Mendapat Suaka dari Kremlin, Assad Dikabarkan Berada di Moskow
JAKARTA, investortrust.id - Mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, beserta keluarganya dikabarkan tiba di Moskow pada hari Minggu (8/12/2024). Pemberontakan mendadak yang menyapu Suriah memaksa Assad melarikan diri.
Baca Juga
Pemberontak Kuasai Damaskus, Runtuhkan Kekuasaan 50 Tahun Rezim Assad di Suriah
Laporan media pemerintah Rusia menyebutkan bahwa keluarga Assad diberikan suaka oleh Rusia, sekutu dekat rezim Assad.
Sebelumnya, seperti dilansir VOA, kerumunan warga yang bersukacita memenuhi alun-alun ibu kota Suriah, mengibarkan bendera revolusi Suriah yang bersejarah, mengingatkan pada masa awal Pemberontakan Arab Spring sebelum represi brutal Assad dan munculnya pemberontakan bersenjata yang menjerumuskan negara tersebut ke dalam perang saudara selama hampir 14 tahun. Sebagian warga Suriah tampak berdoa di masjid-masjid.
Pasukan pemberontak membuka pintu-pintu penjara di seluruh negeri, membebaskan tahanan politik serta narapidana lainnya yang pernah dipenjara dan disiksa oleh Assad. Sebagian orang menyerbu istana presiden dan kediaman keluarga Assad setelah pria kuat yang digulingkan itu melarikan diri bersama pejabat senior lainnya.
Kejatuhan Assad terjadi dengan sangat cepat. Pasukan pemberontak berhasil merebut kota-kota seperti Aleppo, Hama, dan Homs dalam hitungan hari. Kelompok pemberontak ini dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang berakar dari al-Qaida dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat serta Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebagian orang yang merayakan kejatuhan Assad merobohkan dan merobek-robek potret Assad di istana, sementara yang lainnya membawa keluar barang-barang seperti perabotan dan perlengkapan istana sebagai kenang-kenangan dari runtuhnya pemerintahan.
Video-video menunjukkan warga membakar poster Assad yang tersebar di gedung-gedung Damaskus, sementara yang lainnya berjalan santai melintasi poster-poster dengan wajahnya.
Di jalanan, terdengar seruan "Allah Maha Besar" dan slogan-slogan anti-Assad. Beberapa warga membunyikan klakson mobil, sementara remaja laki-laki memungut senjata yang tampaknya ditinggalkan pasukan keamanan, lalu menembakkannya ke udara.
Tahun-tahun terakhir Assad sejak 2011 ditandai oleh perang saudara yang pahit dan berdarah, menewaskan lebih dari setengah juta warga Suriah serta menyebabkan setengah dari 22 juta populasi pra-perang Suriah menjadi pengungsi.
Kini, nasib Suriah di masa depan tidak menentu. Kejatuhan Assad menjadi pukulan besar bagi Iran, pendukung utama rezimnya, dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah yang tengah terlibat konflik lebih dari setahun melawan Israel. Hizbullah baru-baru ini mencapai gencatan senjata dengan Israel di Lebanon, sementara perang antara Hamas yang didanai Iran dan Israel masih berkecamuk di Gaza.
Pukulan bagi Iran
Kemajuan yang dialami pemberontak sejak 27 November adalah yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kota-kota Aleppo, Hama, dan Homs jatuh hanya dalam beberapa hari setelah pasukan tentara Suriah mundur. Rusia, Iran, dan kelompok militan Hizbullah dari Lebanon, yang sebelumnya memberikan dukungan penting bagi Assad sepanjang pemberontakan, kini meninggalkannya karena sibuk dengan konflik lain.
Kejatuhan kekuasaan Assad menjadi pukulan besar bagi Iran dan sekutunya, yang telah melemah akibat konflik dengan Israel. Iran, yang selama perang saudara sangat mendukung Assad, menyatakan bahwa masa depan Suriah harus ditentukan oleh rakyatnya tanpa "intervensi asing yang merusak dan memaksa." Kedutaan Besar Iran di Damaskus dijarah setelah ditinggalkan.
Baca Juga
Tanggapi Israel, Iran Tegaskan Tak Ingin Berperang tapi akan Membela Rakyatnya
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel telah mengambil alih zona penyangga di Dataran Tinggi Golan yang didirikan pada 1974 untuk melindungi warga Israel setelah pasukan Suriah meninggalkan posisi mereka. Militer Israel juga memperingatkan warga di lima komunitas di selatan Suriah untuk tetap tinggal di rumah demi keselamatan mereka. Dataran Tinggi Golan, yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dan kemudian dianeksasi, dianggap sebagai wilayah pendudukan oleh komunitas internasional, kecuali Amerika Serikat.
Liga Arab pada hari Minggu mengecam apa yang mereka sebut sebagai upaya Israel memanfaatkan kejatuhan Assad untuk memperluas wilayahnya.
Pemberontak dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang berakar dari al-Qaida dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pemimpinnya, Abu Mohammed al-Golani, berusaha menggambarkan kelompok ini sebagai kekuatan moderat dan toleran.
“Golani telah mencetak sejarah dan memunculkan harapan bagi jutaan warga Suriah. Namun dia dan pemberontak menghadapi tantangan besar ke depan,” kata Dareen Khalifa, penasihat senior di International Crisis Group, seperti dikutip CNBC.
Utusan khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, pada hari Sabtu menyerukan pembicaraan mendesak di Jenewa untuk memastikan “transisi politik yang teratur.” Sementara itu, Qatar, yang merupakan mediator regional utama, mengadakan pertemuan darurat dengan delapan negara yang memiliki kepentingan di Suriah, termasuk Iran, Arab Saudi, Rusia, dan Turki. Majed al-Ansari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, mengatakan bahwa mereka sepakat tentang pentingnya melibatkan semua pihak di lapangan, termasuk HTS, dengan fokus utama pada "stabilitas dan transisi yang aman."

