Ratusan WNI Ogah Dievakuasi dari Lebanon, Kemlu Ungkap Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) ungkap alasan ratusan WNI yang memilih untuk tetap bertahan di Lebanon meskipun konflik antara Israel dengan kelompok milisi Hizbullah makin memanas.
Menurut Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha, setidaknya masih ada 116 WNI yang memilih untuk bertahan di Lebanon. Sebagian di antaranya merupakan mahasiswa yang terancam putus kuliah apabila meninggalkan Lebanon.
Beberapa perguruan tinggi di Lebanon masih diketahui belum meningkatkan status keamanannya, khususnya perguruan tinggi yang berada di wilayah Lebanon bagian utara.
"Bagi yang mahasiswa khususnya bagi yang kuliah di wilayah Lebanon Utara yang wilayah yang relatif aman. Jadi memang minimal ada serangan Israel di sana, pihak kampus memang belum menetapkan status level. Jadi mereka khawatir kalau ikut evakuasi nanti dianggap putus kuliah," katanya dalam konferensi pers yang digelar di Kemenlu, Jakarta Pusat, Jumat (4/10/2024).
Baca Juga
Kemlu Ungkap Nasib 1.232 Pasukan TNI Misi Perdamaian di Lebanon, Diminta Pulang?
Selain itu, Judha menyebut beberapa WNI juga mengkhawatirkan adanya kendala proses administrasi keimigrasian apabila mereka ikut rombongan evakuasi Kemenlu. Mereka diketahui sebelumnya melakukan pelanggaran prosedur keimigrasian ketika masuk ke Lebanon.
"Jadi akhirnya kan kalau kita melakukan evakuasi to some extend di titik perbatasan kita akan melalui checkpoint imigrasi. Nah harus ada exit permit yang sudah diurus di imigrasi yang ada di Beirut. Nah pada saat kita membantu memproses imigrasi di Beirut ternyata mereka melakukan pelanggaran keimigrasian. Nah ini perlu waktu," paparnya.
Judha menjelaskan 116 WNI yang masih bertahan di Lebanon tersebar di sejumlah kota mulai dari Beirut 83 orang; Baabda 4 orang; Lembah Bekaa 5 orang. Selanjutnya, Byblos 3 orang; Tripoli 13 orang; Akkar 4 orang; Tyre tiga orang; dan Saida 1 orang.
Dia berharap WNI yang masih bertahan di Lebanon untuk segera mengikuti arahan perwakilan RI setempat atau Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut untuk tidak menunda evakuasi. Sebab, jika situasi memburuk dan perang terbuka pecah, kemampuan Kemenlu untuk melakukan evakuasi akan sangat terbatas.
Baca Juga
“Ikuti semua arahan rencana kontingensi yang sudah disampaikan oleh KBRI Beirut, termasuk kalau ada permintaan untuk evakuasi, mohon jangan ditunda-tunda sampai situasi semakin memburuk,” tegasnya.
Terkait dengan perkembangan situasi di Lebanon, pada Jumat (4/10/2024) tentara Israel melakukan serangan yang menargetkan daerah Masnaa di Lebanon timur untuk memutuskan arus jalan lintas batas yang menghubungkan antara Lebanon dan Suriah, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon atau National News Agency (NNA).
Serangan tersebut terjadi setelah Tel Aviv menuding bahwa Hizbullah berupaya menyelundupkan senjata melintasi perbatasan. Perlintasan Masnaa terletak di wilayah Bekaa di Lebanon timur dan kerap dianggap sebagai salah satu titik perlintasan terpenting antara Lebanon dan Suriah.
Sedikitnya 1.947 orang tewas, hampir 9.400 orang terluka, dan 1,2 juta orang lainnya mengungsi akibat memanasnya konflik Israel dan Hizbullah, menurut pihak berwenang Lebanon.

