FFR Diperkirakan Bertahan di Level 3,75% Hingga Akhir Tahun 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) akan bertahan di level 3,75% sepanjang 2026, seiring inflasi konsumen AS yang masih tinggi dan sikap bank sentral AS yang tetap cenderung ketat atau hawkish. Ekspektasi tersebut menandakan pasar belum melihat urgensi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun sejumlah indikator ekonomi AS mulai menunjukkan pelemahan.
Hal itu tergambar dalam BRI Weekly Economic Update W3 April 2026 yang disusun oleh Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, dan diterbitkan Senin (20/04/2026). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pasar masih menempatkan skenario FFR bertahan di 3,75% sebagai baseline sepanjang 2026, sama seperti pekan sebelumnya.
Menurut laporan itu, ekspektasi pasar yang tercermin dalam CME FedWatch masih menunjukkan probabilitas dominan, yakni di atas 65%, bahwa The Fed akan mempertahankan FFR di level tersebut hingga akhir tahun. Sementara itu, Fed Fund Futures per 19 April 2026 menempatkan FFR pada akhir 2026 di kisaran 3,50% dan pada akhir 2027 di 3,25%, sehingga ruang penurunan suku bunga diperkirakan tetap terbatas.
Pandangan tersebut sejalan dengan masih hawkish-nya sikap para pejabat The Fed. BRI mencatat, pada pekan ketiga April 2026, sebanyak 14 dari 18 anggota Dewan Gubernur The Fed masih berada di zona netral hingga hawkish, sama seperti pekan sebelumnya. Rata-rata indeks NLP The Fed juga hanya turun tipis menjadi 5,76 dari 5,86 pada pekan sebelumnya, menandakan perubahan sikap yang sangat terbatas.
Di sisi lain, ekonomi AS memang mulai memperlihatkan tanda-tanda moderasi. Laporan BRI mencatat bahwa indeks optimisme bisnis kecil AS termoderasi pada Maret 2026, sentimen konsumen melemah pada April 2026, dan pertumbuhan produksi industri AS melambat pada kuartal I-2026. Namun, pelemahan ekonomi itu belum cukup kuat untuk mengubah pandangan pasar secara cepat karena tekanan inflasi masih tinggi.
Tekanan harga terlihat dari meningkatnya ekspektasi inflasi konsumen AS, khususnya untuk satu tahun ke depan, yang naik menjadi 4,8% pada April 2026 dari 3,8% pada Maret 2026. Kombinasi antara pelemahan pertumbuhan dan inflasi yang masih tinggi menciptakan situasi yang rumit bagi The Fed. Di satu sisi, ekonomi mulai kehilangan momentum, tetapi di sisi lain tekanan harga belum sepenuhnya jinak.
Baca Juga
‘Wait and See’, The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga hingga Akhir Tahun
Karena itu, pasar menilai bank sentral AS akan tetap berhati-hati dalam melakukan normalisasi suku bunga. Dengan kata lain, skenario higher for longer masih menjadi pandangan dominan, di mana suku bunga diperkirakan bertahan tinggi lebih lama untuk memastikan inflasi benar-benar terkendali.
Bagi pasar keuangan global, ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi ini berpotensi menjaga yield obligasi global tetap tinggi, memperketat kondisi likuiditas, dan menahan aliran modal ke negara berkembang (emerging markets). Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar dan volatilitas pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai, termasuk di Indonesia.
Dalam konteks domestik, kondisi ini ikut menjelaskan mengapa Bank Indonesia masih melanjutkan operasi moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas rupiah. Yield SRBI dipertahankan tetap atraktif, sementara pasar juga memperkirakan BI-Rate akan kembali ditahan pada Rapat Dewan Gubernur BI 22 April 2026. Artinya, arah suku bunga global yang masih tinggi ikut membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter di dalam negeri.
Dengan demikian, pesan utama laporan ini cukup jelas: pasar belum melihat ruang besar bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Selama inflasi AS masih tinggi dan sikap pejabat The Fed tetap hawkish, FFR diperkirakan akan bertahan di level 3,75% hingga akhir 2026, dengan implikasi lanjutan bagi arus modal, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan global maupun domestik.

