menjaga demarkasi.
Baca Juga
Pemberontak Kuasai Damaskus, Runtuhkan Kekuasaan 50 Tahun Rezim Assad di Suriah
Pezeshkian menyerukan negara-negara Timur Tengah untuk waspada terhadap langkah-langkah Israel terkait dengan rakyat di kawasan, kata kantor Presiden Iran dalam sebuah pernyataan.
Stasiun penyiaran negara Israel, Kan, sebelumnya melaporkan bahwa pasukan Israel (IDF) pada Minggu (8/12) telah menduduki pos Suriah di Gunung Hermon setelah tentara Suriah meninggalkan posisinya di zona penyangga.
Juru bicara IDF dalam bahasa Arab, Avichai Edri, kemudian mengeluarkan peringatan, mengimbau penduduk lima kota perbatasan di Suriah selatan untuk tetap berada di rumah dan tidak keluar demi alasan keamanan.
"Pezeshkian dengan tegas mengutuk tindakan rezim Zionis yang melanggar integritas teritorial Suriah. Ia juga menyerukan kepada semua pihak Suriah serta negara-negara tetangga untuk waspada terhadap penyalahgunaan situasi oleh rezim Zionis untuk memperluas dan menerapkan kebijakan ilegalnya terhadap bangsa-bangsa di kawasan ini," utai kantor Presiden Iran, dikutip dari Antara.
Kepala otoritas pemerintahan Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa perjanjian pemisahan dengan Suriah di Dataran Tinggi Golan, yang dicapai segera setelah Perang Yom Kippur 1973, tidak lagi berlaku karena tentara Suriah telah meninggalkan posisinya.
Netanyahu menegaskan bahwa, bersama dengan kepala pertahanan dan dengan dukungan penuh dari kabinet, ia telah memerintahkan tentara Israel untuk menduduki zona demarkasi dan pos-pos yang mengontrolnya.
Israel secara aktif memperkuat pertahanannya di Dataran Tinggi Golan di tengah jatuhnya Presiden Bashar Assad di Suriah dan perebutan sebagian besar negara tersebut oleh pasukan oposisi bersenjata.
Assad Tumbang, Iran Terpukul
Kelompok bersenjata Suriah telah merebut ibu kota negara Damaskus pada Minggu, yang menandai kejatuhan rezim Assad.
Perdana Menteri Suriah Mohammad Ghazi al-Jalali mengatakan bahwa ia dan 18 menteri lainnya memutuskan untuk tetap berada di Damaskus.
Al-Jalali juga mengatakan bahwa ia telah menghubungi pemimpin kelompok militan yang memasuki kota tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengundurkan diri dan meninggalkan Suriah setelah melakukan negosiasi dengan beberapa pihak yang terlibat dalam konflik Suriah.
Baca Juga
Mendapat Suaka dari Kremlin, Assad Dikabarkan Berada di Moskow
Pada Minggu, sebuah sumber di Kremlin mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Assad dan anggota keluarganya telah tiba di Moskow, dan Rusia telah memberikan suaka kepada mereka atas dasar kemanusiaan.
Sumber tersebut juga mencatat bahwa pejabat Rusia sedang berhubungan dengan perwakilan oposisi bersenjata Suriah, yang pemimpinnya telah menjamin keamanan pangkalan militer Rusia dan institusi diplomatik di Suriah.
Kemajuan yang dialami pemberontak sejak 27 November adalah yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kota-kota Aleppo, Hama, dan Homs jatuh hanya dalam beberapa hari setelah pasukan tentara Suriah mundur. Rusia, Iran, dan kelompok militan Hizbullah dari Lebanon, yang sebelumnya memberikan dukungan penting bagi Assad sepanjang pemberontakan, kini meninggalkannya karena sibuk dengan konflik lain.
Kejatuhan kekuasaan Assad menjadi pukulan besar bagi Iran dan sekutunya, yang telah melemah akibat konflik dengan Israel. Iran, yang selama perang saudara sangat mendukung Assad, menyatakan bahwa masa depan Suriah harus ditentukan oleh rakyatnya tanpa "intervensi asing yang merusak dan memaksa." Kedutaan Besar Iran di Damaskus dijarah setelah ditinggalkan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel telah mengambil alih zona penyangga di Dataran Tinggi Golan yang didirikan pada 1974 untuk melindungi warga Israel setelah pasukan Suriah meninggalkan posisi mereka. Militer Israel juga memperingatkan warga di lima komunitas di selatan Suriah untuk tetap tinggal di rumah demi keselamatan mereka.
Dataran Tinggi Golan, yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dan kemudian dianeksasi, dianggap sebagai wilayah pendudukan oleh komunitas internasional, kecuali Amerika Serikat. Liga Arab pada hari Minggu mengecam apa yang mereka sebut sebagai upaya Israel memanfaatkan kejatuhan Assad untuk memperluas wilayahnya.

