Harga Produsen AS Stagnan, The Fed Diperkirakan Tak Akan Naikkan FFR pada September
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id – Tekanan harga di tingkat produsen Amerika Serikat (AS) tidak berubah pada Juli 2026. Hal ini memberikan sinyal positif bagi prospek inflasi, sekaligus menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Baca Juga
Inflasi AS Melandai Imbas Penurunan Biaya Energi, Tekanan Kenaikan Bunga Mereda?
Bureau of Labor Statistics (BLS), Kamis (13/8/2026), melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) tidak berubah atau 0% pada Juli secara bulanan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,2%. Pada Juni, PPI sebelumnya dilaporkan turun 0,3%, namun kemudian direvisi menjadi penurunan 0,1%.
Tidak termasuk makanan dan energi, PPI inti naik 0,2% pada Juli, juga lebih rendah dari perkiraan kenaikan 0,3%. Sementara itu, PPI inti yang tidak memasukkan layanan perdagangan meningkat 0,4%.
Secara tahunan, PPI utama meningkat 4,7%, sedangkan PPI inti naik 4,2%.
Data harga produsen Juli memperkuat sejumlah indikator terbaru yang menunjukkan tekanan inflasi AS mulai mereda. Angka inflasi AS sempat meningkat tajam pada awal tahun akibat perang Iran dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
"Secara keseluruhan, tekanan harga dalam rantai produksi pada tahap yang lebih rendah tidak menambah risiko inflasi yang dihadapi konsumen," kata Chris Rupkey, kepala ekonom Fwdbonds, dikutip CNBC.
Menurut dia, tidak adanya kenaikan harga permintaan akhir PPI selama dua bulan berturut-turut merupakan kabar baik bagi konsumen AS yang masih menghadapi tekanan biaya hidup.
Imbas Harga Energi
Pergerakan harga barang dan jasa menjadi faktor penting di balik stagnannya PPI Juli.
Biaya jasa meningkat 0,2% selama bulan tersebut. Salah satu pendorongnya adalah lonjakan 6,5% pada biaya pengelolaan portofolio, kategori yang cenderung mengalami kenaikan besar pada bulan pertama setiap kuartal karena faktor pelaporan.
Sebaliknya, harga barang turun 0,7%.
Penurunan tersebut terutama didorong harga energi yang merosot 3,1%, termasuk penurunan 5,7% pada indeks bensin. Harga makanan juga turun 0,9%, meskipun harga barang inti masih meningkat 0,1%.
Perkembangan tersebut menjadi tambahan kabar positif setelah sehari sebelumnya BLS melaporkan inflasi konsumen juga relatif terkendali.
CPI AS meningkat hanya 0,1% pada Juli secara bulanan, sementara inflasi tahunan berada di 3,4%. Inflasi inti naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan.
Meski inflasi tahunan headline masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%, data tersebut menunjukkan tekanan harga mulai kembali ke level sebelum perang.
Pasar Ubah Ekspektasi Fed
Rangkaian data tersebut membuat pasar mengubah perkiraan terhadap kebijakan moneter AS.
Dalam beberapa hari terakhir, investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga (FFR/Fed fund rate)) pada pertemuan FOMC 15-16 September. Pasar kini semakin memperkirakan jika kenaikan suku bunga terjadi, kemungkinan waktunya bergeser ke Oktober atau Desember.
Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah sebelumnya pasar memberikan peluang besar bagi kenaikan suku bunga pada September.
Baca Juga
Redam Inflasi, Presiden The Fed Minneapolis Dorong Kenaikan Suku Bunga Bertahap
Para pejabat The Fed masih menghadapi dilema. Beberapa pejabat mendorong kenaikan suku bunga untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%. Namun, data CPI dan PPI terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda.
Data pasar tenaga kerja juga menjadi pertimbangan. Klaim awal tunjangan pengangguran AS meningkat menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus, naik 9.000 dari pekan sebelumnya dan lebih tinggi dari perkiraan 204.000.
Kombinasi inflasi yang melandai dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja membuat kenaikan suku bunga menjadi semakin sulit untuk segera dilakukan.
Dengan demikian, perhatian investor kini tertuju pada data inflasi dan ketenagakerjaan berikutnya menjelang rapat The Fed pada September.

