Bila Harris Menang, Rupiah, IHSG, hingga Obligasi bakal Terangkat
JAKARTA, investortrust.id – Bila Calon Presiden Amerika Serikat Kamala Harris menang pilpres 5 November besok waktu setempat, maka akan menekan indeks dolar melemah, kemudian US Treasury yield. Hal berpotensi mendorong terjadi capital inflow, sehingga membantu penguatan rupiah, harga obligasi di dalam negeri, dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. IHSG hingga akhir tahun ini berpeluang kembali menembus 7.806, dibanding posisi pada Senin (4/11/2024) sore yang ditutup melemah ke 7.479,86.
"Kalau sebaliknya (yang menang capres AS Donald Trump), ya, efeknya akan jadi berkebalikan. Hari ini, IHSG masih terkoreksi 0,34% ke level 7.479,86, melanjutkan pelemahan sepekan lalu dengan total sebesar 2,46%," kata Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta kepada Investortrust.id, Jakarta, Senin (4/11/2024).
Baca Juga
Di sisi lain, ia yakin akan terjadi penguatan kembali IHSG, yang diperkirakan akan mulai terjadi bulan ini. Hal itu didukung aksi window dressing oleh sejumlah manajemen investasi, sebelum menyambut Santa Claus Rally pada Desember 2024.
Namun demikian, Nafan menganalisis, IHSG masih berpeluang melemah sampai ke titik 7.450. “Kalau IHSG masih di bawah itu, maka kemungkinan depresiasi akan terbuka lebar. Kecuali IHSG ditutup di atas 7.450, masih ada harapan untuk potensial upside karena pergerakan IHSG dalam daily short itu di keadaan sideways sebenarnya,” ujar Nafan.
Wait and See
Menurut dia, pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen global terkait dinamika pemilihan presiden AS yang diliputi konsensus pasar modal, antara kubu yang menginginkan Trump menang dan tidak. Ketidakpastian di negara adidaya tersebut, membuat sejumlah investor menerapkan prinsip wait and see.
“Makanya, ini tentunya mengimplikasi pada pelemahan IHSG hari ini,” tandas Nafan.
Baca Juga
Emas Batangan Antam Stagnan, Dibanderol Rp 1.539.000 per Gram
Ia memaparkan, per posisi Jumat (1/11/2024), indikator global juga menunjukkan sentimen yang cenderung negatif bagi pasar obligasi. Ini tergambar dari peningkatan yield US Treasury (UST) dan level Credit Default Swap (CDS) Indonesia.
Yield curve UST 5 tahun meningkat sebesar 7 basis points (bps) menjadi 4,22%, dan yield curve UST 10 tahun meningkat sebesar 9 bps menjadi 4,37%. Sementara itu, CDS 5 tahun Indonesia meningkat sebesar 2 bps menjadi 72 bps.
Sedangkan dari domestik, Nafan menyebut pelaku pasar menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia (produk domestik bruto/PDB) kuartal III-2024 yang diprediksi melandai. Sebab, pada periode itu, pemilu di Indonesia telah berakhir dan menyebabkan tingkat pengeluaran masyarakat maupun pemerintah kembali ke kondisi normal.
Daya Beli Kembali Naik
Di sisi lain, inflasi Indonesia periode Oktober secara tahunan menurun ke 1,7% (yoy) dari 1,8% (yoy) pada September, di tahun yang sama. Hal ini menjadi level terendah sejak September 2021.
Sementara itu tingkat inflasi inti naik menjadi 2,2% (yoy) dan menjadi level tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Hal ini menunjukkan daya beli yang meningkat.
Menurut Mirae Asset Sekuritas Indonesia, inflasi yang tergolong moderat pada Oktober mungkin tidak cukup mendorong BI untuk menurunkan suku bunga bulan ini. Keputusan tersebut akan lebih bergantung pada respons rupiah terhadap hasil pemilu AS dan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) mendatang.
"Dengan siklus pelonggaran The Fed yang memperkuat rupiah terhadap dolar AS, yakni 4,3% sejak Juni 2024, tekanan yang dipicu impor diperkirakan akan ikut mereda. Kami memperkirakan inflasi akan tetap di bawah 2% hingga 2024, dengan asumsi stabilitas rupiah berlanjut, yang mendukung prospek inflasi yang terkendali,” ucap Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Karinska Salsabila Priyatno.

