Inflasi PCE AS Oktober Meningkat 2,3% YoY
WASHINGTON, investortrust.id - Inflasi PCE AS meningkat pada Oktober. Data ini menjadi salah satu rujukan bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan Desember.
Baca Juga
Inflasi PCE AS Mendekati Target The Fed, Pemangkasan Suku Bunga Makin Terbuka
Berdasarkan laporan Departemen Perdagangan AS, Rabu (27/11/2024), indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ukuran inflasi yang diutamakan oleh The Fed, naik 0,2% secara bulanan dan meningkat 2,3% secara tahunan (YoY/year on year). Keduanya sesuai dengan perkiraan konsensus Dow Jones, meskipun tingkat tahunan lebih tinggi dibandingkan 2,1% pada September.
Dengan mengecualikan harga makanan dan energi, inflasi inti menunjukkan peningkatan yang lebih kuat, yakni naik 0,3% secara bulanan dan mencatat tingkat tahunan sebesar 2,8%. Kedua angka tersebut juga memenuhi ekspektasi. Tingkat tahunan ini lebih tinggi 0,1 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan harga jasa menyumbang sebagian besar inflasi bulan tersebut, meningkat 0,4%, sementara harga barang turun 0,1%. Harga makanan relatif stabil, sedangkan energi turun 0,1%.
Pembuat kebijakan The Fed menargetkan inflasi tahunan sebesar 2%. Inflasi PCE telah berada di atas target tersebut sejak Maret 2021 dan mencapai puncaknya sekitar 7,2% pada Juni 2022, mendorong The Fed untuk melakukan serangkaian kenaikan suku bunga secara agresif.
Baca Juga
Powell : The Fed Tidak Perlu ‘Terburu-buru’ Turunkan Suku Bunga
Pasar saham, seperti dilansir CNBC, bereaksi beragam setelah laporan ini dirilis, dengan Dow Jones Industrial Average naik sekitar 100 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite keduanya negatif. Imbal hasil obligasi AS turun.
Meski terjadi kenaikan inflasi utama, para trader meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan menyetujui pemotongan suku bunga berikutnya pada Desember. Peluang pengurangan sebesar 0,25% suku bunga acuan bank sentral 66%, menurut alat ukur FedWatch dari CME Group.
Meskipun tingkat inflasi telah turun secara signifikan sejak The Fed mulai mengetatkan kebijakan moneter, inflasi tetap menjadi masalah yang sulit bagi rumah tangga dan berpengaruh besar dalam pemilihan presiden. Meski perlambatan inflasi terjadi dalam dua tahun terakhir, efek kumulatifnya tetap membebani konsumen, terutama bagi mereka yang berada pada skala pendapatan rendah.
Pengeluaran konsumen masih solid pada Oktober, meskipun sedikit menurun dibandingkan September. Pengeluaran dalam dolar saat ini naik 0,4% pada bulan tersebut, sesuai perkiraan, sementara pendapatan pribadi melonjak 0,6%, jauh di atas perkiraan 0,3%, menurut laporan tersebut.
Tingkat tabungan pribadi turun menjadi 4,4%, yang terendah sejak Januari 2023.
Dari sisi inflasi, biaya terkait perumahan terus mendorong angka inflasi meskipun ada ekspektasi bahwa lajunya akan melambat seiring penurunan harga sewa. Harga perumahan naik 0,4% pada Oktober.
The Fed mengikuti berbagai indikator untuk mengukur inflasi, tetapi menggunakan angka PCE secara khusus untuk peramalan dan sebagai alat kebijakan utama. Data ini dianggap lebih luas daripada indeks harga konsumen (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja karena menyesuaikan perilaku pengeluaran konsumen, seperti mengganti barang yang lebih mahal dengan yang lebih murah.
Pejabat The Fed cenderung menganggap inflasi inti sebagai ukuran jangka panjang yang lebih baik tetapi menggunakan kedua angka tersebut dalam mempertimbangkan langkah kebijakan.
Laporan ini dirilis setelah dua kali pemotongan suku bunga berturut-turut oleh The Fed pada September dan November, dengan total penurunan sebesar 0,75%.
Baca Juga
Powell dan Trump Berpotensi Bertabrakan dalam Kebijakan Suku Bunga
Pada pertemuan November, pejabat The Fed menyatakan keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target 2%, meskipun anggota mendukung pengurangan suku bunga secara bertahap sambil mengakui ketidakpastian mengenai berapa banyak pengurangan yang diperlukan.

