Harris atau Trump yang Menang? Siapa Penentunya?
JAKARTA, investortrust.id – Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan Calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Kamala Harris dan Donald Trump dari Partai Republik bersaing semakin ketat. Menjelang pilpres 5 November waktu setempat, bagaimana peta persaingannya?
“Harris dan Trump saat ini bersaing ketat. Harris sekarang unggul 7-10 electoral college. Sementara yang swing masih ada 10 negara bagian, di sini yang kuat ke Trump. Tapi, bisa juga terbagi rata jumlah electoral college-nya dengan Harris, dan Harris hanya unggul tipis dari Trump 275 electoral college,” kata Kepala Biro Luar Negeri IKA Unpad Yophiandi Kurniawan kepada Investortrust.id, Jakarta, Senin (4/11/2024) malam.
Baca Juga
Trump-Harris Bersaing Ketat, Kurs Rupiah Ditutup Semakin Loyo
Ketua Bidang Luar Negeri JMSI ini menjelaskan, ada tiga faktor utama Harris -- yang kini wapres AS mendamping Presiden AS Joe Biden dari parta yang sama -- bisa menang. Pertama, sentimen perempuan, sentimen kulit berwarna, serta sentimen elite ekonomi global dan perkotaan.
Sedangkan tiga faktor utama yang bisa membuat Trump menang adalah, pertama, di pertanian lebih konkret. Kedua, swasta yang lebih bebas, di mana Trump yang berlatar belakang pengusaha bisa memberikan insentif sebagai kompensasi suku bunga The Fed. Ketiga, sentimen laki-laki -- di negara yang mengklaim ‘kiblat’ demokrasi -- yang tidak ingin ada dominasi perempuan di politik.
“Iya, sentimen gender menguat di Trump dan Harris,” tandas Pengajar di Institut Media Emtek ini.
Faktor Buruh Justru Bisa Kalahkan Harris
Sementara itu, analisis Yophi, faktor yang bisa mengalahkan Harris justru karena kalangan buruh terbelah. Juga, kelompok pro-Palestina di kelompok kulit berwarna.
“Lebih kepada sentimen ke Biden sebenarnya, tapi ya Harris kan perwakilan Biden juga. Harris akan kalah, kalau blundernya tetap disikapi buruk oleh kelompok berwarna dan buruh yang terpecah. Kalau tidak blunder, Harris menang tipis,” ucapnya.
Kalau Harris blunder, lanjut Yophi, Trump menang besar. Mantan Presiden AS ini bisa mengantongi sekitar 280 electoral college.
“Ini karena kantong swing-nya ada di daerah yang memenangkan Trump pada 2016. Juga memberikan popular vote besar buat Trump pada 2020, meski kalah,” tutur Yophi.
Baca Juga
Bila Harris Menang, Rupiah, IHSG, hingga Obligasi bakal Terangkat
Faktor lain yang akan berpengaruh, lanjut dia, Harris harus ‘menggendong’ Biden dengan kebijakannya yang tidak proburuh. Sementara, Trump justru menggandeng JD Vance sebagai calon wakil presiden pasangannya. Vance merupakan senator Ohio yang kuat di kalangan pekerja pabrik.
“Trump juga diuntungkan dengan pendukung yang tadinya terbelah kini solid, dengan masing-masing pemilih yang kuat. Salah satunya Niki Halley yang semula jadi penantang kuat Trump di Republik, tapi Halley sekarang mendukung penuh Trump. Halley mungkin bakal jadi menlu di kabinet Trump dan jadi kandidat capres di 2028,” urainya

